| Rabu, 28 September 2005 | EKONOMI |
Rupiah Tertekan Ulah Borong BBM
JAKARTA-Tindakan masyarakat yang terkesan 'kalap' dengan menyerbu SPBU untuk membeli BBM sejak beberapa hari ini, berpengaruh negatif terhadap pergerakan rupiah. Hal itu terlihat pada penutupan perdagangan di pasar spot antarbank Jakarta, Selasa petang, rupiah ditutup di posisi Rp 10.275 per dolar AS. Sementara pada akhir pekan lalu di level Rp 10.220 per dolar AS. Seorang analis menuturkan, perburuan BBM diperkirakan akan memaksa Pertamina menyiapkan BBM lebih banyak lagi, setidaknya sampai pengumuman kenaikan harga BBM Oktober nanti. ''Kalau itu yang terjadi, logikanya Pertamina saat ini memerlukan dolar dalam jumlah banyak. Apalagi saat ini harga minyak dunia naik jadi 66 dolar AS per barel.'' Di sisi lain, mata uang dolar AS terus menguat terhadap mata uang lain, karena The Federal Reserve (The Fed/bank sentral AS) kembali menaikkan suku bunga setelah 20 September menjadi menjadi 3,75 persen. Kondisi pasar yang kurang menguntungkan itu, juga terlihat di Bursa Efek jakarta (BEJ). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya naik tipis 3,049 poin menjadi 1.037,634. Investor bersikap menunggu, setidaknya sampai ada kepastian dari pemerintah soal rencana kenaikan harga BBM. Perdagangan berjalan sepi dengan transaksi sebanyak 9.709 kali pada volume 1.413.735 lot saham yang berpindah tangan senilai Rp 615,957 miliar. Sebanyak 55 saham naik, 50 saham turun dan 258 saham stagnan. Para investor hanya melakukan pembelian selektif pada sejumlah saham di setiap sektor. Pengaruhnya terlihat pada Indeks LQ-45 naik 0,782 poin menjadi 226,261, Jakarta Islamic Index (JII) naik 0,812 poin pada 176,151, Main Board Index (MBX/ indeks papan utama) naik 0,754 poin menjadi 281,909, dan Development Board Index (DBXi indeks papan pengembangan) naik 0,947 poin pada pisisi 217,059. Saham-saham yang naik harganya, di antaranya Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp 275 menjadi Rp 4.950, Medco Energi Internasional (MEDC) naik Rp 150 menjadi Rp 3.525, Perusahaan Gas Negara (PGAS) naik Rp 125 menjadi Rp 3.800, PP London Sumatra (LSIP) naik Rp 100 menjadi Rp 2,275, dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik Rp 50 menjadi Rp 2.550. Semen Cibinong BEJ mengumumkan telah mencabut suspensi (penghentian perdagangan) saham Semen Cibinong dan PT Komatsu Indonesia Tbk (KOMI) setelah sebelumnya sempat dihentikan perdaganganya. Kembali diperdagangakannya saham Cibinong setelah pihak BEJ mendapat penjelasan dari manajemen. pihak PT Semen Cibinong menjelaskan sempat menghentikan produksi, karena melemahnya kebutuhan semen di industri konstruksi dan pasar domestik belakangan ini. Kondisi ini tidak sebanding dengan perkiraan penjualan perseroan. Selain itu karena masalah meningkatnya harga minyak diesel. ''Penghentian sebuah kiln di unit produksi semen adalah praktik umum yang normal dilakukan dalam periode tertentu apabila hal itu harus dilakukan,'' kata Presiden Direktur PT Semen Cibinong, Tim Mackay, di Jakarta, Selasa. Menurut dia, penghentian tersebut tidak akan mengganggu pasokan semen pasar domestik, karena masih ada tiga unit pabrik lain yang beroperasi. Rencananya pabrik CC-1 akan kembali beroperasi 26 April 2006. ''Rentang waktu penghentian tidak beroperasinya pabrik Cilacap unit 1 akan dimanfaatkan untuk perbaikan mesin,'' ucap Tim. Mengenai rencana kenaikan harga BBM 1 Oktober mendatang, Tim mengakui, pihaknya telah mengambil langkah antisipatif. Misalnya dengan menggantikan penggunaan diesel untuk pabrik CC-1 dan penandatanganan MoU dengan PLN. Komatsu BEJ juga mencabut suspensi khusus di pasar negosiasi. Sedangkan penghentian perdagangan yang dilakukan sejak 11 Agustus 2005 di pasar reguler dan pasar tunai masih diberlakukan. ''Bursa memutuskan untuk melakukan pencabutan penghentian sementara perdagangan efek perseroan hanya di pasar negosiasi,'' kata Kepala Divisi Pencatatan Sektor Riil BEJ, Yose Rizal. (wa-33) |