| Rabu, 28 September 2005 | OLAHRAGA |
Perlu Pembenahan Menyeluruh di Tunggal PutraJAKARTA - Kabid Binpres dan Pelatnas PB PBSI Rudy Hartono menginginkan adanya pembenahan menyeluruh di tunggal putra agar bisa menjadi juara pada setiap event. Hal yang perlu dibenahi adalah faktor fisik, yang terdiri dari stamina, kecepatan, dan kekuatan pukulan pemain. Kegagalan Sonny, Simon dan Taufik pada Djarum Indonesia Open 2005 disebabkan oleh hal tersebut. "Kami memang menargetkan untuk juara di tunggal putra dan harapan kami adalah Taufik. Namun ternyata gagal dan itu akan menjadi bahan evaluasi nanti," ujar Rudy Hartono di Jakarta kemarin. Oleh karena itu, papar Rudy, PB PBSI akan segera melakukan evaluasi terhadap penampilan para pemainnya. Masalah terbesar dari penampilan para pemain Indonesia adalah lemahnya fisik. Rudy mengatakan, pembinaan di sektor putri masih belum dapat dikatakan berhasil. Masih perlu pembinaan intensif terutama untuk meningkatkan kemampuan fisik. Markis/Hendra Rudy mengakui kalau hasil yang diraih para pemain Indonesia di turnamen Djarum Indonesia Terbuka 2005 yang berakhir Minggu lalu, tidak sesuai target. Indonesia merebut dua dari tiga gelar yang diincar. Dua gelar itu diraih oleh Markis Kidho/Hendra Setiawan (ganda putra) dan Nova Widiyanto/Liliyana Natsir (ganda campuran). "Itu di luar target. Kami inginkan tiga gelar. Namun begitu, kami tetap bersyukur. Apalagi bisa diciptakan final sesama Indonesia. Ini prestasi tersendiri. Yang juga membuat saya gembira, ganda putra muda sebelumnya tidak pernah juara, bisa juara. Di ganda campuran, Anggun Nugroho/Yunita Tetty, juga baru kali ini meraih final," ungkap juara All England delapan kali tersebut. Rudy berharap, hasil yang diraih para pemain Indonesia, utamanya Markis/Hendra dan Anggun/Yunita bisa menambah motivasi mereka dalam berbagai turnamen mendatang. "Hasil ini memang bagus buat mereka. Ada peningkatan, bahwa pemain muda bisa berbicara. Tapi, mereka harus membuktikan di tempat lain. Bila mampu dan para pemain Cina juga tampil, itu baru luar biasa. Berarti, otak dan strategi dapat jalan dengan baik. Saya berharap, di tempat lain harus mencapai final, bukan semifinal lagi. Saya juga berharap mereka terus konsisten," tandasnya. Sony Dwi Kuncoro, yang gagal di semifinal mengakui, penyebab kekalahannya pada semifinal adalah fisik yang masih lemah. Ia belum kuat bermain tiga set. Untuk Simon, pelatih Joko Supriyanto mengungkapkan, kelemahan pemain berusia 20 tahun itu terletak pada mentalnya yang belum stabil. "Simon bilang pada saya bahwa tangannya tiba-tiba berat saat melawan Boonsak Ponsana. Itu kan berarti bahwa mentalnya sedang tertekan dan ia tidak bisa mengatasi itu," jelas Joko yang dihubungi terpisah. (D3-28) |