| Minggu, 25 September 2005 | NASIONAL |
TeropongDampak Ekonomi Flu BurungDalam rapat kabinet Senin (20/9) lalu, Pemerintah memutuskan bahwa penyebaran flu burung di Indonesia sebagai kejadian luar biasa (KLB). Hal ini didasari sudah ada beberapa korban meninggal karena terjangkit virus H5N1 ini. Sebagian orang masih memandang flu burung dalam kacamata kesehatan, padahal ia juga memiliki dampak luar biasa terhadap sektor perekonomian. Apa sajakah dampak ekonomi KLB flu burung? PENYEBARAN virus mematikan dan belum ada obatnya ini makin serius. Bahkan, Kebun Binatang Ragunan Jakarta untuk sementara ditutup, karena sudah ada beberapa orang yang terinfeksi dari unggas di sana. Anehnya, pejabat Pemerintah tidak mempunyai kebijakan yang seragam dalam menangani virus ini. Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengatakan, kini sudah saatnya penyebaran virus H5N1 ditetapkan sebagai KLB. Sementara Gubernur DKI Sutiyoso menganggap penetapan KLB menganggu iklim investasi. Hal ini seharusnya tidak perlu terjadi, apabila ada manajemen yang baik dari pemerintah dalam menangani wabah ini. Penyebaran virus flu burung mengingatkan kita pada kejadian yang sama beberapa tahun lalu, ketika virus SARS menyebar ke Indonesia. Pada waktu itu ada beberapa warga Indonesia yang tertular virus tersebut. Penyebaran virus SARS mempunyai dampak ekonomi serius, sampai beberapa negara pusat penyebaran SARS seperti China dan Taiwan harus berjuang untuk meyakinkan dunia internasional bahwa penanganan terhadap penyebaran virus dan penderitanya sudah dilakukan secara optimal. Dampak ekonomi flu burung sekarang mulai dikhawatirkan oleh puluhan peternak unggas, terutama ayam, di Indonesia. Mereka mengalami kerugian puluhan juta rupiah akibat penularan virus tersebut. Sebagian besar peternak yang mengalami kerugian adalah peternak kecil, sehingga mereka tidak mampu melakukan penanggulangan secara benar. Para peternak kecil itu hanya mampu melakukan pemusnahan massal, karena tidak mampu membeli vaksin impor yang bisa menetralisir virus flu burung. Selain itu, Pemerintah harus melakukan tindakan pencegahan agar virus tidak menular kepada manusia. Apabila hal itu terjadi, maka negara ini akan mengalami masalah lebih serius. Saat ini dampak ekonomi penyebaran flu burung secara nasional memang belum terasa secara langsung. Namun masalah ini berkembang lebih serius, ketika banyak peternak unggas yang mempertanyakan nasib mereka pascapemusnahan ternak, lantaran kerugian yang dialaminya tidak sedikit. Seriuskah? Peternak kecil di Indonesia adalah pihak yang paling merasakan dampak ekonomi penyebaran flu burung. Thailand, yang sekarang sedang mengalami kebangkitan ekonomi dengan berbasis sektor agrobisnis, pun mengalami kerugian besar akibat penyebaran virus flu burung. Berbeda dari negara-negara maju yang mengandalkan sektor industri, negara-negara industri baru seperti Indonesia masih punya ketergantungan terhadap sektor pertanian dan komoditas primer. Ketergantungan terhadap komoditas primer seperti produk pertanian dan peternakan memang mempunyai risiko mengalami penurunan harga. Sebuah studi yang dilakukan Sarkar (1991) menyebutkan, dalam kurun waktu tahun 1980-1982 dan 1983-1986, terjadi kemerosotan nilai tukar barang-barang ekspor Indonesia. Selanjutnya Bank Dunia pada tahun 1983-1987 melaporkan, nilai tukar ekspor nonmigas Indonesia turun sebesar 6 persen. Sedangkan untuk periode 1991-1998 mengalami penurunan sampai di bawah 5 persen (Arief, 2000). Ini sebenarnya peringatan dini tentang ketergantungan Indonesia terhadap komoditas primer. Para pelaku ekonomi Indonesia sudah saatnya membangun disain industri yang punya nilai tambah tinggi. Ada dua cara yang mesti dilakukan untuk membangun disain industri nasional yang komprehensif. Pertama, strategi makro yang meliputi perbaikan kondisi politik untuk menciptakan iklim usaha yang kompetitif, penetapan regulasi, restrukturisasi perbankan, proteksi secara terbatas, promosi ekspor, perbaikan masalah perburuhan, dan perbaikan infrastruktur. Situasi politik menjelang pemilu ternyata masih kondusif dan tidak terjadi benturan antarkelompok kepentingan. Artinya, strategi pertama ini bisa dilakukan. Kedua, strategi mikro yang terdiri atas penerapan standar kualitas yang tinggi, penerapan prinsip-prinsip manajemen modern secara komprehensif dan konsisten, pembentukan lembaga riset dan pengembangan yang meliputi peningkatan inovasi produk, serta mengembangkan merek sendiri. Peternakan unggas merupakan bagian dari sektor pertanian atau agrobisnis. Selama ini, sektor pertanian di Indonesia masih dikelola secara tradisional. Inovasi yang dilakukan oleh para pelaku industri ini sangat kecil. Bandingkan dengan Thailand, dengan produk bibit ayam unggul, bibit buah unggul, dan sebagainya. Implikasi Jawa Tengah sebagai sebuah provinsi masih mempunyai ketergantungan terhadap sektor pertanian dan peternakan. Studi yang dilakukan Ropingi dan Artanto (2002) menguji hipotesis peran sektor peternakan dan pertanian dalam pengembangan perekonomian di Jawa Tengah, menggunakan analisis input-output. Hasil penelitian tersebut mendukung hipotesis bahwa sektor peternakan dan pertanian memiliki kontribusi terbesar terhadap perekonomian di provinsi ini. Penelitian ini juga menyebutkan, sektor peternakan dan hasil-hasilnya merupakan leading sector atau sektor kunci perekonomian Jawa Tengah. Hasil penelitian itu bisa dijadikan referensi bagi Pemerintah Indonesia pada umumnya dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah khususnya, agar menyikapi secara serius penyebaran flu burung. Sebab KLB ini bisa berdampak serius terhadap perekonomian. Pemerintah hendaknya mengambil langkah yang cepat dan tepat dalam mengatasi penularan virus ini. Hal-hal yang bisa dilakukan antara lain membantu peternakan rakyat dalam menghadapi kasus ini. Selain itu, DPR juga menyetujui tambahan anggaran untuk memberi vaksin secara gratis kepada peternakan rakyat. Tindakan yang tepat dan cepat akan mengurangi dampak negatif penyebaran virus flu burung terhadap perekonomian nasional. (32) --Anton A. Setyawan, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta. |