| Rabu, 28 September 2005 | KEDU & DIY |
Harga Eceran Rp 4.000/LiterYOGYAKARTA - Harga premium di tingkat pengecer beberapa hari terakhir ini melonjak. Biasanya satu liter di pengecer Rp 2.700, kemarin sudah mencapai Rp 3.500-Rp4.000. Pengecer berdalih kesulitan memperoleh premium, karena sejumlah stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) tak lagi melayani pembelian dalam jerigen. Masyarakat pun panik, karena harga sudah naik di pengecer dan untuk mendapatkannya juga sulit. Meski demikian, harga di pengecer tak selalu sama. Ada pula yang masih menjual dengan harga Rp 3.000 - Rp 3.500, bahkan ada juga yang Rp 3.250. Pengecer terus terang menyampaikan ke konsumen, kalau harga premium naik karena mereka kesulitan mendapatkan jatah. Bahkan di sejumlah SPBU, mereka tak lagi dilayani. Petugas SPBU menempelkan tulisan ''Tidak Melayani Jerigen''. ''Maaf, harga bensin naik itu, gimana, sekarang Rp 4.000 per liter?'' ujar seorang pengecer di dekat kawasan Malioboro. Seorang calon pembeli sempat berpikir sejenak, namun anaknya yang dibonceng meminta agar segera membeli daripada tidak sampai ke tujuan. Akhirnya, dengan sedikit berat hati, dia hanya membeli satu liter. Itu pun harus antre, karena pembeli lain cukup banyak. Antrean panjang terlihat di sejumlah SPBU, bahkan ada yang mencapai setengah kilometer. Kendati sudah ada tulisan premium habis, namun konsumen tetap mengantrekan kendaraannya. Mereka menunggu SPBU mendapat jatah. Dibatasi Sementara itu di SPBU Sagan, Jl Prof Yohannes, ribuan sepeda motor dan mobil antre BBM; padahal sudah jelas stok di SPBU tersebut habis. Situasi serupa terlihat pula di SPBU Jl Magelang; antrean juga sangat panjang. Begitu pula di SPBU Badran, SPBU Jl Kaliurang, SPBU Jl Godean (dua tempat), dan SPBU Jl Kusumanegara. Masyarakat yang kebetulan bisa mendapatkan BBM, di beberapa SPBU dibatasi maksimal Rp 10.000 untuk sepeda motor dan Rp 25.000 untuk mobil. Akibatnya, mereka yang akan bepergian jauh harus berpikir ulang, bisa sampai ke tujuan atau mogok akibat kehabisan bensin di tengah jalan. Slamet yang berencana pergi ke Purwokerto, terpaksa membatalkan niatnya. Dia hanya memperoleh jatah Rp 25.000, dan tentu saja itu tidak cukup untuk bisa sampai ke tujuan. Dia tidak berani berspekulasi mengisi BBM dalam perjalanan. ''Ya kalau di perjalanan ada pompa bensin yang buka dan masih ada stok, kalau semua kosong?'' kata dia. Langkanya premium di SPBU maupun pengecer, mengakibatkan pemandangan seperti beberapa waktu lalu. Di sejumlah ruas jalan, pengendara sepeda motor tampak menuntun motornya, karena kehabisan bensin.(D19-39a) |