| Kamis, 15 September 2005 | SALA |
Suhu Udara di Puncak Gunung Merapi Diteliti
STATUS Gunung Merapi yang hingga kini masih naik satu tingkat dari aktif normal menjadi waspada, menjadikan Balai Penyelidikan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogykarta melakukan penelitian. Melalui dua orang petugas, yakni Isha dan Yulianto, Sabtu (10/9) mendaki ke puncak gunung yang berketinggian 3.011 meter dari permukaan laut. Pendakian juga menyertakan petugas dari Dinas Pertambangan Provinsi Jateng serta Muspika Selo, Boyolali. Dalam status waspada, pendakian ke puncak gunung sebenarnya tidak diperbolehkan. Sebab, dikhawatirkan terjadi hal-hal membahayakan saat berada di puncak. Namun sebagai instansi yang mengelola dan mengetahui kondisi gunung, BPPTK tampaknya mempunyai ''hak perogratif'' dalam mendaki gunung. ''Sebenarnya saat mengikuti pendakian ke puncak gunung, saya khawatir. Apalagi status gunung masih naik satu tingkat dari aktif normal menjadi waspada,'' ungkap Camat Selo, Luwarno. Meski dibayang-bayangi kekhawatiran, Luwarno dan salah seorang anggota Polsek Selo serta petugas dari Dinas Pertambangan Provinsi Jateng, akhirnya berangkat. Jumlah rombongan sekitar delapan orang berangkat Sabtu sekitar pukul 12.00 dan sampai di puncak pukul 16.45. Karena sebagian tebing ambrol dan kondisi jalan setapak membahayakan, empat anggota rombongan bertahan di kawasan Pasar Brubah dengan ketinggian 2.500 meter dari permukaan laut. Untuk sampai di puncak gunung masih memerlukan waktu sekitar satu jam. Udara Panas Menurut Luwarno, salah satu tujuan mendaki puncak gunung yakni mengukur suhu udara. Paling sedikit di puncak gunung ada 40 titik panas yang bisa diikur melalui alat suhu udara. Di salah satu titik, tingkat kepanasan suhu udara pada saat ini mencapai 930 derajat celsius. Dalam kondisi normal hanya mencapai 700 derajat celsius. Karena itu, tidak mengherankan status gunung meningkat menjadi waspada. Mengutip keterangan dari petugas BPPTK, Luwarno mengatakan, karena suhu udara di rekahan gunung cukup tinggi maka perlu diwaspadai kondisinya. Selain itu, tersumbatnya gas sulfatara di kawah gunung juga perlu mendapatkan perhatian. Pada saatnya gas sulfatara akan keluar melalui lubang yang bukan tempatnya dan itu membahayakan. ''Setelah mendaki gunung, BPPTK akan mengkaji ulang status gunung. Bila hasil kaji ulang ternyata suhu udara gunung menimbulkan bahaya, warga di sekitar gunung termasuk Kecamatan Selo harus hati-hati,'' paparnya. Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Gintaryo mengatakan, status waspada Gunung Merapi yang bertahan hampir dua bulan memang perlu diperhatikan. Biasanya status gunung akan cepat kembali menjadi kondisi paling aman, yakni aktif normal. ''Karena itu, dalam waktu dekat kami akan mengadakan simulasi cara mengatasi letusan gunung yang melibatkan ribuan warga,'' tambahnya. (Suti Harjoyo-42s) |