logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 28 September 2005 WACANA
Line

tajuk rencana

Kepanikan Itu Dapatlah Dimengerti

-- Dapat dimengerti mengapa kepanikan benar-benar melanda masyarakat. Apa pun imbauan, sosialisasi, upaya-upaya untuk menenangkan lewat statemen pemerintah dengan berbagai paket kebijakannya, yang tergambar di tengah masyarakat sekarang merupakan realitas yang sedang dihadapi. Khususnya pada hari-hari menjelang diumumkannya rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Persoalannya bukan lagi sekadar kalkulasi kebutuhan hidup yang jelas bakal meningkat karena harga-harga dipastikan mengikuti harga minyak, tetapi bahkan berpikir dalam jangka pendek tentang apakah BBM tersedia atau tidak. Rush ke SPBU-SPBU di berbagai kota yang kemudian terjadi, menggambarkan secara jelas kepanikan itu.

-- Antrean di pompa-pompa bensin cenderung makin memanjang. Di sejumlah ruas jalan di Kota Semarang misalnya, kemacetan terjadi karena ''ular-ularan'' kendaraan yang menyita badan jalan, baik mobil maupun sepeda motor. Apakah ini dipicu oleh upaya untuk memaksimalkan ketersediaan premium atau solar menjelang kenaikan harga, atau karena semakin menjadi-jadinya kelangkaan? Yang lebih penting, kondisi itu memotret realitas publik yang memedihkan. Banyak waktu yang terpaksa tersita untuk ''mencari minyak'', sehingga produktivitas harian tentu terganggu. Belum lagi proyeksi indeks pengeluaran bulanan tiap keluarga yang pasti akan membubung mulai bulan depan. Kebetulan pula, kita tengah bersiap memasuki bulan puasa.

-- Rentetan momentum seperti sudah menunggu dengan kecemasan: bulan puasa, Lebaran, lalu Natal. Hari-hari yang biasanya diarungi dengan penuh kegairahan, bisa dibayangkan dilewati dengan nuansa berbeda. Kita tidak tahu, juga belum ada jaminan dari pemerintah, apakah setelah kenaikan harga, BBM akan mudah didapat. Kita hanya bisa mengajak agar semuanya menyiapkan mental untuk mengatur hidup dengan kiat-kiat efisien, sehingga tidak mengalami keterkejutan psikologis menghadapi hari-hari di depan. Simaklah apa yang dilakukan oleh ibu-ibu RT 3 RW 3, Gerumbul Kalibogor, Kelurahan Rejasari, Purwokerto Wetan -- ramai-ramai memasak dengan tungku kayu bakar, karena mereka tidak mendapat cukup minyak tanah.

-- Pada satu sisi, ''unjuk rasa'' di Purwokerto itu boleh dilihat sebagai solusi, atau kiat hidup menyikapi perkembangan yang -- suka atau tidak suka -- harus diterima. Namun pada sisi lain, tidakkah itu juga mengilustrasikan ekspresi kecemasan masyarakat, kepanikan yang membutuhkan sikap dan solusi untuk mengurainya? Maka kalau persoalannya adalah kelangkaan, dan kita tidak tahu apakah disebabkan oleh ketidakmampuan distribusi Pertamina atau ada pihak-pihak yang bermain, jelaslah penyebaran dana kompensasi BBM sebagai ''jaring pengaman sosial'' tidak akan terlalu efektif menyentuh penyelesaian persoalan. Logikanya, ketika uang didapat tetapi barangnya langka, bukankah sama saja dengan yang dihadapi sekarang?

-- Paling-paling, dana kompensasi tunai itu hanya akan berarti dari sisi ''menambal'' berbagai kebutuhan pokok yang juga bakal melambung. Tetapi bagaimana dengan penyelesaian persoalan kelangkaannya? Ini menjadi persoalan yang lain lagi. Maka dibutuhkan lebih dari sekadar sikap simpati, empati, dan compassion dari pemerintah terhadap rakyat. Dibutuhkan keseriusan dalam upaya penegakan hukum untuk menjerat siapa pun yang terbukti terlibat dalam permainan distribusi minyak sekarang. Tindakan tegas terhadap mereka yang terlibat dalam pencurian dan penyelundupan BBM selama bertahun-tahun juga harus dilakukan secara nyata, apalagi terbukti ulah seperti itu berandil besar dalam kekisruhan yang sekarang terjadi.

-- Kita ikut meminta masyarakat bersikap tenang, walaupun pada dasarnya memahami mengapa kepanikan-kepanikan terjadi. Yang perlu dilakukan, bagaimana menyiapkan kiat hidup untuk beradaptasi dengan berbagai kemungkinan di depan, ketika kita memasuki bulan puasa, lalu menyongsong Lebaran dan Natal. Dalam situasi seperti sekarang, yang dibutuhkan bukanlah pernyataan-pernyataan retorik yang tanpa solusi, dan dirasakan berbungkus target untuk kepentingan-kepentingan politiknya. Kita menunggu pilihan sikap bijak, yang memberi solusi karena menghayati apa yang sedang diresahkan dan menjadi realitas rakyat. Suatu kebijakan untuk rakyat akan efektif kalau dikawal secara efektif pula.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA