logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 29 September 2005 WACANA
Line

Surat Pembaca

Wana Artha Life

Saya nasabah Wana Artha Life Purwodadi yang karena sesuatu hal nasabah perorangan dialihkan ke Cabang Solo. Jatuh tempo klaim asuransi saya 4 Desember 2004 namun sampai sekarang belum menerima pembayarannya. Saya bersabar menunggu 9 bulan dan menanyakan ke Cabang Solo.

Jawabannya, karena setoran premi saya ada masalah maka belum diproses. Lucunya setoran premi yang bermasalah terjadi bulan Juni 2001 s.d April 2002, Agustus 2003 s.d November 2003 dan Februari 2004 yang seharusnya sudah diketahui jauh hari sebelumnya. Saya imbau masyarakat agar berhati-hati memilih asuransi semanis apa pun janjinya.

Bambang Setiono
Jl Gajahmada 14 Purwodadi

***

Budi Pekerti dan Ucapan Terima Kasih

Perilaku siswa seperti yang dikeluhkan Sdr Agus Salim Tambakaji Semarang beberapa waktu lalu bisa jadi akibat minimnya pendidikan budi pekerti di sekolah. Bahkan mungkin banyak keluarga /orang tua yang kurang perhatian terhadap pendidikan budi pekerti putra-putrinya.

Keadaan ini "diperberat" lagi oleh perkembangan tayangan TV dan bacaan yang cenderung lebih mengutamakan keuntungan materiil daripada penyampaian nilai-nilai moral yang diperlukan bagi pembentukan pribadi generasi muda.

Di samping itu tidak sedikit orang yang rnerancukan antara pendidikan agama dengan budi pekerti, padahal kedua jenis pendidikan tersebut berbeda meski ada unsur kesamaannya. Waktu saya kecil, bila menerima pemberian dari siapa pun, wajib mengucapkan matur nuwun (terima kasih ).

Kebiasaan sepele tersebut lama-larna terpola dalam perilaku sehari-hari. Saya tidak tahu apakah orang tua/guru sekarang masih membiasakan hal-hal sepele seperti itu atau tidak. Sebab pendidikan budi pekerti sebenarnya tidak sulit. Kuncinya harus dilakukan sejak usia dini, dimulai dari hal-hal kecil.

Juga dibentuk melalui pembiasaan (kebiasaan akan menjadi sifat). Orang tua/guru harus proaktif membiasakan anak didik berperilaku sesuai norma/etika yang berlaku dalam masyarakat beradab. Hal lain yang penting dalam pendidikan budi pekerti adalah perilaku para guru/orang tua yang dijadikan contoh/panutan anak didik.

Mudah-mudahan pendidikan budi pekerti bagi generasi rnuda rnakin mendapat perhatian di lingkungan sekolah dan keluarga.

JW Wardoyo
Jl Kelud Utara 16 Petompon, Semarang

***

Kecewa Beli Hp

Tanggal 12 September 2005 saya ingin membeli 2 HP CDMA merk terkenal di toko Akar Daya Jl Sriwijaya 71 Semarang. Pertimbangannya, garansi resmi dan harga lebih murah. Tetapi saya kecewa atas pelayanannya. Pertama, salah satu dari Hp yang saya inginkan ternyata tidak ready stock.

Padahal sebelumnya via telepon, dinyatakan ada. Kedua, begitu saya datang dengan bantuan tongkat penyangga akibat kecelakaan, saya merasa tidak di- uwong-ke. Waktu itu ada 2 customer care, seorang melayani pembeli lain, yang satunya seharusnya melayani saya.

Saya menunggu cukup lama berharap dapat segera dilayani, karena dia telah tahu kehadiran saya. Akhirnya saya malah dilayani petugas yang "sibuk" tadi. Bagi saya tidak masalah, namun kemudian merasa dirugikan karena petugas tersebut tidak dapat menjelaskan spesifikasi dari Hp yang saya inginkan.

Sejujurnya, saya tahu dan sudah menyurvei dari internet. Saya hanya ingin mencocokkan. Kenyataan di luar dugaan. Mulai dari pelayanan yang kurang ramah, lalu product knowledge dia juga lemah. Saya merasa dibohongi karena setelah saya bayar dan dibuka oleh si petugas masih di toko ternyata Hp tersebut tidak memiliki bahasa Indonesia.

Menurut hemat saya, sungguh sangat melecehkan etika jual beli, ketika seseorang penjual tidak dapat (baik disengaja/tidak) memberitahukan spesifikasi dari produk yang dijual. Seandainya dia memberitahu bahwa 2280 memakai tulisan mandarin dan tidak bisa bahasa Indonesia mungkin saya membeli tipe lain.

Sejujurnya walau saya orang Chinese, saya tidak bisa bahasa Mandarin. Mohon maaf kalau ada pihak yang kurang berkenan. Tujuan ini agar pembeli tidak sering dan terus-menerus diperlakukan tidak adil.

Eduard Christianto S
Jl Tanggul Mas XI/467 Semarang

***

Wani Ngalah Luhur Wekasane

Adakah orang Jawa yang masih menggunakan peribahasa ini? Sebab kenyataannya wani ngalah malah wani rekasane. Buktinya di zaman sesulit ini, tidak masalah bagi orang-orang tertentu terutama para pejabat (bangsawan) dan pengusaha.

Kesulitan hanya jatahnya orang kecil, kaum buruh dan petani. Orang besar makan di restoran, beli kapling, bangun rumah mewah atau ke luar negeri. Dalam hati, saya bertanya dari mana mereka dapat uangnya. Saya punya kenalan seorang Malaysia yang sedang mengembangkan usaha MLM di sini.

Ketika saya katakan Indonesia masih krisis dia bilang saya salah. Dia menunjukkan bukti bandara di mana-mana selalu penuh, restoran mewah dan mahal pun penuh. Bahkan ketika hendak makan di La-Guna (sebuah restoran mewah) di Jakarta, dia harus antre di depan pagar.

Di jalanan mobil built-up mewah berseliweran. Di mana ada krisis, dia balik bertanya. Itu kan Anda saja yang malas bekerja, lanjutnya. Saya jadi terbengong. Kenapa orang Malaysia justru lebih tahu dari saya. Tetapi ketika penyelundupan minyak melalui pipa bawah laut terbongkar, saya mulai paham.

Ternyata begitu cara bapak-bapak kita mencari uang. Mengapa setelah 20 tahun baru terbongkar. Jawabnya, wani ngalah tetep rekasane. Jaringan mafia memang sangat rapi dan rakyat tidak akan pernah tahu kecuali pejabat. Sebab anggota mafianya ya para pejabat sendiri.

Ketika penguasa berani mengambil risiko untuk tidak terpilih kembali menjadi presiden, maka baru kasus ini dibongkar. Sebab biasanya sumber dana kampanye terbanyak diperoleh dari pejabat yang punya akses untuk ekspor ilegal seperti itu dengan jaminan usaha kotornya dapat tetap terlindungi.

Baiklah, nasi sudah menjadi bubur. Sekarang mari tuntaskan bersama masalah penyelundupan ini dengan baik. Yang salah harus dihukum yang melanggar didenda. Jangan ada lagi penyidik yang main-main dengan 86. Jaksa dan hakim pun juga harus mulai jujur jika tidak ingin masuk penjara.

Jika sekarang sudah terlanjur kaya, tolong introspeksi diri dari mana harta itu. Adakah dari memeras orang yang terkena masalah atau punya usaha sampingan. Jika diperoleh dari cara yang tidak baik, segeralah bertobat. Ingat wani ngalah bakal luhur wekasane (dunia-akherat).

Daryoso
Jl Tusam 1396, Semarang

***

Arena Maksiat

Bulan Ramandan segera tiba dan seperti biasa keluaran imbauan pemerintah siap tegas menutup tempat hiburan, khususnya yang berkonotasi kemaksiatan. Di Jakarta, Front Pembela Islam (FPI) tak segan-segan melakukan tindakan fisik menutup langsung tempat maksiat tersebut yang dilakukan tahun lalu dan tahun yang datang.

Bagaimana jika para pengusaha hiburan tetap membuka usahanya, tentu kewajiban aparat menindak. Jika aparat tak bergerak, masyarakat jadi geram, merasa geregetan siap menutup bisnis itu. Siapa yang salah? Aparat yang pro arena maksiat dan pasti akan menyalahkan rakyat yang dianggapnya main hakim sendiri. Persoalan yang mengganjal, menjelang Ramadan selalu menguras pikiran dan tenaga. Setiap Ramadan sarana hiburan jadi "PR" seluruh ummat Islam. Diakui momentum untuk "menyikat' tempat maksiat ada menjelang Ramadan. Pemerintah perlu menertibkan tempat maksiat tak hanya di bulan Ramandan tapi seterusnya.

Sebaiknya adakan seminar nasional untuk menyelesaikan persoalan ini yang setiap tahun jadi ganjalan. Dengan demikian yang bergerak tak hanya FPI. Mari bergerak bersama membantu pemerintah memerangi maksiat yang terlanjur tumbuh subur.

Amar Makruf
Purwogondo, Kalinyamat, Jepara


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA