logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 29 September 2005 SEMARANG
Line

Jangan Tegang saat Anak Kejang

SEMARANG - Kejang akibat demam pada anak balita merupakan peristiwa darurat dalam rumah tangga yang sering terjadi. Banyak orang tua tegang dan panik menghadapi kondisi demikian. Pertolongan yang diberikan pun kadang keliru. Akibatnya, kondisi anak justru kian parah.

Dokter spesialis anak, JC Susanto SpAK, seusai menjadi pembicara dalam seminar ''Kedaruratan dalam Rumah Tangga'', Rabu (28/9), di Hotel Ciputra, menuturkan berbagai kekeliruan yang kerap orang tua lakukan.

Dia mencontohkan, pada saat anak mulai demam, biasanya orang tua justru menyelimuti atau memakaikan baju hangat. Mereka mengira dengan cara itu, anak bisa mengeluarkan keringat dingin dan demam pun turun. ''Padahal cara itu keliru,'' ujar dia.

Seharusnya upaya pertama adalah menurunkan panasnya. Caranya, antara lain dengan menyiram badan anak itu dengan air dingin sampai panasnya turun. Upaya menjaga agar suhu tubuh anak itu tidak naik lagi, dapat dilakukan dengan mengompres.

Dia juga menganjurkan pemberian obat penurun panas, seperti Paracetamol. Hanya obat tersebut boleh diberikan setiap empat jam. Jika panas anak bisa muncul kembali sebelum empat jam, dia menyarankan, pemberian obat turun panas lain, misalnya Feninbutason.

Selain Susanto, pakar kesehatan keluarga dokter Anies Mkes juga menjadi pembicara dalam seminar yang diselenggarakan PMI Daerah Jateng bersama Tabloid Cempaka Minggu Ini dan Suara Merdeka itu.

Tidak Paham

Pemred Cempaka Prie GS yang hadir sebagai moderator, siang itu membawa seminar tersebut dalam suasana santai. Lelucon-lelucon yang dia lontarkan sering membuat hadirin tertawa terbahak-bahak.

Sementara itu dokter Anies mengungkapkan, banyak orang di Indonesia saat ini tidak memahami kedaruratan yang terjadi dalam rumah tangga. Gawat darurat dalam rumah tangga sering menimbulkan reaksi panik. Akibatnya, pertolongan yang diberikan pun kadang tidak tepat. ''Untuk itu, harus diupayakan agar penolong bersikap tenang dan korban juga ditenangkan,'' ujar dia.

Menurut keterangan dia, setiap pertolongan pertama seharusnya bertujuan untuk mempertahankan penderita agar tetap hidup. Selain itu, juga menjaga agar cedera yang dialami tidak makin parah menjaga agar kondisi tetap stabil, mempercepat penyembuhan, mengurangi rasa nyeri, cemas, dan ketidaknyamanan.

Anies mengatakan, beberapa kejadian gawat darurat dalam rumah tangga, yaitu asma, shock, serangan jantung, stroke, perdarahan, gigitan dan sengatan, luka bakar, dan keracunan. ''Pemahaman masyarakat tentang gawat darurat masih rendah, antara lain karena masih ada anggapan hal itu tanggung jawab petugas kesehatan,'' ungkap dia. (G6-18j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA