logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 21 September 2005 SALA
Line

Pendirian Pabrik Susu Berikan Tambahan Pendapatan Peternak

PREDIKAT Kabupaten Boyolali sebagai Kota Susu tampaknya kini semakin eksis menyusul berdirinya sebuah pabrik susu. Pabrik pengolahan susu kental manis yang dibangun di kompleks Gabungan Koperasi Indonesia (GKSI) di Desa Winong, Kecamatan Boyolali itu akan memberikan nilai tambah produk susu yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi pendapatan bagi koperasi susu dan peternak.

Menteri Koperasi dan UKM Drs Surya Dharma Ali ketika meresmikan pendirian pabrik susu, Jumat (17/9) lalu, menyambut baik dan meminta masyarakat untuk gemar minum susu. Sebab, susu impor sudah mulai merambah ke dalam negeri sehingga mau tidak mau kita harus bersaing.

Untuk meningkatkan pemasaran, salah satu upaya yang harus dilakukan adalah melalui gerakan minum susu.

Pemasaran susu, kata Surya, hendaknya seperti pemasaran batik di Kota Pekalongan.

Di kota itu, dalam situasi ekonomi sulit pun pengusaha batik tetap eksis dan bertahan. Sebab, warga Pekalongan punya tradisi mengenakan batik pada hari tertentu.

Tidak ada salahnya kita meniru pemasaran batik di Pekalongan dengan gerakan minum susu. ''Namun pelaksanaan gerakan minum susu memang tidak semudah yang dibayangkan. Bahkan belum tentu kulkas di dalam rumah tersedia susu kental manis,'' kata Menteri.

Kapasitas Terpasang

Menurut Ketua Umum GKSI Ir Yoyok Sunaryo, berdirinya pabrik pengolahan susu itu adalah wujud dari komitmen bersama GKSI, koperasi primer/KUD, peternak, dan pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM.

Berdirinya pabrik itu juga sangat diinginkan oleh seluruh jajaran koperasi peternak sapi perah agar GKSI mampu memberikan pelayanan yang lebih baik kepada anggotanya. Pabrik susu kental manis di Boyolali mampu memproses produk-produk susu dengan standar internasional. Pabrik susu ini merupakan tonggak sejarah baru perkembangan usaha peternakan sapi perah ke depan.

Bagi perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang persusuan, pabrik itu merupakan uluran tangan koperasi persusuan untuk bekerja sama dalam hal menghasilkan produksi sejenis untuk mendekati pasar lokal.

Kapasitas terpasang pabrik susu, menurut Yoyok, mencapai 400 ton per hari. Namun hingga sekarang baru bisa digunakan 50 ton per hari. Dengan demikian, masih banyak peluang untuk memproduksi. Pabrik itu melayani kebutuhan dalam negeri. Dia menambahkan, susu impor yang masuk ke Indonesia sekarang mencapai 70% dan susu dalam negeri (lokal) baru sekitar 30%. Idealnya, susu lokal yang beredar 50-60 persen. Karena itu, masih diperlukan pemberdayaan peternakan rakyat.

Proses pendirian pabrik susu yang dilengkapi ruang pendingan, ruang produksi, dan berbagai ruang lainnya itu menelan biaya miliaran rupiah dan dikerjakan secara bertahap mulai tahun 2003. (Suti Harjoyo-16n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA