| Selasa, 13 September 2005 | PANTURA |
Baru 10 Persen Anak Gizi Buruk TertanganiSLAWI - Penanganan terhadap anak yang mengalami gizi buruk di Kabupaten Tegal sejak lima tahun terakhir, kuantitasnya terus menurun. Bahkan tahun ini hanya 10% dari jumlah penderita, yakni 590 anak yang tertangani. Sebagai perbandingan, sejak tahun 2000 hingga September 2005, angka penanganan itu 13,04%, 23,10%, 48,32%, 48,65%, 28,46% sampai akhirnya hanya 10% dari seluruh jumlah penderita. Menurut Kabid Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal dokter Widodo Joko Mulyono, pada tahun 2002 dan 2003 terjadi lonjakan jumlah penderita. Meski demikian, angkanya dari tahun ke tahun fluktuatif (naik turun). Pada tahun 2000 115 anak, tahun 2001 226 anak. Terbesar terjadi pada tahun 2002, yakni 836 anak. Namun yang ditangani untuk perbaikan hanya 404 anak. Tahun berikutnya 827 anak, namun yang dapat ditangani lebih banyak, yakni 451 anak. Jumlah penderita gizi buruk turun pada tahun 2004 hanya 541 anak dan yang ditangani 154 anak. Hingga September 2005, dari 590 penderita, Dinkes hanya mampu menangani 10% atau 59 anak. "Sebab anggaran yang tersedia sangat terbatas. Tahun lalu dianggarkan Rp 690 juta. Namun dengan jumlah penderita yang cukup banyak, tahun ini hanya mendapat anggaran dari APBD TA 2005 Rp 444 juta," tutur dokter Widodo Joko Mulyono saat berbicara dalam Pelatihan Kesehatan Keluarga dan Lingkungan Hidup dihadapan anggota Tim Penggerak PKK Pokja IV di Gedung PKK Jl DR Soetomo, kemarin. Menurut ketua panitia, Ny Hj Tamti Nursinggih, pelatihan tersebut diikuti 106 anggota di kelompok kerjanya. Hadir dalam kesempatan itu Wakil Ketua TP PKK Ny Hj Mufrikha Hammam Miftah. Hal lain yang menyangkut kondisi kesehatan keluarga disorot Ir Heri Kushartono dari Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) setempat. Menurut dia, munculnya anggota keluarga yang kurang sehat itu bisa saja akibat kondisi lingkungan yang masih memprihatinkan. Sampah di sekitar lingkungan tempat tinggal, kata dia, masih tetap menjadi sampah. Belum diupayakan secara maksimal menjadi sesuatu yang bermanfaat. Dalam organisasi PKK tentu banyak dilakukan kegiatan peningkatan membuat keterampilan kerajinan. Karena itu, bila melihat sampah seperti gelas plastik kemasan air mineral hendaknya dapat diupayakan menjadi barang yang bermanfaat. "Jadi, jangan sepelekan sampah yang sebenarnya dapat diolah menjadi barang bermanfat itu," tandas dia. Sementara itu, Ketua Pokja IV TP PKK Ny Yati Harsoyo mengatakan, selama ini penempatan wanita atau perempuan sebagai motor kebersihan dan peningkatan kesehatan di keluarga masih dipandang sebelah mata. (D12-50n) |