| Kamis, 15 September 2005 | BANYUMAS |
Pengiriman Minyak Industri Tertunda, Pekerja MenganggurPURWOKERTO - Realisasi pengiriman minyak tanah dengan harga Rp 2.200/liter untuk industri kecil di Kabupaten Banyumas tertunda, karena harus sesuai dengan prosedur dari Pertamina. Semula diharapkan pengiriman pertama mulai Selasa (13/9), namun sampai kemarin belum ada kepastian. Demikian keterangan Kordinator Forum Komunikasi Pengusaha Kecil Makanan dan Minuman (FKPKMM) Banyumas, RY Gunawan Santoso, kemarin. Dampak ketertundaan pengiriman bahan bakar minyak (BBM) jenis itu, pekerja tambah lama menganggur. Contoh, pabrik suun di Banyumas yang berjumlah 26 dan enam pabrik mi, telah merumahkan pekerjanya sejak Jumat (2/9). Jumlah karyawan di setiap pabrik berbeda, antara 35 dan 75 orang. Pabrik meliburkan pekerja, setelah sama sekali tak bisa mendapatkan minyak tanah. Sebelumnya, sejak awal Agustus produksi tak lancar. ''Saat itu masih bisa dapat, tetapi volumenya jauh di bawah kebutuhan,'' katanya. Dampak lain, bahan baku seperti tepung yang telanjur dibeli terancam rusak, kalau tak segera diproses. Akan dijual susah, karena diharapkan pembelinya adalah pabrik roti, yang juga kesulitan memasak akibat kelangkaan minyak tanah. Disurvei Gunawan menambahkan, pihaknya mengajukan pembelian minyak tanah langsung ke UPMS IV Pertamina di Semarang, Jumat (9/9). Saat itu dia berharap, perusahaan tersebut bertindak cepat dan tidak prosedural. Sebab, keadaan sudah darurat dan pekerja telah lama menganggur. Tetapi, pihak UPMS IV tetap bertindak prosedural. Setelah berkas lengkap, harus ada penelitian dari Pertamina Wira Penjualan Cilacap ke industri kecil yang mengajukan pembelian. ''Survei sudah, hari ini (kemarin-Red) hasilnya dikirim ke Semarang. Mudah-mudahan 1-2 hari lagi minyak tanah bisa dikirim,'' harap pengusaha mi itu. Satu pabrik mi atau suun, membutuhkan minyak tanah rata-rata 200 liter (1 drum)/hari atau 5.000 liter/bulan. Menurut peraturan, kalau kebutuhan di atas 24.000 liter/bulan -termasuk industri besar-, harga minyak tanah Rp 5.600/liter. Dalam situasi susah itu, ada orang berusaha memancing di air keruh. Ada orang mengaku bernama Wisnuntoro, Kepala UPMS IV Rayon III Pertamina. Orang itu menyatakan sanggup mengurus pembelian minyak tanah ke Pertamina pusat, namun minta Rp 50 juta. ''Itu pasti bukan Wisnuntoro yang asli. Hanya orang mengaku-aku saja, dan mencoba menipu saya. Tak saya layani,'' katanya. (bd-55a) |