logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 29 September 2005 EKONOMI
Line

Rupiah dan IHSG Masih Tertekan

JAKARTA-Di tengah pro kontra rencana kenaikan harga BBM Oktober nanti, posisi kurs rupiah amat rawan dan cenderung tertekan. Setelah sehari sebelumnya tertekan tipis di posisi Rp 10.275 per dolar AS, maka pada penutupan perdagangan Rabu petang, kemarin, kurs rupiah merosot lagi di posisi Rp 10.360 per dolar AS.

Perburuan dolar diyakini sebagian pelaku pasar, karena Pertamina saat ini membutuhkannya dolar untuk menebus BBM guna menjaga pasar supaya tidak kekurangan. Sementara masyarakat cenderung panik, sehingga terjadi antrean panjang di mana-mana. Bahkan banyak stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang sudah kehabisan persediaan.

Selain faktor kenaikan BBM, rupiah juga tertekan besarnya permintaan dari korporasi pada akhir bulan ini. Permintaan dari perusahaan besar ini, terkait dengan pembayaran utang dan pembelian bahan baku.

Kurs rupiah dan saham ibarat dua sisi mata uang. Kalau kurs rupiah cenderung tertekan, maka kondisi di Bursa Efek Jakarta (BEJ) juga langsung dirasakan. Kondisi yang tidak stabil ini membuat pelaku pasar mengurangi transaksinya dan memilih menunggu situasi lebih baik. Akibatnya Indeks harga Saham gabungan (IHSG) ditutup turun 9,746 poin pada level 1.027,888.

Seorang analis menilai investor masih mencermati dampak kenaikan harga BBM ini. Apalagi semakin mendekati 1 Oktober 2005 makin banyak aksi demonstrasi menolak kenaikan harga BBM.

Menunggu

Perdagangan berlangsung sepi dengan volume yang tipis, karena pelaku pasar masih menunggu kapan waktu untuk masuk atau keluar dari pasar. Tercatat ada transaksi sebanyak 9.393 kali pada volume 1.159.065 lot saham, senilai Rp 689,099 miliar. Sebanyak 27 saham naik, 77 saham turun dan 259 saham stagnan.

Hal ini langsung berpengaruh kepada Indeks LQ-45 yang turun 2,536 poin di posisi 223,725, Jakarta Islamic Index (JII) turun 1,962 poin menjadi 174,189, Main Board Index (MBX) turun 2,987 poin di level 278,922, dan Development Board Index (DBX) turun 0,632 poin menjadi 216,427.

Sementara itu, BEJ merevisi target perolehan emiten baru dari 30, pada awal tahun ini menjadi hanya 15 emiten. Hingga saat ini, target itu telah terealisasi tujuh emiten. ''Tujuh lagi akan segera menyusul, enam di antaranya berasal dari sektor jasa, sisanya sektor riil,'' kata Direktur Utama BEJ, Erry Firmansyah.

Kepala Divisi Pencatatan Sektor Jasa BEJ, Wan Wei Yong, menambahkan enam perusahaan sektor jasa itu, yakni PT Exelcomindo, PT Asuransi Multi Arta Guna, PT Multi Indo Citra, PT Victoria Securitas, PT Supra Surya Danawan, dan PT Jati Piranti Solusindo (Jatis).

Yong mengatakan, kecuali Jatis, semua memakai laporan keuangan per Juni untuk permohonan penawaran publik perdana (IPO). ''Jatis yang menggunakan laporan keuangan Maret, belum menyelesaikan laporannya. Jadi mungkin jadwalnya akan mundur,'' ujarnya.

Kepala Divisi Pencatatan Sektor Riil BEJ, Yose Rizal, mengatakan calon emiten baru dari sektor rill adalah PT Malindo Feedmill. Adanya wabah flu burung, kata Yose, tidak begitu berpengaruh pada proses pencatatan perusahaan pakan ternak dan pembibitan ayam itu. (wa-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA