logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 25 September 2005 NASIONAL
Line

Jenazah Sherly Jadi Rebutan

SEMARANG - Kisah tragis Sherly (25) warga Jl Tambakmas Timur B-71, Perumahan Tanah Mas, Semarang yang tewas ditembak lelaki tak dikenal belum berakhir. Cerita duka masih berlanjut meski ajal telah menjemputnya. Sehari setelah meninggal, jenazah ibu satu anak itu diperebutkan suaminya, Dwi Purwadi alias Cen Cen (35) dengan pihak orang tua angkat almarhum yang berdomisili di Batang.

Sementara itu, penyelidikan terhadap kasus itu masih terhalang tabir gelap. Polisi belum bisa memastikan dan membongkar motif penembakan tersebut. Pelaku hingga kemarin juga masih misterius.

Rebutan jenazah Sherly itu bermula saat suami korban hendak mengambil jenazah istrinya untuk dimakamkan di Weleri, kampung asal korban. Sekitar pukul 09.00, ketika dia sampai di ruang lelayu RS Panti Wilasa Citarum, tempat almarhum disemayamkan, jenazah istrinya itu ternyata sudah tidak ada.

Pihak rumah sakit memberikan informasi bahwa jenazah Sherly sudah diambil ayah angkatnya, Tatang bersama istri dan seorang anak, bernama Dian. Mereka warga Desa Surodadi Kecamatan Gringsing, Batang. Jenazah dibawa dengan mobil ambulans.

Tak diketahui secara pasti, bagaimana Tatang bisa meyakinkan pihak rumah sakit sehingga diperbolehkan membawa jenazah Sherly.

Padahal malam sebelumnya, dia sudah mewanti-wanti petugas di rumah sakit tersebut agar tidak mengizinkan siapa pun mengambil jenazah istrinya.

Tidak Terima

Dia mengaku sangat kecewa dan tidak bisa menerima kejadian itu. Dia merasa dilangkahi. Sebab sesuai dengan kelaziman, hak utama mengurus jenazah berada di tangan orang terdekat almarhumah. ''Saya ini suaminya, kok mereka main ambil jenazah istri saya seenaknya,'' katanya. Lelaki itu lantas melapor ke Polwiltabes.

Kepada petugas Sentral Pelayanan Kepolisian (SPK), dia minta bantuan agar ambulans dihentikan di tengah jalan dan diminta kembali ke Semarang. Anggota SPK kemudian mengontak aparat Patroli Jalan Raya (PJR) dan jajaran kepolisian di jalur yang dilewati ambulans.

Melalui handphone Cen Cen, polisi juga menghubungi keluarga almarhumah di Batang dan meminta mereka tidak menguburkan jenazah terlebih dahulu. Suami Sherly beberapa kali saling kontak dengan iparnya, Dian. Dia terlihat emosional karena kerabat angkat almarhum tetap bersikeras memakamkan jenazah di Batang.

Ditemani sopir, dia kemudian menyusul ke kota itu. Dua anggota SPK mengikuti dari belakang dengan mobil patroli. Namun di tengah jalan, polisi kehilangan jejak lelaki itu. Ketika sampai di Batang, kedua polisi itu mendapati jenazah sudah dikebumikan. Yang janggal, hingga mereka pulang kembali ke Semarang, Cen Cen tidak sampai juga.

Dua Kemungkinan

Penyelidikan kasus penembakan Sherly tampaknya tidak akan berjalan mudah. Hingga kini, motif pembunuhan masih gelap. Kabar yang beredar, ada dua kemungkinan yang melatarbelakangi peristiwa itu. Pertama, masalah asmara. Kedua, berhubungan dengan persaingan bisnis.

Namun dua kemungkinan itu pun masih sumir. Soal asmara misalnya, sejumlah tetangga korban membantahnya. Mereka mengatakan, kehidupan pasangan itu selama ini terlihat baik-baik saja. Keduanya tak pernah bertengkar apalagi rumah tangga mereka sampai goyah.

''Setahu saya, tidak ada permasalahan berarti,'' ujar Iwan, tetangga korban.

Demikian pula soal persaingan bisnis. Pasangan itu punya toko kelontong dan jamu di bagian samping rumah. Beberapa warga lain juga memiliki toko serupa. Namun, semua berdagang seperti biasa.

Tak tampak persaingan bisnis yang mencolok. Toko yang lebih sering ditunggui pembantu Nurhayati (16) itu juga tak terlalu ramai sehingga kecil kemungkinan ada pemilik toko lain yang merasa iri dan sampai hati menyakiti Sherly.

Reka Ulang

Kasat Reskrim Polwiltabes AKBP Drs Wagisan mengungkapkan, untuk mengungkap kasus itu, pihaknya akan memintai keterangan orang-orang terdekat korban. Hal tersebut akan dilakukan 1-2 hari ke depan, sambil menunggu duka keluarga mereda.

Beberapa orang seperti Cen Cen, Nurhayati, dan sejumlah saksi lain memang sudah dimintai keterangan, tapi belum detail. ''Mereka baru diwawancarai secara umum, belum terperinci karena masih berduka,'' ujarnya.

Menurut Wagisan, ada dua tembakan yang dilepaskan pelaku. Tembakan pertama mengenai Sherly dan langsung menewaskan wanita itu. Tembakan kedua diarahkan ke atas, diduga untuk menakut-nakuti orang-orang yang ada di sekitar lokasi.

Meski demikian, polisi hanya mendapati satu selongsong peluru di tempat penembakan, dekat kios ikan milik Supranti. Polisi juga sudah menyita sebutir peluru yang diangkat dokter forensik dari tubuh Sherly saat autopsi.

Peluru itu telah dikirim ke Laboratorium Forensik Cabang Semarang untuk diteliti lebih jauh. Dari situ akan diketahui kaliber peluru serta jenis senjata yang digunakan pelaku. (G3-34m)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA