logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 28 September 2005 OLAHRAGA
Line

Prestasi, Prestise, Duit

TIGA kata itu tak bisa dilepaskan dalam kehidupan olahraga kita, baik di tingkat tarkam (antarkampung), daerah, nasional, regional maupun internasional. Prestasi untuk mengejar prestise, dan pada akhirnya dapat duit. Persoalannya, bagaimana menempatkan tiga kata itu agar bisa menjadi ideal, sesuai dengan tujuan olahraga, sasarannya pembinaan dan inti olahraga itu sendiri.

Jateng baru saja menggelar Pekan Olahraga Daerah (Porda) dengan mempertandingkan banyak sekali cabang olahraga. Paling tidak, jika melihat cabang yang dipertandingkan, ini tercermin potensi olahraga Jateng yang pada akhirnya tentu memiliki acuan untuk PON, SEA Games, Asian Games dan Olimpiade.

Itulah strata yang terjadi dalam kehidupan olahraga dunia. Dan bagi kita di Jateng, Porda tentu memiliki arti yang strategis dalam sebuah proses pembinaan. Betulkah kita sudah menjalankan proses itu sesuai dengan prinsip-prinsip pembinaan olahraga?

Memang masih perlu dipertanyakan. Sebagai seorang "warga" dalam komunitas olahraga di Jateng, saya terasa bimbang dengan prinsip tersebut. Grengseng Porda terasa sepi, kendati pihak KONI Jateng di bawah kendali Murdoko sudah melakukan sesuatu dengan sangat maksimal.

Mengapa itu terjadi? Terusik oleh konsep pembinaan oleh Ketua Umum KONI Banyumas, Aris Setiono, bahwa untuk menghadapi Porda, bupati ini tak setuju dengan pembelian atlet kalau hanya mengejar posisi (klasemen) pengumpulan medali. Karena apa, jika itu terjadi, prestasi dari pembinaan yang dilakukan daerah itu sendiri tidak bakal tercapai. Di sini hanya mengejar gengsi atau prestise. Hanya dagang sapi semata.

Karena itu, pola pembinaan di Banyumas akhirnya dibalik, yakni pembinaan atlet tetap jalan dengan memperlakukan si atlet sebagai manusia secara utuh. Istilahnya, para pembina dan Pemkab harus nguwongke atlet. Makanya, di Porda ini tak satu pun atlet Banyumas yang pergi ke daerah lain.

Tetapi dalam kondisi seperti ini, jangan sampai ada pembina yang menyalahkan atlet, yang menjadi "bajing loncat" untuk memburu bonus dengan "menjual" medalinya kepada daerah yang menyalahi idealisme format pembinaan olahraga itu sendiri. Dalam situasi seperti sekarang, atlet memang mempunyai hak untuk itu demi uang tanpa meninggalkan prestasi. Ini sangat wajar.

Pada Jumat (16/9) lalu, sejumlah media Indonesia memberitakan Ellyas Pical dituntut lima tahun penjara oleh jaksa dalam pengadilan karena kasus narkoba. Pical adalah juara dunia pertama yang dimiliki Indonesia.

Juga terdengar selentingan, bekas petinju andalan Jateng yang pernah naik ring di dunia internasional, Tono Anggono, sekarang hanya sebagai penarik becak di Semarang. Ada pula bekas atlet nasional yang terpaksa menjual medalinya untuk menyambung hidup.

Inikah perlakuan kita terhadap atlet? Maka jangan salahkan atlet sekarang jika "menjual diri" demi lembaran-lembaran uang. Disebutkan lima lifter dari Kalimantan juga tiba-tiba masuk Solo, namun akhirnya terpaksa dipulangkan ke daerahnya. Mereka pun sebenarnya juga hanya ingin mencari uang untuk datang ke Jateng.

Lalu, betulkah hasil Porda ini nantinya merupakan cerminan dari hasil pembinaan yang dilakukan daerah-daerah, cabang-cabang olahraga di tingkat II?

Nanti dulu! Karena pathing sliwer-nya atlet nasional dari Semarang ke daerah lain bisa menjadi jawaban, bahwa prestasi kabupaten/kota dalam siklus tertinggi keolahragaan Jateng ini adalah prestasi maya yang hanya melahirkan kebahagiaan semu.

Rasanya, kita (baca kabupaten/kota) memang perlu mengaca kembali terhadap konsep pembinaan yang kita lakukan selama ini. Sudah berhasilkah kita membina (mengembangkan dan meningkatkan prestasi) olahraga kita di daerah masing-masing?

Maka dari itu, prestasi, prestise, dan duit perlu diberi konsep yang pas, agar tidak menjebak kita dalam dunia maya dan kebanggaan semu. Terus terang saja, kondisi seperti ini, jika terus dipertahankan, bukan tidak mungkin merupakan awal dari kehancuran olahraga (amatir) kita. Sangat berbahaya, dan pantas direnungkan! (40)

Drs Hananto Prasetyo SH, pembina olahraga tinggal di Purwokerto.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA