logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 29 September 2005 EKONOMI
Line

Inflasi Diperkirakan 9 Persen

  • Suku Bunga Siap Naik

JAKARTA-Menjelang kenaikan harga BBM, ditambah memasuki bulan Ramadan, semua kebutuhan pokok sudah bergerak naik. Bahkan harga premium di tingkat pengecer sudah dijual bervariasi antara Rp 4.000 - Rp 6.000 per liter. Karena itu, banyak pihak memperkirakan akan terjadi kenaikan inflasi di atas dua digit dari posisi sekarang sekitar 8,3 persen.

Namun Bank Indonesia (BI) optimistis inflasi pasca kenaikan BBM tidak akan mencapai dua digit. Maksimal diperkirakan hanya sekitar 9 persen. BI yang kini mematok BI rate (bunga) hingga 10 persen, sejak beberapa minggu lalu telah memperkirakan inflasi tahun 2005 mencapai 9 persen.

Deputi Gubernur Senior BI, Miranda Goeltom, di Jakarta, mengatakan, inflasi tergantung berapa persen kenaikan harga BBM. Sedangkan angka 9 persen inflasi BI itu, belum memasukkan komponen harga BBM. Dengan adanya kenaikan harga BBM, inflasi bisa lebih dari itu,'' katanya.

Sementara gonjang-ganjing kurs rupiah menyebabkan BI bekerja keras memborong rupiah dengan dolar AS yang dimilikinya. Namun pelepasan dolar itu tidak sampai mempengaruhi posisi cadangan devisa. Pada minggu ketiga September, cadangan devisa Indonesia berhasil naik tipis 17 juta dolar AS di posisi 30,414 miliar dolar AS.

Data BI menyebutkan posisi uang primer turun menjadi Rp 216,826 triliun, dibandingkan posisi sebelumnya Rp 218,294 triliun. Sementara tagihan bersih kepada pemerintah turun menjadi Rp 203,947 triliun dibandingkan posisi pekan sebelumnya Rp 204,828 triliun. Kredit Likuiditas Bank Indonesia naik menjadi Rp 11,899 triliun , dibandingkan pekan sebelumnya Rp 11,896 triliun.

Bunga Naik

Bila terjadi kenaikan inflasi, menurut Miranda, BI akan meresponsnya dengan menaikkan suku bunga yang memakai benchmark suku bunga adalah BI rate. Tujuannya untuk menjaga real interest rate cukup menarik.

''Tidak usah terlalu besar, tapi jangan sampai terlalu kecil, sehingga orang tidak tertarik memegang rupiah. Kalau inflasi naik, maka real interest rate akan turun,'' katanya.

BI, menurut dia, akan melakukan kebijakan yang cenderung ketat untuk menjaga tekanan inflasi.

Perhitungan BI, kenaikan harga BBM akan mengakibatkan inflasi first round effect 0,2 persen dan second round effect 0,3 persen. Untuk first round effect ini tidak bisa terelakkan. Karena itu, BI akan berupaya menekan inflasi pada second round effect.

''Jadi second round effect bisa dikurangi, karena tidak bisa dihilangkan sama sekali. Namun bisa diminimalkan dengan melakukan kebijakan moneter yang ketat. Kalau dilihat tren, persepsi inflasi bisa dipengaruhi kebijakan moneter,'' Miranda. (wa-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA