| Senin, 19 September 2005 | RAGAM |
Keberadaan Manusia lewat Suatu Proses (5-Habis)Tergantung pada AmalnyaSEORANG ahli hikmah berkata: ''Barang siapa yang menyaksikan dunia dengan menggunakan mata batinnya, niscaya ia tidak akan rela menggunakan sebagian besar waktu dan tenaganya hanya semata-mata untuk merengkuh dunia ke dalam genggamannya''. Kita harus segera menyadari, dunia hanyalah batu loncatan bagi manusia untuk mencapai akhirat. Dunia bukanlah tempat yang diciptakan Allah untuk kita tempati selamanya, melainkan dunia hanyalah sekedar tempat persinggahan sementara dalam perjalanan menuju kampung halaman yang telah disediakan Allah, yaitu akhirat. Bersikap prihatin dalam suatu perjalanan tentunya sangat bijaksana. Bukanlah bagi seorang pengembara itu kenikmatan adanya di akhir perjalanan? Ingatlah selalu pesan Nabi kita: ''Akan datang kepada umatku suatu zaman ketika mereka cinta kepada lima perkara dan lupa kepada lima perkara yang lain. Yaitu cinta kepada dunia, lupa kepada akhirat; cinta kepada kepada harta, lupa kepada perhitungan; cinta kepada makhluk, lupa kepada Kholiq; cinta kepada dosa, lupa kepada taubat; cinta kepada mahligai, lupa kepada kuburan''. Menurut Imam Ghazali, kelak semua manusia akan melintasi jembatan yang dibawahnya terdapat neraka. Jembatan ini dikenal dengan sebutan Shiratha'l-mustaqim. Kelak bakal ada yang melewatinya secepat kilat, ada juga yang berlalu seperti angin atau kencang larinya kuda, dan ada pula yang secepat terbangnya burung. Namun di samping itu, ada juga yang berjalan biasa, atau yang merangkak hingga hangus menjadi arang. Bahkan ada yang tersandung sehingga terjatuh ke dalam neraka. Perbedaan cara ini dikarenakan perbedaan sikap hidup selama di dunia, yaitu apakah selalu taat, atau sering membangkang pada aturan-Nya. Hati yang selalu membangkang ibarat sepasang kaki yang lumpuh (pincang), sedangkan hati yang selalu taat pada aturan main-Nya ibarat sepasang kaki seorang pelari ulung. Allah berencana membuat surga dan neraka, yang akan ditempati antara lain oleh manusia. Untuk menentukan siapa yang menjadi penghuni surga dan siapa yang menempati neraka, maka Allah membuat ''aturan main'' yang harus ditaati. Masing-masing orang akan menghisab dirinya sendiri, dengan membaca kitab amal perbuatannya selagi hidup di dunia, yang akan digantungkan di lehernya masing-masing. Firman Allah: ''Maha Suci Allah yang di tangan-Nya lah segala kerajaan, dan Dia maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.(Al-Mulk:1,2).(Tim Kajian Qolbun Salim-12) |