| Senin, 19 September 2005 | INTERNASIONAL |
Invasi Irak Justru Memperkuat Militansi Gerilyawan SaudiRIYADH - Sebelum invasi AS di Irak, ratusan pejuang Saudi yang bergabung dalam gerakan perlawanan di Irak sebetulnya masih kecil kadar militansinya. Namun, invasi AS justru mempertebal militansi para pejuang Saudi. Fenomena itu makin ditegaskan oleh hasil kajian terhadap berbagai laporan intelijen Saudi. Studi itu dilakukan oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang berbasis di Washington. Menurut kajian itu, pejuang-pejuang Saudi hanya berjumlah 350 dari 3.000 gerilyawan asing yang terlibat di Irak. Jumlah itu jauh lebih sedikit dibandingkan perkiraan sejumlah pejabat selama ini. ''Para pengamat dan pejabat pemerintahan di AS dan Irak telah melebih-lebihkan jumlah gerilyawan asing dalam perlawanan Irak, khususnya militan yang berasal dari Saudi,'' demikian laporan studi itu. Militan non-Irak tidak lebih dari 10 persen dari seluruh gerilyawan yang terlibat. Bahkan, bisa jadi hanya lima persen. Sebagian besar militan itu dimotivasi oleh pemikiran bahwa ''perjuangan diperlukan untuk membebaskan tanah Arab dari pendudukan oleh negara non-Arab''. Studi oleh analis Timur Tengah Anthony Cordesman dan penasihat keamanan Saudi Nawaf Obaid itu makin memperkuat argumen yang menentang invasi Irak. Studi itu mempertegas sinyalemen bahwa invasi itu justru menambah militan baru dalam jaringan Usamah bin Laden, bukannya memperlemah organisasi Al Qaedah.(rtr-gn-25) |