| Senin, 19 September 2005 | WACANA |
Surat PembacaTaman BacaanSecara swadana saya merintis taman bacaan masyarakat "Al-hikmah" di Desa Trimulya RT I/RW I, Kecamatan Kayen, Pati. Untuk melengkapi koleksi bacaan, mohon dermawan yang peduli terhadap masa depan bangsa menginfakkan buku-buku keagamaan, keterampilan, teknologi tepat guna dan lain-lain. Infak dapat dikirimkan ke Drs Yusuf, guru Pendidikan Agama Islam SMPN 1 Kayen, Pati. Drs Yusuf *** Jl Bungo-Wedung-Demak Saya penguna jalan Bungo - Wedung - Dernak, yang sampai kini kondisi jalan rnakin memprihatinkan, berlubang hampir di seluruh badan jalan serta debu tebal yang menyiksa para pengguna jalan baik kendaraan roda dua, penumpang umum dan penduduk yang rumahnya dilalui jalan tersebut. Selain tidak nyaman juga dapat mengganggu mata dan saluran pernapasan. Jalan Bungo - Wedung - Demak dan jalan Moro - Bonang - Demak merupakan jalur tranportasi dan akses bisnis vital yang mendukung perekonomian masyarakat sekitar. Secara fisik jalur tersebut kurang memenuhi standar jalan, bergelombang, berlubang, bahu jalan lebih tinggi dari badan jalan sehingga pada waktu hujan genangan air tidak bisa mengalir ke parit di kanan kiri jalan. Semak belukar yang tumbuh subur di atas bahu jalan juga seakan terabaikan. Beberapa hari ini saya lihat tanda - tanda perbaikan dengan adanya droping material di lokasi, semoga perbaikannya tidak sekadar tambal sulam tapi menyeluruh. Saya tahu PAD Kabupaten Demak kecil, tapi dengan pengelolaan yang baik hasilnya bisa maksimal sehingga kepercayaan masyarakat bisa tumbuh kembali. Masyarakat umurnnya bisa menikmati jalan yang lebih layak dan nyaman. Saya mengharap secepatnya jalan tersebut diperbaiki sehingga dampak buruk tidak makin parah. Bukankah kesehatan lebill mahal ?. Indar Ari Bakalrejo Rt 5/Rw 1 Guntur, Demak *** Mencari Sahabat Empat belas tahun waktu berlalu, saat ini aku mencari para sahabat waktu di Fakultas Peternakan Unsoed Purwokerto angkatan l986 antara lain: Rahmawati Rahmat (Bandung), Elma Elyani (Kudus), Sri Ambarwati (Purworejo), Takris Pratama (Surabaya), Catur Lukito (Ngawi), Setyo Utomo (Purbalingga), Dedi Setiadi (Cilacap) dan Taufik Nidayat di Klaten Aku ingin tahu di mana dan bagaimana kabar semua teman. Masihkah meneruskan kegiatan sosial atau ada kegiatan lain yang lebih bermanfaat yang bisa ditularkan pada orang lain. Silakan hubungi aku. Ir Puji Sulistyowati Deresan Rt 1/Rw 4 Susukan, Salatiga *** Bisakah Hidup Tanpa Ijazah ? Ribut-ribut jual beli gelar (ijazah) kesarjanaan aspal (asli tapi palsu) atau malah palas (palsu asli) yang mendudukkan Institut Manajemen Global Indonesia (IMGI) ke puncak popularitas akhir-akhir ini perlu dicermati sebagai `gejala alam' yang lebih berbahaya daripada gempa atau gunung meletus. Namun lepas dari semua itu, ada pertanyaan yang menggelitik saya. Bisakah kita hidup tanpa ijazah atau gelar. Lebih dalam lagi, bisakah kita menjadi orang sukses tanpa mengandalkan ijazah ?. Kita mengenal Adam Malik yang tak pernah mengenyam bangku sekolah sehingga otomatis tak punya ijazah. Namun dengan semangat belajar otodidak yang militan telah menghantarkan beliau menjadi Menlu dan Wapres Indonesia.Tokoh lain yang tak punya ijazah kesarjanaan, tapi mampu menjadi tokoh yang diakui keilmuannya antara lain mantan Rektor Universitas PBB Soedjatmoko, budayawan kondang Emha Ainun Nadjib, dai Aa Gym, sastrawan Ajip Rosidi dan lainnya Soedjatmoko, jebolan mahasiswa Fakultas Kedokteran, kemudian belajar otodidak dan berhasil menjadi orang besar. Dia bukan orang yang mencari gelar doktor, tapi seorang pemikir dan pekerja tulus yang membuat dua universitas di AS menganugerahinya gelar doktor. Emha Ainun Nadjib hanya tiga bulan kuliah di FE UGM,selebihnya jadi pengembara ilmu di luar sekolah hingga dia bisa jadi manusia dengan bermacam sebutan (multifungsi). Aa Gym meski berhasil lulus, namun sampai sekarang ijazahnya di sebuah akademi tak pernah diambilnya ternyata berhasil menjadi dai dan pengusaha sukses. Ajip Rosidi bahkan lebih `radikal' Iagi.dengan tak mau mengikuti ujian akhir SMA nya. Dia menolak ikut ujian karena waktu itu beredar kabar bocornya soal-soal ujian. Dia berkesimpulan bahwa banyak orang menggantungkan hidupnya kepada ijazah. Untuk mendapatkan ijazah, mereka mau berbuat curang serta mengeluarkan uang untuk membeli bocoran soal. Ajip berkata lantang: "Saya tidak jadi ikut ujian, karena ingin membuktikan bisa hidup tanpa ijazah". Dan itu dibuktikan dengan terus menulis, membaca dan menabung buku sampai ribuan jumlahnya. Walhasil sampai pensiun sebagai guru besar tamu di Jepang, Dia yang tidak punya ijazah SMA , pada usia 29 tahun diangkat sebagai dosen luar biasa Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Lalu jadi Direktur Penerbit Dunia Pustaka Jaya, Ketua Ikapi Pusat, Ketua DKJ dan akhirnya pada usia 43 tahun menjadi profesor tamu di Jepang sampai pensiun. Jadi bisakah kita hidup sukses tanpa ijazah atau gelar kesarjanaan, saya yakin pasti Anda bisa menjawab dengan tepat. Selebihnya mari kita tunggu `gejala alam' apa yang bakal terjadi lagi. M.Fahrudin Hidayat Jl Raden Patah 2 Bawang, Batang *** Lupakan Masa Lalu ''Lupakan masa lalu. kita songsong masa depan yang lebih cerah". Kalimat ini terdengar bijaksana. Diucapkan saat mengakhiri tragedi, konflik dengan suatu kompromi. Tidak jarang dipakai sebagai dalih penuh semangat popularitas dan monopoli wacana untuk "membungkam" pihak korban yang menuntut keadilan. Kecuali peristiwa (film) G30S/PKI versi rezim terdahulu harus selalu diingat. Peristiwa G30S dengan korban jutaan rakyat,konon banyak yang tidak tahu apa-apa seperti kisah Srintil ronggeng Dukuh Paruk yang diperlakukan sesuka hati para "penguasa" seperti Darman si danramil Dawuan. Untuk tragedi yang lain, bangsa ini harus lupa. Peristiwa Tanjung Priok, Kasus 27 Juli 1996, orang hilang, merupakan aneka tragedi yang memalukan. Belum lagi kerusuhan Ambon hingga Poso. Penuntasan hanya sebatas menghukum kompi Brimob , tim mawar Koppasus atau memecat tidak hormat perwira tinggi. Polycarpus disidang sebagai tersangka pembunuh Munir, mungkin segera dihukum berat. Semua berdasar versi dan pesan sponsor yang dipersepsikan ke publik sebagai bentuk pertanggungjawaban.Keingintahuan publik tentang kejadian sesungguhnya disandera dengan kata-kata "Lupakan...". Menurut versi yang ada, sudah tuntas. Namun nurani bangsa ini sulit memahami apalagi melupakan. Timbul pertanyaan, haruskan rahasia negara jadi bunker untuk pelaku perbuatan yang mengusik rasa keadilan khalayak, sembunyi secara tenteram dan nyaman. Kata bijak menjadi terasa semakin bijak bila diucapkan orang yang pernah mengalami ketidakadilan, dihukum bertahun-tahun sampai akhirnya bebas. Berhasil dipilih rakyatnya. Kata-katanya terasa jauh lebih dalam maknanya dan menyentuh. Hanya kebenaran yang bisa hapus masa lalu (Nelson Mandela) Purnomo Iman Santoso Villa Aster II Blok G/10, Semarang *** Adilkah Kalau dicermati kejadian demi kejadian di Tanah Air, betapa porak porandanya moral bangsa yang kian terpuruk, semua itu tidak lepas dari pendidikan dasar. Coba tengok ke belakang ke dunia pendidikan kita. Pendidikan yang membuat/mencetak agar anak bermoral hampir-hampir dihapus atau dikesampingkan. Pendidikan agama dalam satu minggu hanya 2 jam pelajaran, padahal penduduk Indonesia 99% beragama Islam. Yang lebih aneh, dalam pengangkatan guru bantu CPNS, guru bantu agama juga disisihkan. Di Kabupaten Tegal, guru bantu yang mengajar agama tidak diprioritaskan/tidak masuk dalam hitungan padahal sama-sama mengabdi menjadi guru bantu. Zamroni Pengabean Rt 3/Rw 1 Dukuhturi, Tegal |