| Kamis, 29 September 2005 | KEDU & DIY |
Harga Bensin Eceran Rp 7.500/Liter
YOGYAKARTA - Kelangkaan BBM di berbagai wilayah di DIY semakin memprihatinkan. Harga premium di tingkat pengecer hingga Rabu (28/9) Rp 7.500/liter. Hanya sebagian yang menjual Rp 5.000/liter terutama untuk pelanggan yang sudah kenal baik dengan pengecer. Situasi tampaknya mulai memanas, terbukti dengan adanya insiden di sejumlah SPBU, yaitu pertengkaran antarpengantre. Mereka berebut tempat yang paling dekat dengan pintu masuk SPBU, lalu terjadi adu mulut dan saling dorong. ''Biasa, dahulu waktu terjadi kelangkaan beberapa bulan lalu juga kadang terjadi insiden karena rebutan tempat,'' ujar Rosi, salah seorang yang ikut antre di salah satu SPBU. Dia sudah antre satu jam dan baru mulai mendekati pintu masuk. Di belakangnya tampak motor berjajar dengan panjang ratusan meter terbagi dalam tiga lapis. Tidak hanya motor, mobil pun ikut antre sehingga mengakibatkan ruas jalan di hampir semua SPBU tersendat. Aparat kepolisian terlihat berjaga-jaga di semua SPBU sembari mengatur arus lalu lintas. Bahkan di tempat yang masih tutup, masyarakat sudah antre menyiapkan kendaraannya agar begitu pintu dibuka bisa langsung mendapat giliran paling awal. Di SPBU Babarsari, lokasi yang selama ini dikenal sebagai pusatnya mahasiswa terpampang tulisan ''Tunggu Tangki Datang''. Pintu ditutup tetapi anggota masyarakat sudah bersiap-siap di sekitar lokasi. Petugas SPBU tampak berjaga-jaga di dalam, sesekali mengatakan, pengedropan BBM tidak dapat pasti dan bisa terjadi kapan saja pagi, siang, sore maupun malam. Menggila Masyarakat mengeluh, bukan hanya lantaran kelangkaan BBM melainkan harga yang menggila dan tidak masuk akal. Terutama di tingkat pengecer, ada yang menjual premium hingga Rp 7.500/liter. Kendati demikian, konsumen tetap saja membeli karena mereka takut tidak dapat beraktivitas. ''Motor ini sudah seperti nyawa saya. Bagaimana tidak? Setiap hari membantu kelancaran mencari makan. Ya, meskipun harga bensin mahal sekali, mau tak mau harus beli,'' ungkap Hendri yang setiap hari menggunakan motor untuk menjajakan makanan ke warung-warung. Ancaman kebangkrutan juga menghinggapi para pengusaha kecil. Seorang pengusaha genteng beton mengungkapkan, dia kesulitan memperoleh BBM untuk menjalankan mesin serta mengoles cetakan. Pekerjanya yang berjumlah 20 orang terancam menganggur. Aksi menolak rencana kenaikan harga BBM terus berlanjut. Ratusan orang melempari kantor Pertamina UPDN IV Cabang Yogyakarta di Jalan P Mangkubumi dengan tomat. Setelah melempari gedung yang dijaga ketat polisi itu, mereka melanjutkan aksi menuju ke DPRD DIY. ''Kami meminta semua anggota masyarakat menolak rencana kenaikan BBM,'' tandas Koordinator Umum HMI MPO Yogyakarta Eman Siswanto yang memimpin pelemparan tomat. (D19-36j) |