logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 19 September 2005 NASIONAL
Line

Dari Festival Batik Pekalongan 2005 (1)

Kuasai Pasar, tapi Harus Ganti Merek


MEMBATIK: Sejumlah tenaga pembatik yang seluruhnya perempuan sedang membuat corak atau motif di kain, di sebuah perusahaan batik Pekalongan. (57v) - SM/Trias Purwadi

Pada tanggal 15 hingga 18 September 2005, Paguyuban Pencinta Batik Pekalongan menyelenggarakan Festival Batik Pekalongan 2005 di eks gedung rumah dinas Pembantu Gubernur Pekalongan. Berbagai acara dilakukan dalam rangka mempromosikan batik Pekalongan yang sudah mendunia itu. Bagaimana sebenarnya perkembangan batik Pekalongan hingga sekarang? Berikut laporan wartawan Suara Merdeka, Trias Purwadi dan Muhammad Burhan, mulai hari ini.

BERBICARA mengenai batik Pekalongan, orang awam tentu tidak akan bisa membedakan, apakah batik itu dari Kabupaten Pekalongan atau Kota Pekalongan. Dua daerah itu dalam masalah batik menyatu dan tidak bisa dipisahkan antara satu dan lainnya. Dengan demikian, nama batik Pekalongan secara otomatis bisa dari Kota atau Kabupaten Pekalongan.

Produknya pun tidak dimungkiri lagi sudah merajalela di berbagai kota besar di Indonesia. Coba cek di Jakarta, Bali, Yogyakarta, atau Solo. Tidak terhitung lagi jumlah toko batik yang menjual batik Pekalongan. Untuk mencari batik dari Pekalongan sangat mudah.

Karena itu, tidak berlebihan jika produk batik dari kota pantai utara Jawa itu benar-benar menguasai di Indonesia, mengalahkan batik keraton Solo ataupun Yogyakarta. Bahkan, Bali dan Jakarta pun sebagian besar produk batiknya disuplai dari Pekalongan.

Buktinya? Coba lihat ketika Pasar Tanah Abang Jakarta terbakar beberapa tahun lalu. Siapa yang menangis saat pasar tekstil terbesar di Ibu Kota itu terbakar? Tidak lain adalah pengusaha batik Pekalongan. Itu karena pemasok batik di pasar tersebut sebagian besar pengusaha Pekalongan. Karena itu, meski musibah itu di Jakarta, justru pengusaha Pekalongan yang menangis. Akhirnya Pemerintah Pusat pun turun tangan membantu pengusaha batik Pekalongan.

Dudung Alisyahbana, pengusaha batik dari Pekajangan, Kabupaten Pekalongan, tidak membantah kenyataan tersebut. Bahkan, dia menyebutkan, bom di Bali beberapa waktu lalu juga membuat pengusaha Pekalongan ikut menangis. Sebab, peristiwa itu berdampak pula pada penjualan dan produksi batik Pekalongan, karena pemasaran batik di Bali hampir dikuasai batik Pekalongan.

Begitu luas pasar batik tersebut, membuat Kepala Dinas Perindagkop Kota Pekalongan Dra Retno Hastuti Susila salut atas produktivitas batik Pekalongan. ''Hampir 75% batik yang dipasarkan di Solo, Yogyakarta, dan Pasar Tanah Abang disuplai dari sini,'' katanya, saat seminar perbatikan beberapa waktu lalu.

Itulah Pekalongan, yang sangat dikenal dengan Kota Batik. Melalui kreasinya, mereka mampu menguasai batik di berbagai kota di Indonesia. Meski demikian, bukan berarti keuntungan terbesar bisa diraih pengusaha batik itu. Sebab, meski produksi batik itu sebenarnya asli Pekalongan, tetapi fakta di lapangan menunjukkan produk dari Kota Batik itu sudah berganti merek terkenal begitu dijual di kota lain.

''Itu sudah bukan rahasia lagi bagi masyarakat Pekalongan,'' kata Dudung.

Bagaimana cara untuk membuat merek itu tetap dari Pekalongan? Itulah masalahnya. ''Kita harus berupaya semaksimal mungkin, sehingga batik yang dijual di kota-kota besar bermerek Pekalongan,'' katanya.

Mengapa batik Pekalongan bisa besar, tentu karena banyak faktor. Salah satu di antaranya jumlah tenaga kerja yang banyak. Bahkan, pernah tenaga pembatik Pekalongan diangkut ke berbagai kota untuk mengembangkan batik di kota tersebut.

''Namun sayang, ada kelemahan proses pendidikan sumber daya manusia perbatikan. Sebab, hampir semuanya mendapatkan ilmu membatik dari warisan secara tradisional, dan bukan melalui proses pendidikan formal yang terarah,'' kata Direktur Polbat Pusmanu Drs Sony Hikmalul MSi.

Demikian pula sistem manajemen dalam usaha batik, juga masih tradisional. Karena itu, saat ini Pekalongan perlu didirikan Balai Latihan Batik dalam upaya mendidik perajin untuk bisa bekerja secara profesional. Adapun jumlah perajin dan pengusaha batik, khususnya di Kota Pekalongan, menurut Kabag Humas Suharto BBA, tercatat 1.719 orang yang tersebar di Kecamatan Pekalongan Barat, Pekalongan Timur, dan Pekalongan Selatan. Dari pengusaha itu, mampu menyerap tenaga kerja 17.438 orang atau 75% dari 24.755 orang dari jumlah pekerja di Kota Pekalongan.(34t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA