logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 25 September 2005 BINCANG BINCANG
Line

Gairah Hidup Gerd Mueller Indonesia

SEPAK bola membuat hidup Bambang Nurdiansyah penuh warna. Lewat sepak bola, nama pria kelahiran Banjarmasin, 28 Desember 1959 itu melegenda. Prestasinya sebagai pesepak bola nyaris sempurna. Tak cuma berkiprah di Liga Sepak Bola Utama (Galatama) pada zaman keemasannya, tetapi juga menjadi pilar utama tim nasional (timnas) Indonesia. Sebagai pemain, dia mempersembahkan medali emas SEA Games 1991 di Manila.

Sebelumnya dia mengantar Indonesia menjadi juara sub Grup IIIB Pra-Piala Dunia 1985, salah satunya dengan menyingkirkan Thailand. Prestasi lainnya adalah tampil di Piala Dunia Yunior 1979 di Jepang, dan salah satunya bertemu dengan tim Argentina yang diperkuat Diego Armando Maradona, yang kemudian tampil sebagai juara.

Empat musim berturut-turut merebut gelar top score di Galatama adalah bukti kemampuannya yang andal sebagai bomber yang menakutkan penjaga gawang lawan. Suami Kenyo Rini itu secara fenomenal bahkan mengukirnya dengan tiga klub yang berbeda. Dimulai musim 1983/1984 dan 1984/1985 untuk klub Yanita Utama, dia kembali mencetak gol terbanyak di Kramayudha Tiga Berlian musim 1985/1986. Tak puas dengan prestasi itu, ayah Roni Septanto Wicaksono dan Lauda Zulfikar itu kembali mencatatkan prestasi saat membela Pelita Jaya musim 1986/1987.

Mantan pelatih timnas U-21 ini mendapat julukan "Gerd Mueller Indonesia", karena ketangguhannya mengoyak jala gawang serupa pahlawan Jerman di Piala Dunia 1974 itu. "Penampilan saya di lapangan mirip Mueller, efektif dan efisien. Dapat bola, balikkan badan, tendang. Saya tak pernah lama mengolah bola. Waktu itu badan juga masih besar dan kokoh seperti pemain Jerman itu," papar dia. Setelah gantung sepatu sebagai pemain, dia menjadi manajer pemasaran di sebuah perusahaan ternama selama tiga tahun. Sepak bola ternyata lebih menarik baginya. Dia pun memutuskan menjadi pelatih sebagai jalan hidup.

Persiapan yang matang dan perencanaan menjadi prinsip hidupnya. Dia tak ingin tanggung menjalani pilihan itu. Sejak masih menjadi pemain, Bambang mempersiapkan diri dengan baik agar profesi sebagai pelatih bisa dilakoni dengan sempurna. Berbagai sertifikat kepelatihan telah dikantongi sebagai bukti kesungguhan.

"Dalam hidup ini, semuanya harus dipersiapkan. Selain bermain sepak bola, saya juga bisa mendapatkan gelar sarjana. Saya sadar, suatu saat akan pensiun sebagai atlet. Saya juga mengharapkan mereka yang sekarang menjadi atlet bisa mempersiapkan diri, sehingga bila saatnya pensiun ada bekal untuk menghadapinya," ungkap dia.

Semua yang dia raih tentu bukan kebetulan semata, melainkan lewat perjuangan panjang. Terlahir sebagai "anak kolong", dia mengaku cukup nakal semasa kecilnya. Selain main sepak bola, waktu dihabiskan di lintasan untuk kebut-kebutan.

Bambang mendapat cobaan besar saat ayahnya M Sidik meninggal dunia. Sebagai anak sulung, dia bertanggung jawab atas ibu dan adik-adiknya. "Itu masa-masa sulit yang menempa saya hingga menjadi seperti ini. Setelah melewati semua itu, saya merasa semakin dewasa," kenang dia.

Beragam pengalaman melatih nyaris nyaris lengkap dia peroleh. Bambang melatih tim sekelas Porda di Bangka, dan tim wartawan SIWO PWI Jaya yang tak memiliki dasar profesional sebagai pesepak bola. Setelah menukangi tim divisi II Persikabo Bogor, dia melanjutkan karier di klub Liga Indonesia, PSIS Semarang. Tim nasional U-21 pernah diantarkan merebut gelar juara pada Piala Hasanal Bolkiah pada 2002. Tim putri pun dia besut pada SEA Games 2001.

"Tentu saja ada perbedaan-perbedaan dalam melatih berbagai tim itu. Masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan. Hal itu justru memperkaya khazanah ilmu kepelatihan yang saya geluti."

Dia mengakui, anak-anaknya menjadi motivasi utama untuk mencapai yang terbaik. Menurut pendapat dia, mereka selalu berusaha menyaksikan penampilan tim yang diarsiteki apabila disiarkan di televisi. Tak urung, hal itu mendorong dia untuk selalu menjadi yang terbaik.

Meski Bambang berkiprah di dunia sepak bola, justru dunia otomotif yang menjadi hobinya. Bergelut dengan si kulit bundar setiap hari membuat dia agak jenuh. Lintasan balap pun dipilih sebagai tempat menghilangkan kebosanan. "Sejak kecil saya suka balapan. Semangat berjuang dan berani menerima tantangan adalah salah satu filosofi dari dunia balapan," kata dia.

Adakah ambisi yang belum digapainya? "Ada. Menjadi juara Liga Indonesia," tandas dia sambil tersenyum.

Pria kelahiran Banjarmasin 28 Desember 1959 ini dipastikan gagal mencapai ambisi itu karena PSIS hanya bertarung di perebutan juara ketiga. Namun, lulusan Sarjana Informatika Bisnis Manajemen ini tak terlalu kecewa. Sebab Emmanuel de Porras dan kawan-kawan tetap semangat unjuk kekuatan. Ini membuat dia cukup puas. (Abduh Imanulhaq-35)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA