| Minggu, 25 September 2005 | NASIONAL |
Penembakan di Tanah MasKorban Dimakamkan di Desa Asalnya
RUMAH tembok di sebelah barat jalan lingkar selatan Plelen, Gringsing, Kabupaten Batang yang atapnya sedang direnovasi itu sejak kemarin didatangi para pelayat. Mereka kebanyakan baru mengetahui kalau korban penembakan di Semarang, adalah Sherly (25) yang ternyata putri asli Desa Surodadi Kecamatan Gringsing. Kedua orang tua korban, Tatang (53) dan Sri Mardiningsih (43), meskipun terlihat tabah atas kematian putri pertama dari tiga bersaudara, raut muka keduanya tidak bisa menyembunyikan rasa duka yang mendalam. Peristiwa pembunuhan sebenarnya sudah banyak diketahui beberapa warga Surodadi yang menyaksikan peristiwa itu dari layar televisi. Namun, banyak warga yang mengaku kaget dan tidak menyangka korban adalah tetangganya. Jenazah ibu dari Valencia Lauren (2) alias Li Ling, kemarin tiba di rumah duka pukul 11.00. Setelah dishalatkan di mushala yang terletak kurang lebih 200 meter dari rumah orang tua korban, jenazah dimakamkan di pekuburan Dusun Penjalin. Tatang menjelaskan, pada Jumat sore (23/9), dia didatangi orang tua Dwi Purwadi alias Cen Cen (35) yang tak lain suami Sherly. ''Saya diberi tahu, pertama jangan kaget. Pokoknya saya dan istri diminta segera berangkat ke Semarang.'' Dia semakin bingung karena waktu itu belum diberitahu kejadian yang sebenarnya. Hanya, setelah didesak akhirnya mereka berdua mendapat penjelasan kalau Sherly mengalami kecelakaan dan sekarang berada di RS Dokter Karyadi. Begitu memperoleh kabar, Tatang langsung berangkat ke Semarang dan langsung menuju rumah sakit. ''Sesampainya di rumah sakit, Sherly sudah meninggal dunia. Lebih terkejut lagi karena ditembak,'' ujar Tatang. Didampingi istri, malam itu dia melihat kondisi jenazah putrinya. ''Ada bekas jahitan panjang mulai dada kiri, katanya bekas lubang peluru yang bersarang di pinggang kanan,'' tuturnya. Setelah semua urusan beres, kemarin pagi jenazah Sherly dibawa ke Suradadi. Selanjutnya, jenazah dimakamkan di pekuburan yang terletak di atas bukit. Sebagian besar masa kecil Sherly ada di Batang, dia sekolah SD di Desa Madugowonjati Kecamatan Tersono, tempat ibunya berasal. Selanjutnya, wanita itu meneruskan ke SMP Negeri 2 Gringsing di Surodadi. Setelah itu, melanjutkan ke SMEA Negeri di Dracik Kampus, Batang. Tahun 2003, dia disunting Cen Cen, putra juragan tembakau asal Weleri, Kabupaten Kendal. Kemudian pasangan itu membuka toko kelontong, meskipun masih tinggal serumah dengan mertua. Entah mengapa mereka kemudian memilih keluar dari rumah mertua dan pindah ke Semarang. Selanjutnya, pasangan itu menempati rumah di Tambakmas Timur B-71, Perumahan Tanah Mas. Menurut Tatang, terakhir kali Sherly pulang ke Surodadi pada Agustus 2005. Saat itu, dia bersama suaminya, Cencen dan Li Ling. ''Itu kali terkahir kami bertemu Sherly.'' Beberapa tetangga mengatakan, korban anak yang baik. Bahkan waktu menikah, warga sekitar tempat tinggal diundang. ''Saya ingat pernikahannya waktu itu dilaksanakan di Hotel Patra Jasa Semarang,'' ujar Handoko, tetangga Tatang. Beberapa tetangga, baik di Madugowongjati dan Surodadi menuturkan, Sherly rajin. Selain itu, ramah terhadap siapa saja. ''Saya tahu persis Sherly karena saya tetangganya di Madugowongjati pada waktu dia masih SD. Bahkan waktu sekolah SMP dan SMEA, dia masih sering main ke desa ibunya,'' ujar Suyanto, tetangganya. Di antara pelayat juga terlihat beberapa anggota Polsek Gringsing yang mendatangi rumah korban. Sementara itu, di bagian tengah sudah disiapkan tikar untuk selamatan dan tahlilan.(Arif Suryoto-34m) | ||||