logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 28 September 2005 EKONOMI
Line

Pertumbuhan Industri Grafika Stagnan

SEMARANG-Akibat kenaikan harga minyak diesel dan minyak bakar industri hingga lebih 100% beberapa waktu lalu, berimbas pada perkembangan industri grafika di Jateng. Pasalnya, pembelian bahan baku industri grafika masih didominasi produk yang dinilai dengan kurs dolar AS, seperti kertas dan tinta.

Di sisi lain, kecenderungan daya beli masyarakat terus menurun ditambah adanya rencana kenaikan harga BBM dan tarif dasar listrik dalam waktu dekat ini.

Ketua Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) Jateng Kukrit S Wicaksono mengungkapkan, kondisi tersebut semakin memberatkan pengusaha industri grafika. Karenanya, ia berharap pemerintah mampu membuat standar keadaan perekonomian yang mapan, sehingga pelaku usaha bisa melakukan strategi dan kiat-kiat menghadapi persoalan itu.

''Anggota PPGI saat ini lebih mengupayakan efisiensi untuk menekan biaya produksi. Kami tidak mungkin menaikkan harga jual produk saat daya beli masyarakat terus merendah. Jangankan berkembang, bisa bertahan sudah bagus sekali,'' katanya di sela-sela seminar Pemberdayaan UKM dalam Prospek Bisnis Industri Grafika di Hotel Graha Santika Selasa (27/9).

Dalam kesempatan itu, dilakukan juga penandatanganan nota kesepahaman antara PPGI dengan Pusat Grafika Indonesia (Pusgrafin) untuk lebih mengembangkan kemampuan SDM industri grafika di Jateng. Hingga kini, jumlah industri grafika di Jateng tercatat hingga 750 perusahaan, sehingga dapat dikatakan Jateng merupakan provinsi yang memiliki jumlah industri grafika terbesar, dengan 75% di antaranya tergolong UKM.

Kukrit mengatakan hingga saat ini belum ada pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran industri grafika, meski ia mengakui laju industri tersebut dibayang-bayangi PHK.

Ia yang juga pemilik usaha percetakan dan penerbitan Masscom Graphy mengatakan perlunya kesinambungan pertumbuhan industri grafika agar tidak gulung tikar. ''Yang penting, anggota PPGI bisa menciptakan persaingan yang sehat dan menghindari banting harga,'' katanya.

Direktur PT Aneka Ilmu Suwanto mengungkapkan agar industri grafika bisa berkembang, maka harus bisa kreatif dan inovatif dalam menciptakan produk. ''Kami tahu produk industri grafika selama ini bukan merupakan kebutuhan primer masyarakat. Oleh karena itu, dengan kondisi industri grafika yang stagnan, seperti saat ini insan grafika harus bisa menunjukkan daya kreativitas,'' katanya.

Untuk mensiasati, pihaknya mencoba mencari produk bahan baku pengganti (substitusi) yang bisa diupayakan, seperti pengadaan bahan-bahan kimia. Di samping melakukan pengurangan jumlah produksi. (mhr, H10-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA