| Minggu, 25 September 2005 | BINCANG BINCANG |
Bambang Nurdiansyah:Sepak Bola Nasional Bisa DiselamatkanBAMBANG Nurdiansyah adalah salah satu pelatih yang bersinar di Liga Indonesia musim 2005. PSIS, tim besutannya mampu menjejakkan kaki di babak delapan besar dan nyaris menggapai tiket ke final sebelum tersingkir dengan cara tak ksatria. Mantan pelatih timnas U-21 ini disebut-sebut sebagai pelatih lokal terbaik di antara kesuksesan sejumlah pelatih asing. Dari empat tim yang tergabung di Grup C dan berlaga di Jakarta (Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, PSIS, dan PSM Makassar), Bambang merupakan satu-satunya pelatih dalam negeri. Ahli meracik strategi dan menyusun taktik ini berhasil memadukan materi pemain-pemain asing dan lokal dengan solid dan kompak. Dia juga menghadirkan kekuatan tim dengan menggabungkan pemain-pemain muda bertalenta dan para pemain senior berwibawa. Terbukti, Emmanuel de Porras dan kawan-kawan mampu menunjukkan permainan terbaik selama babak delapan besar berlangsung. Apa komentar dia tentang PSIS dan sepak bola Jateng? Berikut petikan perbincangan dengan legenda hidup sepak bola nasional ini di sela-sela kesibukan mengarungi babak delapan besar. Bagaimana penilaian Anda terhadap kemajuan sepak bola JawaTengah? Sepak bola Jawa Tengah berkembang dengan pesat. Bahkan, belakangan ini Jateng menjadi salah satu barometer sepak bola nasional bersama Jawa Timur dan Sumatera Utara. Banyak sekali pemain nasional yang disumbangkan oleh daerah ini. Dari tahun ke tahun, kita misalnya bisa melihat nama-nama seperti Kurniawan Dwi Yulianto, Indriyanto Nugroho, Eko Prasetyo, dan juga kiper Kurnia Sandy. Untuk generasi terbaru, mereka yang berada di tim nasional U-20 yang kini bermarkas di Bantul dan menjadi inti kekuatan Persiba itu juga berisi banyak anak Semarang. Selain itu, banyak pemain muda asal Jateng yang kini berkiprah di klub-klub peserta Divisi Utama Liga Indonesia ini. Dulu, Surabaya dan Medan itu cukup mendominasi. Seiring fenomena semakin berkembangnya sepak bola di Jateng, tentu saja prestasi yang diraih juga akan meningkat, pembinaan juga bisa berjalan baik dan pemain-pemain muda dengan talenta-talenta tinggi bisa terjaring. Kiprah Anda di PSIS disebut oleh sebagian kalangan sebagai botol nemu tutup. Anda dianggap berada di tempat dan waktu yang tepat. PSIS saat ini bermaterikan pemain-pemain muda berbakat, sementara Anda memiliki kapabilitas tinggi sebagai pelatih. Benarkah? Suasana di PSIS itu kondusif. Manajemen dan para pemain memiliki hubungan yang dekat. Saya juga memiliki hal serupa. Saya dekat dengan para pemain. Namun itu hanyalah salah satu aspek saja. Yang jelas saya tak pernah berhenti belajar. Apakah Anda memilih sendiri para pemain PSIS? Ya, harus dong. Saya tak mau menerima materi yang sudah jadi. Semua pemain dipilih sesuai dengan persetujuan saya. Ada kesulitan selama melatih PSIS? Tak ada! Tak ada kesulitan. Apa penilaian Anda terhadap kondisi persepakbolaan nasional sekarang ini? Manajemen persepakbolaan kita harus diubah secara total. Perubahan mutlak dilakukan dan tak bisa ditawar-tawar lagi. Terkait dengan kemunduran Persebaya, tentu kami kecewa. Mereka telah menghilangkan kans dua tim lainn untuk melaju ke final. Namun di sisi lain saya bisa mengerti mengapa mereka berbuat semacam itu. Kemunduran Persebaya adalah akumulasi ketidakpuasan terhadap Persija dan PSSI. Mudah-mudahan tindakan mereka bukan disebabkan oleh ketakutan semata. Mungkin karena khawatir pulang dimaki-maki masyarakat Surabaya dan dihujat, lalu Haji Santo, Ketua Harian Persebaya, mencari alasan. Kalau itu yang sesungguhnya terjadi, saya menyesalkan. Mudah-mudahan semua pihak segera melakukan introspeksi. Apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki kondisi sepak bola nasional? Lebih konsisten dalam segala hal! Mulailah dari penegakan atura yang berlaku. Integritas pengurus PSSI juga harus ditingkatkan. Selama ini, badan tertinggi sepak bola nasional itu tak berwibawa. Banyak orang bermain untuk kepentingan sendiri. Contoh jelas dari tak ditaati aturan bisa dilihat dari kepemimpinan wasit. Ada indikasi mereka menjalankan "pesan-pesan sponsor". karena itu seharusnya sanksi yang diberikan terhadap semua pelangar harus tegas dan jelas. Sebagai salah satu pelatih lokal yang dinilai sukses, apa komentar Anda tentang kehadiran pelatih asing? Keberadaan pelatih asing itu menguntungkan. Namun jangan cuma kulit doang yang asing. Pelatih asing diperlukan untuk mentransfer pengetahuan. Kita memang perlu belajar. Namun kalau kualitas mereka biasa saja, bahkan di bawah pelatih lokal, itu bisa menjadi preseden buruk bagi persepakbolaan nasional. Bagaimana dengan keberadaan pemain asing? Sama saja. Kalau pemain asing itu lebih tinggi kemampuannya, ya tak perlu menggunakan mereka. Ada dua alasan kenapa klub-klub kita melibatkan mereka. Pertama, mereka dibutuhkan untuk mendongkrak prestasi klub. Kedua, untuk hiburan. Kalau tak mendongkrak atau tak memberi contoh baik, ya apa guna menggunakan mereka. Apa tanggapan Anda terhadap kegusaran pelatih tim nasional, Peter Withe, dengan regulasi yang memperbolehkan digunakannya lima pemain asing dalam pertandingan Liga Indonesia? Saya setuju sekali dengan Peter Withe. Peter Withe bisa ngomong seperti itu karena dia itu mengerti bal-balan. Regulasi seperti itu merugikan sekali bagi kemajuan sepak bola nasional. Para pemain muda bertalenta jadi tak kebagian tempat. Perlukah Indonesia menaturalisasi pemain-pemain asing bertalenta agar dapat memperkuat tim nasional dan mengembangkan sepak bola seperti yang dilakukan Singapura? Saya pikir hal itu tak perlu. Apa penilaian Anda terhadap keberadaan suporter yang fungsinya terlihat semakin melenceng? Suporter itu tetap penting. Namanya saja pendukung, ya perilakunya harus bisa memotivasi para pemain untuk lebih bagus berprestasi. Yang penting, mereka jangan bertindak anarkis. Adakah perbedaan suporter masa kini dari suporter saat Anda masih aktif bermain dulu? Saat saya masih bermain belum ada suporter seperti sekarang ini. Mereka menonton dengan spontanitas, tidak dikoordinasi. Mereka yang menamakan dirinya orang Surabaya, menonton bola saat Persebaya bertanding. Saat itu, penonton datang ke stadion lebih disebabkan oleh kualitas permainan. Kualitas dalam pengertian tidak ada pemain yang berkelahi atau melakukan tawuran di lapangan. Jadi, mereka adalah penonton yang memang datang hanya untuk menonton. Kalau sekarang, saya lihat yang datang adalah penonton yang dikoordinasi, sementara mereka yang benar-benar ingin menonton malah ketakutan. Akibatnya, jumlah penonton berkurang dan mengakibatkan kerugian. Hemat saya, suporter memang harus bisa menerima kekalahan. Harus dapat menghadapi kenyataan bahwa timnya memang kalah. Memang perlu waktu, tetapi harus dicoba. Kalau memang kalah oleh tim yang lebih tinggi kualitasnya, mengapa suporter harus mengamuk? Itu yang harus disadari oleh para suporter. Adakah manfaat penayangan liga-liga terbaik di dunia oleh stasiun televisi bagi kemajuan sepak bola nasional? Tayangan itu sekadar membantu pemain bersikap di lapangan. Hal itu akan percuma kalau pembinaan kita tak jelas, kompetisi carut marut, dan organisasi tak benar. Zaman dulu tak ada tayangan sepak bola asing. Namun boleh dibilang sepak bola Indonesia diperhitungkan. Saya tak bilang bagus, tetapi sepak bola Indonesia pernah disegani. Dengan tak ada pola pembinaan yang baik, kompetisi carut marut, dan muncul anarkisme suporter yang tak ketulungan, masih adakah harapan bagi sepakbola nasional untuk berkembang? Ooo, pasti. Kalau saya bilang tak ada harapan, berat, repot. Apa pun situasinya, kita harus optimistis. Sepak bola nasional masih bisa diselamatkan. Tentu semua pihak yang terlibat harus melakukan introspeksi. Kita harus mengambil hikmah dari berbagai kejadian. Perlu ada imbauan-imbauan dari pemilik klub, manajemen suporter, misalnya. Sesungguhnya, sepak bola Indonesia ini memiliki potensi yang besar. Penduduknya banyak, rata-rata menyukai sepak bola. Dari sisi bisnis juga bisa digarap dengan baik. Di Indonesia, sepak bola adalah olah raga rakyat. Kalau penonton banyak dengan fanatisme tinggi itu tak bisa digarap, maka yang salah adalah kita sendiri, para pelaku sepak bola nasional. Jika sepak bola nasional tak maju, kitalah yang harus bertanggung jawab. Kalau kita mau introspeksi, dan membuka mata, saya optimistis sepak bola nasional bisa maju. Pernahkah Anda belajar dari pelatih asing? Dengan siapa saja? Ooo, banyak. Terakhir saya belajar dari Rafael Benitez (Manajer Liverpool). Saya belajar dari banyak orang, termasuk dari pelatih-pelatih lokal senior. Menurut pendapat saya, kita bisa belajar dari siapa pun, karena setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Saya masih ingin dan terus belajar, karena sepak bola bukan ilmu hukum yang berhenti di tempat. Tak ada perubahan. Sepak bola tak beda dari hi-tech, teknologi tinggi. Kalau kita tak mengikuti, kita akan ketinggalan. Bagaimana metode Anda dalam membesut tim menjadi kekuatan yang diperhitungkan lawan? Yang jelas, saya tidak melatih semua hal kepada para pemain. Saya perlu tahu dulu, sektor mana yang perlu dibenahi. Jika ada yang keropos, ya hal itu dulu yang terus diperbaiki. Yang penting kita tahu apa maksud dan tujuan pelatihan yang kita berikan itu. Ada beberapa pelatih yang mencoba mengajarkan semua ilmu yang dimiliki. Dulu, misalnya sewaktu dia menjadi pemain, dia lihat pelatih mengajarkan A. Hal A itu kembali diajarkannya kepada pemain, karena dia berpikir, "Ini dulu diajarkan pelatih saya." Dia tidak tahu apa tujuannya. Hal itu bukan saja tidak efektif, tapi juga merugikan. Selama ini saya juga dibantu oleh tim. Untuk fisik saya dibantu Pak Djanu Ismanto. Latihan apa yang perlu agar pemain kembali bugar, saya tanyalan kepada beliau. Untuk masalah kesehatan pemain, saya bertanya kepada Pak dokter Elang Sumambar. Masih banyak juga pelatih yang saya kira belum tahu soal VO2max dan semacamnya. Saya menyayangkan meereka yang langsung melatih klub setelah berhenti sebagai pemain. Masa hanya karena menjadi pemain nasional, merasa bisa melatih. Padahal, kepelatihan itu bersifat akademis. Harus menempuh berbagai macam pendidikan dan memiliki lisensi. Itulah sebabnya saya belajar, belajar, dan terus belajar. (Abduh Imanulhaq-35) |