logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 13 September 2005 PANTURA
Line

Gigit Jari Balita, Dipasung

SARINI (28), warga Kelurahan Tegalsari RT 4 RW 2, Kecamatan Tegal Barat, Kamis (8/9) lalu dipasung warga setempat di sebuah gubuk dekat kolam desa, setelah dia menggigit hingga putus jari telunjuk seorang anak.

Tangan ibu Irfan (9) - siswa kelas IV SD Tegalsari - itu terpaksa diikat dan kedua kakinya dikerangkeng di sebilah papan. Korban adalah Reza Purwanto (3), anak tetangganya.

"Baru kali ini kelakuannya tidak terkendali. Dia memang menderita sakit jiwa," kata Slamet Riyadi (50), ayah Sarini.

Diceritakan, sekitar pukul 13.00 Kamis lalu korban dan kakaknya sedang bermain di depan rumah. Kebetulan rumah korban dan rumah Sarini ber-hadap-hadapan di Gang III.

Tidak ada yang tahu persis mengapa Sarini menggigit jari korban. Kakak korban yang berada tidak jauh dari tempat itu mengaku melihat Sarini mendekati adiknya.

Tiba-tiba, sambil berbicara tidak jelas, wanita hilang ingatan itu menggigit jari telunjuk Reza sekuat tenaga hingga putus. Merasa sakit, korban spontan menangis dan menjerit. Darah keluar dari ujung jarinya.

Sarini memuntahkan potongan jari anak yang malang itu, dan kemudian memasukkannya ke dalam kantong plastik. Warga yang melihat kejadian tersebut segera bertindak.

Korban dilarikan ke Puskesmas terdekat. Sarini, yang coba kabur, dikejar. Dia ditangkap tidak lama kemudian. Sayang, potongan jari korban yang dia bawa dalam plastik telah hilang.

Menurut pengakuannya, jari itu sudah dibuang ke sungai. Warga langsung menggiring wanita itu ke Mapolsekta Tegal Barat. Dia tidak lama ditahan di Mapolsekta, setelah ketahuan mengidap gangguan jiwa.

Pernah Dirawat di RSJ

Untuk menghindari kejadian lain yang tidak diinginkan, warga memasung dia di sebuah gubuk. Namun, karena alasan kemanusiaan, akhirnya keluarga diperbolehkan membawa dia pulang, dengan syarat dia tidak boleh keluar dari rumah.

Hingga kemarin, anak ketiga dari 13 bersaudara itu masih mendekam di kamar rumahnya. Di dekatnya tampak air minum dalam botol kemasan, sementara kedua tangan dan kakinya diikat dengan sebuah kain.

Tentang gangguan jiwa yang diderita anaknya, Slamet Riyadi mengatakan gangguan itu datang setelah Kotijah - istri Slamet - meninggal pada tahun 2000. "Sejak itu dia sering murung dan menyendiri," kata dia.

Cobaan semakin berat, karena sang suami - Udin (30) - meninggalkannya. Menurut kabar, suaminya telah menikah lagi dengan perempuan lain di Jakarta. Gangguan jiwa Sarini mulai terlihat. Dia sering berbicara sendiri, terkadang menangis atau tertawa-tawa.

Slamet sudah pernah membawa anaknya itu ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Pedurungan di Semarang dan kemudian di RSJ Magelang. "Rumah dan pekarangan sudah habis saya jual untuk biaya rumah sakit," kata pria itu, yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan.

Upaya pengobatan yang memakan banyak biaya itu ternyata tidak membuahkan hasil. Hingga keluarga itu pindah rumah dua tahun silam, Sarini masih sering kumat.

Kini Slamet hanya pasrah. Untuk mengobati anaknya itu, dia mengaku sudah kehabisan harta benda. Sabtu lalu, dia mencoba mengurus fasilitas JPS di kelurahan. Dia berharap, dengan kartu JPS anaknya bisa diobatkan ke rumah sakit tanpa biaya. (Suwandono-58)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA