| Kamis, 29 September 2005 | WACANA |
Model Pembelajaran E-learningOleh: Nur Kholis - Mahasiswa Fakultas Ekonomi UnissulaSATU hal tak dapat dipungkiri bahwa internet merupakan sebuah media yang begitu urgen kedudukannya di tengah-tengah perkembangan teknologi informasi sekarang ini. Bagi mahasiswa dan sivitas akademika pada umumnya, internet bukan hanya sebuah piranti yang dapat mempemudah sistem kerja, tetapi juga telah menjadi citra intelektual tersendiri. Untuk saat ini dan ke depan, tampaknya budaya akademik yang berbasis internet akan menjadi tren yang semakin digandrungi. Internet akan memainkan peran yang sangat penting karena teknologi informasi tersebut akan dikembangkan menjadi sebuah media pembelajaran (e-learning). Itu artinya, kehadiran internet telah menimbulkan perubahan paradigma dalam proses pembelajaran di kampus. Model pembelajaran e-learning tentu saja tidak bisa secara radikal menggantikan sistem pembelajaran konvensional, yang memang mensyaratkan pertemuan face to face di antara dosen dan mahasiswanya. Namun demikian, sistem e-learning dengan segala kosekuensi kelemahan dan keunggulannya tentu bisa menjadi penyempurna sistem pembelajaran konvensional yang sudah ada. Fasilitas internet akan sangat membantu interaksi pembelajaran di antara dosen dan mahasiswa, meskipun berbeda waktu (different time) dan berbeda tempat (different place). Model pembelajaran seperti itu tentu sangat efisien dan efektif, khusunya dalam pembuatan dan panyampaian berbagai tugas yang dibebankan oleh dosen pada para mahasiswa. Keberadaan internet membuat berbagai tugas dan makalah tidak selau identik dengan lembaran folio maupun sobekan - sobekan kertas. Para mahasiswa pun bisa mengirimkan tugas - tugas tersebut melalui e-mail ke dosen yang bersangkutan. Keberadaan internet tenyata tidak hanya berpengaruh pada model pembelajaran saja melainkan juga telah menciptakan beberapa pergeseran persepsi di dalam kampus. Pertama, persepsi tentang perpustakaan kampus. Keberadaan perpustakaan sebagai gudangnya ilmu pengetahuan memang sudah diakui eksistensinya sejak lama. Sebagai gudangnya ilmu pengetahuan, perpustakaan kampus memang sangat vital fungsinya dalam menunjang proses pembelajaran. Namun pada umumnya perpustakaan kampus saat ini juga berfungsi sebagai penyedia layanan internet gratis bagi mahasiswa. Kedua, internet sebagai substitusi buku. Alasan aktualitas informasi, efisiensi dan kepraktisan, telah membuat internet menjadi substitusi buku silabi yang dapat diandalkan. Fenomena tersebut akan semakin menarik ketika seorang mahasiswa sedang mendapat tugas membuat makalah maupun skripsi. Pasalnya, saat ini banyak dosen yang telah mensyaratkan disertakannya referensi serta data - data dari intemet sebagai pelengkap data - data maupun referensi dari berbagai buku. Intemet sebagai substitusi buku juga bisa dimaknai internet sebagai sumber ilmu pengetahuan dalam skala yang lebih luas cakupannya dari pada sekadar buku. Ketiga, internet sebagai sebuah kompetensi. Ideal tidaknya seorang mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh nilai maupun keaktifan mahasiswa tersebut dalam organisasi kampus, namun kecakapan serta keakraban seorang mahasiswa dalam berinteraksi dengan internet juga telah menjadi bagian penting, yang pada akhirnya juga bisa dijadikan sebagai sebuah parameter idealitas mahasiswa. Bukan suatu hal yang mustahil bila di masa - masa mendatang internet akan membuat perubahan - perubahan yang lebih dramatis, baik di dunia akademik maupun dunia kerja pada umumnya. Dan tampaknya hal itulah yang mulai diantisipasi perguruan tinggi kita dengan memasukkan information technology ( IT ) menjadi mata kuliah wajib bagi semua mahasiswa. Antisipasi dini ini tentu saja sangat sinkron dengan tuntutan dan paradigma yang berkembang di dunia kerja saat ini. Sebagai salah satu buktinya adalah digunakannya media internet oleh sebagian besar perusahaan, baik yang berskala nasional maupun internasional ketika membuka lowongan pekerjaan maupun prosedur perekrutannya. Itu artinya, pendidikan tinggi kita mempunyai tanggung jawab moral untuk membekali para mahasiswanya dengan kecakapan penguasaan internet, dalam menghadapi tuntutan dunia kerja yang semakin kompetitif dewasa ini. Berbagai fenomena tersebut tentu semakin membuktikan bahwa keberadaan internet telah membawa perubahan besar dalam dunia sivitas akademika, baik dalam persepsi maupun paradigma. (24) |