logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 15 September 2005 SEMARANG
Line

SHB, Toko Mesin Jahit Tertua

MENDENGAR nama SHB, tidak salah jika sebagian masyarakat Kota Semarang menghubungkannya dengan sebuah mesin jahit. SHB yang merupakan kepanjangan dari Salim Husein Baharun itu adalah nama sebuah toko jual beli mesin jahit. Toko tersebut merupakan yang tertua di antara beberapa toko penjual mesin jahit di Kota Semarang yang hingga kini masih bertahan.

Tempat usaha yang berada di Jl Petolongan 4 Kelurahan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah itu dirintis oleh Doellah Kamari pada pertengahan 1950.

Pada awalnya Doellah hanyalah seorang penjahit dan tukang reparasi mesin jahit. Dia memang tak hanya terampil sebagai seorang penjahit, tapi juga terampil mereparasi mesin jahit.

Dengan mengayuh sepeda onthel, bahkan berjalan kali puluhan kilometer, Doellah berkeliling ke beberapa tempat. Tujuannya untuk berburu mesin jahit bekas. Tak segan pula dia mengetuk pintu dari rumah ke rumah hanya untuk menanyakan apakah ada mesin jahit yang akan dijual.

Usaha tersebut dilakoninya selama beberapa tahun. Tak jarang dalam melakukan praktik jual beli, Doellah tak menangguk keuntungan. Pasalnya, yang dilakukannya semata-mata untuk menyenangkan para pelanggan.

Akhirnya, usahanya tersebut dia turunkan kepada salah satu anaknya, Salim Husein Baharun. Dari 15 anak Doellah, hanya Salim yang tertarik meneruskan usahanya.

Semenjak ditekuni Salim, usaha jual beli mesin jahit itu lambat laun mulai menuai sukses. Buah dari kesuksesan tersebut, kini dibagi Salim kepada enam anaknya.

Enam anaknya menekuni usaha sejenis, yakni jual beli mesin jahit baru dan bekas. Hingga kini, di sepanjang Jl Petolongan berdiri berjajar tujuh toko yang menjual mesin jahit.

Ketujuh toko itu milik anak Salim, Doellah, Ali, Jamal, Lukman, dan Ibrahim. Adapun seorang lagi membuka toko di Jl MT Haryono Semarang.

"Nama SHB mulai dipakai Bapak pada 1970. Sebelumnya, tempat usaha kakek saya nggak pakai nama," ujar Lukman Hakim Baharun (30), salah seorang anak Salim.

Lukman kini diwarisi sebuah toko yang dulunya ditempati Salim tatkala merintis usahanya. Kini tak hanya mesin jahit bekas yang dijajakan, ratusan mesin jahit baru berbagai merek pun dipajangnya. Mesin jahit tersebut didatangkan dari China.

Menurut penuturan Lukman, hingga kini bapaknya selalu menekankan kepada anak-anaknya untuk tidak menolak apa pun permintaan pembeli.

Mereka dibekali prinsip tidak hanya mengeruk keuntungan secara berlebihan. Pada umumnya, para pedagang membuat barang bekas menjadi barang baru. (Fahmi Z Mardizansyah-60n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA