| Rabu, 21 September 2005 | PANTURA |
Harga Solar Naik Pengusaha Mal "Jantungan"TEGAL - Manajer Pasaraya Sriratu Mal Pacific Area Tegal, Drs Tri Budi Suharyono, mengatakan jantung para pengusaha mal di kota Tegal berdegup lebih keras, karena harga solar naik lebih dari 100 persen. Menurut Budi, Selasa (20/9) kemarin, harga solar naik dari Rp 2.220/liter menjadi Rp 5.350/liter. Padahal, kebutuhan solar Sriratu Mal Pacific dalam satu bulan sekitar 85.000 liter. Itu berarti, harus ada dana sekitar Rp 200 juta/bulan untuk membeli solar. Dia menyebut solar sebagai "jantung mal", karena bahan bakar tersebut digunakan untuk menghidupkan mesin diesel, yang antara lain untuk mengoperasikan AC, eskalator, dan penerangan. Ironisnya, kata Budi, kalau mal meninggalkan solar - yang berarti tidak mengoperasikan diesel - PLN tidak akan mampu menyuplai kebutuhan listrik untuk mal. "Kami benar-benar kesulitan. Sebelum harga solar naik, kami sebenarnya sudah melakukan efisiensi secara maksimal. Sekarang, sektor mana lagi yang akan diefisiensikan," ujarnya. Melakukan pemutusan hubungan kerja, tidak mungkin. Sebab, jumlah tenaga kerja di mal tersebut sekarang sekitar 427 orang, dan jumlah itu merupakan kebutuhan ideal. Menghadapi situasi sulit seperti itu, dia merasa bingung dalam memprogram penjualan tahun depan. Menyinggung peluang penjualan pada lebaran nanti, Budi mengatakan belum bisa memprediksi. Apalagi, daya beli masyarakat Tegal dan sekitarnya saat ini makin turun. Kalangan nelayan yang sering membeli barang di mal, juga sedang kelabakan akibat naiknya harga solar. Yang memprihatinkan, ketika harga solar naik, persaingan antarmal di Tegal malahan tambah ketat. Sebab dalam waktu hampir bersa-maan muncul empat mal besar baru, yakni Pacific, Rita, Dedy Jaya, dan Moro.(aj-58) |