| Senin, 19 September 2005 | OLAHRAGA |
Kabupaten Banyumas Juara Umum
SEMARANG- Berkat prestasi yang ditunjukkan dalam Porda Jateng 2005, Kabupaten Banyumas akan diberi kesempatan oleh KONI sebagai penyelenggara Porda tahun 2009. Rencana itu diumumkan oleh Ketua Umum KONI Jateng H Murdoko, dalam upacara penutupan di Stadion Jatidiri sore kemarin. ''Kalau tempat-tempat pertandingan memenuhi syarat, Banyumas akan kami beri kesempatan untuk menjadi tuan rumah Porda tahun 2009. Kalau tidak, kesempatan ini akan kami berikan kepada Solo yang memiliki fasilitas olahraga yang lebih lengkap,'' jelasnya. Seperti yang terlihat dari hasil Porda Jateng yang berakhir sore kemarin, Kabupaten Banyumas bisa membuktikan ambisinya. Banyumas akhirnya benar-benar menggeser posisi Kota Semarang sebagai juara bertahan, setelah berhasil merebut 69 medali emas, 47 perak dan 42 medali perunggu. Sementara, Kota Semarang yang tergeser ke peringkat II hanya mampu mengumpulkan 60 emas, 57 perak dan 74 medali perunggu. Tetapi kontingen tuan rumah masih bisa bernapas lega, karena lebih dari 20 atlet terbaik pindah ke daerah lain, masih bisa meraih medali sebanyak itu. ''Sampai saat ini di Banyumas belum ada sarana olahraga air dan balap sepeda, sehingga KONI akan menurunkan tim untuk meninjau dan kesiapan Banyumas menuju Porda tahun 2009,'' tandasnya. Atraksi Kesenian Upacara penutupan yang dilakukan oleh Wakil Gubernur Jateng Drs H Ali Mufiz MPA berlangsung cukup meraih. Sajian kesenian tradisional Jatilan dari Muntilan yang mengisahkan percintaan Panji Asmarabangun dengan berkekuatan 70 personel itu menyita perhatian tersendiri. Demikian halnya penampilan marching band AMNI Semarang yang menyuguhkan tiga lagu nostalgia, dengan judul ''Di Sekolah, Mari Bergembira'', diakhiri dengan lagu ''Kapan-kapan'' ciptaan Koes Plus. ''Atlet-atlet hasil Porda kali ini merupakan tim bayangan Jateng menuju PON XVII Kaltim,'' jelas Ali Mufiz, dalam kata sambutannya. Dalam pada itu, dari 481 set medali yang disediakan untuk 33 cabang olahraga yang dipertandingkan dalam pesta olahraga empat tahunan ini, hanya 465 medali emas dan 459 medali perak yang beredar ke 35 daerah, sehingga ada perbedaan antara jumlah medali emas dan perak, yang seharusnya jumlahnya sama. Menurut Ketua Bidang Pembinaan KONI Jateng Drs Mugio Hartono MPd, hal itu bisa terjadi karena ada beberapa nomor yang batal dipertandingkan akibat tidak memenuhi syarat, sehingga 481 medali yang ada tidak habis. ''Seperti panjat tebing dan wushu, ketika memasuki pertandingan final terjadi force majeur karena saat itu di arena pertandingan terjadi hujan lebat, menyebabkan pertandingan tidak bisa dilanjutkan. Oleh panitia diputuskan juara kembar, sehingga jumlah medali emas yang beredar lebih banyak daripada medali perak,'' jelasnya. (*-28) |