| Kamis, 29 September 2005 | KEDU & DIY |
Infotainment Alihkan Perhatian
YOGYAKARTA - Tayangan televisi tentang dunia artis dan para tokoh yang dikenal dengan istilah infotainment menurut Dr Hedi Pudjo Santosa MSi untuk mengalihkan perhatian masyarakat terhadap realitas kehidupan. Masyarakat dijauhkan dari persoalan-persoalan kemiskinan, penindasan, bencana dan lainnya dengan tontonan dari industri hiburan. Staf pengajar Jurusan Ilmu Komunikasi Undip Semarang itu mengungkapkan, kemarin, usai menerima predikat sangat memuaskan pada sidang promosi terbuka di UGM. Menurutnya, masyarakat dibius untuk mengikuti drama selebritis tidak semata-mata sebagai sebuah peristiwa kehidupan biasa melainkan membaur menjadi sebuah drama yang melibatkan emosi. ''Dunia citraan yang disampaikan infotainment haruslah disadari sebagai dunia rekaan yang berpotensi melebih-lebihkan realitas. Penonton yang cerdas akan mengambil langkah tepat mengurangi potensi negatif infotainmen,'' tandas Hedi yang melakukan penelitian tentang hal tersebut. Dampak negatif tayangan itu adalah menjadikan penonton kurang produktif. Aktivitas seseorang akhirnya menyesuaikan jadwal tayangan infotainmen sehingga rutinitas kerja atau kehidupannya menjadi terganggu. Dibiarkan Hedi menjelaskan lebih lanjut, jurnalisme tabloid yang dikembangkan infotainmen merupakan analogi dari model jurnalisme tabloid media massa cetak yang menghasilkan koran kuning. Sebutan itu kerap diarahkan pada media massa cetak yang fokusnya pada kekerasan, seks dan skandal. Sikap negara, tuturnya, cenderung membiarkan infotainmen berkembang secara berlebihan karena dianggap tidak membahayakan dan mengusik kehidupan pemerintah secara langsung. Bahkan tayang-an tersebut dipandang sebagai saranan eskapisme, media katarsis dan upaya relaksasi bagi penonton. ''Kekuasaan bujuk rayu infotainmen berhasil menundukkan dan ''mendisiplinkan'' penonton, akibatnya mereka kecanduan dengan tayangan semacam itu,'' tegas Hedi. Terpaan infotainmen yang dalam penelitiannya selama Januari-Mei 2004 terdapat lebih 50 jenis acara infotainmen, bisa berakibat negatif bagi penonton. Sajian yang tampil dalam wajah lembut, membujuk dan menghibur menjadikan candu bagi masyarakat. Mengantisipasi kondisi demikian, dia meminta masyarakat lebih selektif dan cerdas dalam memilih tayangan televisi. (D19-36) |