logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 28 September 2005 KEDU & DIY
Line

Berkunjung ke HM Sampoerna (Habis)

Di Kebumen Terbuka Peluang Mitra Produksi Sigaret

TIM Pemkab Kebumen dipimpin Wakil Bupati KH M Nashiruddin AM beserta sejumlah pejabat teras, tidak salah berkunjung ke HM Sampoerna. Sebab, Kebumen saat ini berpenduduk 1,2 juta jiwa, dan mayoritas perempuan.

Mereka masih membutuhkan pemberdayaan dan penciptaaan lapangan kerja. memang sudah ada beberapa industri menyerap tenaga kerja wanita, seperti pabrik plastik, kecap, pengolahan kayu di Gombong dan sebagainya. Namun tetap masih perlu ada industri baru yang bisa menyerap pekerja perempuan hingga di atas 1.000 orang. Di Kebumen sangat terbuka peluang untuk pendirian mitra produksi sigaret (MPS) PT HM Sampoerna. Apalagi geografis Kebumen strategis, berada di tengah-tengah daerah yang sedang berkembang, seperti Purworejo, Cilacap, Temanggung, Banyumas dan sekitarnya.

Sebenarnya, Bupati Hj Rustriningsih sangat berkeinginan hadir langsung di Surabaya. Namun kondisi kehamilan lebih dari tujuh bulan, menjadi pertimbangan.

Jadilah kemudian Wakil Bupati disertai Sekda H Suroso, Asisten I Sekda Witoyo Priyo Laksono, Kepala Bappeda Mahar Mugiyono, berapa kepala dinas serta Ketua DPRD Probo Indartono dan seluruh ketua komisi, menjemput bola ke PT HM Sampoerna. Perjalanan darat dengan naik bus diantar oleh pengusaha dari CV Kebumen Cahaya Persada, jarak Kebumen-Surabaya pun tidak begitu terasa melelahkan.

Tim juga menyampaikan surat permohonan Bupati kepada PT HM Sampoerna Tbk agar mengabulkan permintaan di Kebumen didirikan MPS dengan buruh sekitar 1.300 orang. Beberapa lokasi sudah disiapkan, salah satunya bekas pabrik minyak Sari Nabati di Kelurahan Panjer, Kebumen.

Nilai Lebih

Memang, dari hasil kunjungan itu masih ada kendala, terutama soal pangsa pasar dan konsumsi rokok di Kebumen yang masih rendah. Namun ada nilai lebih dimiliki Kebumen, seperti tingginya angka tenaga kerja perempuan, serta keamanan daerah yang semakin kondusif dewasa ini dan daerahnya luas. Dan yang lebih penting, Pemkab berkeinginan keras menciptakan lapangan kerja baru.

Apalagi menurut Yudi Rizard Hakim, eksekutif manajer PT HM Sampoerna TBk di Jakarta, sesuai komitmen, pihaknya masih tetap akan mempertahankan industri rokok kretek lintingan dengan tenaga kerja wanita. Alasannya, tenaga kerja wanita itu memiliki beberapa keunggulan.

Menurut Rizard, buruh wanita lebih teliti dalam bekerja, perempuan juga lebih rajin, dan kontur tangan lebih kecil sehingga hasil melinting mereka lebih rapi.

Rizard menerangkan, PT HM Sampoerna TBk saat ini telah memiliki sekitar 26 MPS di seluruh Indonesia dan terus bertambah. Bahkan di Jateng ada empat MPS baru beroperasi, di Sragen, Purbalingga, Salatiga dan Tegal. Belum lagi di Kulonprogo, Bantul dan akan menyusul di Prambanan.

Lalu, adakah jaminan kualitas rokok buatan MPS di daerah-daerah itu sama persis dengan produksi di Surabaya?. Rizard menjamin sama persis. Sebab Sampoerna tentu menjaga kualitas.

Apalagi pada tahap awal berdiri MPS, orang Sampoerna akan ikut bekerja dan mengawasi sekitar 40-60 orang. Setelah berjalan dan orang-orang lokal yang bekerja sudah mahir berganti menjadi pengawas, tinggal 4-15 orang dari perusahaan di MPS.

Mengenai sistem kerja sama MPS itu memang tidaklah rumit. Artinya, Pemkab setempat yang harus proaktif mengajukan ke HM Sampoerna. Setelah disetujui, ibaratnya perusahaan rokok itu ''menjahitkan'' bahan ke MPS.''Setelah bahan pakaian jadi, kami ambil dan kami bayar.''jelas Rizard.(Komper Wardopo-39)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA