| Kamis, 29 September 2005 | EKONOMI |
Ketersediaan Pangan Masih SurplusSEMARANG-Kedele merupakan salah satu komoditas pangan pokok yang masih belum mencukupi kebutuhan. Dengan ketersediaan rata-rata selama lima tahun sebesar 132.658 ton, kebutuhannya mencapai 334.921 ton (minus rata-rata 202.264 ton). Namun, kata Kepala Badan Bimbingan Massal Ketahanan Pangan (BBMKP) Jateng Ir Gayatri Indah Cahyani, selama kurun waktu lima tahun terakhir, ketersediaan beberapa pangan pokok masih mencukupi kebutuhan masyarakat Jawa Tengah. Sebagai contoh, rata-rata ketersediaan beras tahun 2000-2004 sebesar 4.414.553 ton, dengan kebutuhan rata-rata 3.326.812 ton (surplus rata-rata 1.087.741 ton). Untuk komoditas jagung rata-rata ketersediaan sebesar 1.374.138 ton, dengan kebutuhan rata-rata 521.656 ton (surplus rata-rata 852.482 ton). Daging, ketersediaan rata-rata 142.235 ton, dengan kebutuhan rata-rata 190.526 ton (surplus rata-rata 48.291 ton). ''Komoditas telur, ketersediaan rata-rata 104.626 ton, kebutuhan rata-rata 100.792 ton (surplus rata-rata 3.833 ton),'' tambahnya dalam acara Rapat Teknis Perencanaan Ketahanan Pangan Tahun 2006, di aula Bappeda Jateng, Semarang, kemarin. Acara dibuka Staff Ahli Gubernur Khusus Bidang Hubungan Kelembagaan dan Revitalisasi Pertanian Ir Edhy Sutanto K MM, kemarin. Sedangkan komoditas lain yang masih belum mencukupi kebutuhan, adalah susu, dengan ketersediaan 62.823 liter, kebutuhan rata-rata 95.110 liter (minus rata-rata 33.287 liter). Dan, komoditas gula dengan ketersediaan 154.740 ton, kebutuhan rata-rata selama tiga tahun (2001-2003) sebesar 331.830 ton (minus rata-rata 177.090 ton). Adapun untuk gula kristal, minus sebesar 199.259,8 ton/tahun. Sektor Industri Pengolahan Lebih lanjut dikatakan, dalam kurun waktu lima tahun terakhir (1999-2003), sektor industri pengolahan masih menjadi andalan terbesar di Jateng. Dengan memberikan sumbangan sebesar 30 persen dalam pembentukan struktur ekonomi. Sedangkan sektor pertanian memberikan kontribusi sebesar 24,34 persen. Menurut dia, kebutuhan pangan meningkat sejalan pertumbuhan penduduk, ekonomi, peningkatan daya beli masyarakat, dan perubahan selera. Dalam hal pertumbuhan penduduk, akan meningkatkan kebutuhan lahan perumahan. Selain itu, akan meningkatkan lahan industri, fasilitas ekonomi dan sosial.Dan, pada akhirnya akan mendorong konversi lahan pertanian yang dapat mempengaruhi kapasitas regional maupun nasional. (E4-33) |