| Kamis, 29 September 2005 | EKONOMI |
sekilas ekonomiImpor Mobil CBU 15.000 UnitJAKARTA-Impor mobil dalam keadaan utuh (CBU) ke Indonesia ditengarai mencapai 10.000-15.000 unit per bulan. Impor ini dilakukan importer umum (IU) maupun Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM). Anggota Komisi VII DPR-RI Epyardi Asda pada Raker dengan Menperindag Andung A Nitimihardja, yang dipimpin Wakil Ketua Komisi VII Ade Komaruddin, mengatakan impor mobil CBU dilakukan tujuh perusahaan angkutan kapal laut. "Setiap perusahaan shipping line, setidaknya mengimpor sekitar 2.000 unit per bulan. Namun dari tujuh perusahaan pengapalan itu, yang aktif sebanyak lima perusahaan," ujarnya. Lima perusahaan shipping line itu, ECL (Eastern Car Liner), MOL (Mitsui OSK Lines), Toyofuji, NYK (Nippon Yusen Kaisha), dan K-Line. Impor mobi CBU masuk melalui pelabuhan Tanjung Priok, yaitu melalui Jakarta International Container Terminal, dermaga 215X dan dermaga 207X. Ia memperkirakan impor mobil CBU tidak hanya dilakukan IU, tapi juga ATPM yang banyak mengimpor mobil CBU, baik dari negara sesama anggota ASEAN maupun negara lain, untuk diperdagangkan di dalam negeri. (ant-33) Menkeu Bantah Tunda Global Bond JAKARTA-Menteri Keuangan Jusuf Anwar membantah telah menunda rencana penerbitan global bonds (obligasi internasional) yang sedianya digunakan untuk menutup defisit APBN 2005. "Jadi tidak ada penundaan, karena memang waktunya belum ditentukan. Kalau window opportunity-nya terbuka, pasar baik, dan harga bagus, baru kita putuskan," kata Menkeu, di Jakarta, Rabu. Dijelaskan, kehadirannya pada pertemuan IMF di Washington hanya merupakan non deal roadshow dan tidak menawarkan obligasi negara Indonesia, karena untuk rencana itu harus sesuai peraturan dari security commision yang ketat. Pada pertemuan itu, dia memberikan gambaran tentang kebijakan ekonomi makro, fiskal dan energi Indonesia pada para investor. Sebelumnya, pemerintah berencana menerbitkan lagi obligasi internasional sekitar 750 juta dolar AS hingga 1 miliar dolar AS untuk membantu pembiayaan APBN guna menutup defisit yang ditetapkan sekitar Rp 25 triliun. Dalam APBN 2005, pemerintah berencana menerbitkan obligasi sebanyak Rp 43,3 triliun. (ant-33) |