| Minggu, 25 September 2005 | NASIONAL |
22 Provinsi Terjangkit Flu Burung
JAKARTA-Virus flu burung yang akhir-akhir ini menjadi momok yang mengerikan, kini mulai menjangkiti unggas di 22 provinsi di Indonesia. Bahkan ada empat wilayah yang dinyatakan paling hitam. "Yang paling hitam tandanya itu, antara lain di Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi Selatan," kata Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P3L) Departemen Kesehatan, I Nyoman Kandun di Kantor Direktorat P3L, Jl Percetakan Negara, Jakarta Pusat, Sabtu (24/9). Namun demikian, Nyoman Kandun tidak merinci 22 provinsi yang dimaksudkan itu. Menurut dia, ada 6 strategi yang telah dijalankan untuk mengantisipasi virus flu burung tersebut, tanpa menjelaskan lebih terinci enam strategi tersebut. "Kami bersama Departemen Pertanian telah melakukan koordinasi meningkatkan daya tahan unggas dan menambah jaringan laboratorium," ujar Kandun. Lamban Sementara itu, Menteri Pertanian (Mentan) Anton Apriyantono dinilai lamban di dalam merespons penyakit flu burung yang menjangkiti masyarakat Indonesia. Bahkan, hingga saat ini Mentan belum mengeluarkan suatu pernyataan ataupun upaya lain secara aktif tentang partisipasi Departemen Pertanian, terutama untuk menangani merebaknya virus ini melalui unggas. Hal tersebut dikatakan pengamat kesehatan, dokter Marius Wijayarta, Sabtu (24/9), di Jakarta. ''Mentan sangat lamban di dalam merespons flu burung di Indonesia. Ini dapat dilihat hingga kini dia belum mengeluarkan pernyataan secara resmi terkait masalah tersebut.'' Marius mengatakan, saat ini yang sedang ditunggu masyarakat adalah pernyataan dari Mentan, apakah unggas yang dipelihara oleh masyarakat sudah termasuk ke dalam kejadian luar biasa (KLB) atau malah sudah menjadi wabah. ''Saat ini masyarakat kita bingung, kerena Mentan tidak melakukan apa-apa sehingga yang terjadi masyarakat mudah panik bila hewan peliharaannya mati mendadak,'' katanya. Seharusnya, kata dia, Mentan segera membuat pernyataan dan penjelasan tentang kejadian flu burung yang juga menimpa unggas. ''Penjelasan ini diperlukan, supaya masyarakat tidak kebingungan. Mentan juga harus memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang penanganannya bila terdapat unggas yang mati seketika,'' katanya. Jika mau berhasil, kata Marius, Menkes dan Mentan harus berkoordinasi bersama di dalam menyelesaikan masalah flu burung. ''Saya lihat Menkes sudah berani, hanya tidak diimbangi dengan Mentan. Ya tidak akan berhasil,'' katanya. Sementara itu, Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari mengatakan, pihaknya hingga saat ini telah menerima kucuran dana Rp 65 miliar dari total pengajuan Rp 172 miliar khusus untuk menangani kasus flu burung ini. ''Dana tersebut sudah disetujui DPR dalam pembahasan pengajuan anggaran belanja tambahan,'' katanya. Sisanya, kata Menkes, akan diambilkan dari dana bencana yang juga sudah disetujui Presiden. ''Dengan demikian, estimasi total yang kita miliki saat ini adalah Rp 65 miliar ditambah dengan Rp 150 miliar. Ini belum termasuk dengan bantuan yang kita dapat dari Amerika Serikat dan Jepang,'' katanya. Menurut Menkes, bantuan yang diberikan baik oleh WHO maupun Jepang dan Amerika Serikat bukan dalam bentuk dana segar. ''Saya lebih membutuhkan bantuan peralatan seperti laboratorium tes darah rapid diagnostic test sehingga kita tidak perlu lagi mengirimkan sampel darah ke Hong Kong,'' katanya. Ditanya mengapa sampel darah tetap dikirim ke Hong Kong, bukan dilakukan di Indonesia, Menkes mengatakan, hal tersebut sudah sesuai dengan imbauan dari WHO. ''WHO tidak pernah lepas dari kita dan kita sudah berjalan di track yang benar. Namun saat ini kita sedang membangun laboratorium kolaboratif center dengan Hong Kong sehingga di masa depan kita akan memiliki laboratorium sendiri,'' katanya.(aih,A20,dtc-34,48t) |