logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 13 September 2005 PANTURA
Line

Pesisiran

Berbagi Ilmu (Batik) Kerajinan

Oleh: EH Kartanegara

BERITA yang ditulis wartawan Suara Merdeka, Trias Purwadi, "Batik Masuk Kurikulum Sekolah" (Suara Merdeka, 6/9), menyiratkan gagasan segar dua pengusaha muda yang sedang berkilau pamornya. Mereka adalah Romi Oktabirawa dan Dudung Alisyahbana, generasi baru usaha perbatikan.

Bukan kebetulan jika mereka mau berbagi ilmu tentang batik dengan SMA Muhammadiyah 1 Pekajangan di Pekalongan -tempat mereka dulu belajar- yang memasukkan pelajaran batik dalam kurikulum sekolah. Pergaulan bisnis pengusaha muda sekarang memang jauh berbeda dari generasi tua, para juragan batik dekade 1950-1970-an.

Para generasi lama mengapresiasi batik lebih sebagai barang dagangan. Konsep dagang mereka seperti para juragan pada umumnya, menerapkan hukum efisiensi ekonomi. Tujuannya cuma satu, meraih untung alias fulus (kalau bisa malah sebanyak-banyaknya).

Dalam praktiknya, efisiensi sering melenceng menjadi pelit dalam urusan ongkos produksi. Memberi upah kecil kepada para buruh, tetapi mengharap kualitas kerja sebaik-baiknya. Berbagai fakta sosial yang mudah dilihat adalah ketimpangan kesejahteraan yang amat jauh antara juragan dan para karyawannya.

Potret Kontradiktif

Bukan hal aneh jika Kota Pekalongan pada dekade 1960-1970-an menampakkan potret kota yang kontradiktif. Mobil-mobil Eropa (mobil Jepang masih dianggap kelas dua) keluar-masuk kastil para juragan. Namun di kampung-kampung pinggiran yang dihuni para pekerja batik, hidup kurang pangan dan miskin sandang.

Pasar batik yang menghasilkan uang berlimpah tak mampu menciptakan kemakmuran kota. Batik sebagai komoditas kerajinan warisan pengusaha Belanda, para keturunan China, Arab, dan India sejak pertengahan 1800-an juga tidak banyak menghasilkan ahli-ahli batik dari Pekalongan sendiri. Kalaupun ada, keahlian mereka tidak terdokumentasi dengan baik, sehingga tak banyak ilmu yang bisa dipelajari generasi sekarang.

Ketika era manual berganti masinal dan pabrik-pabrik tekstil mampu menghasilkan kain berbagai motif batik secara massal, pasar batik Pekalongan terhantam tsunami industri tekstil. Para juragan batik rontok, jatuh miskin, sebagian berganti kerja dan sebagian kembang kempis mempertahankan usaha mereka.

Ratusan buku tentang batik diterbitkan secara mewah oleh berbagai penerbit luar negeri. Hampir tak ada yang tidak memuat batik Pekalongan. Fabled Cloth of Java karya Inger McCabe Elliot, misalnya, memajang batik-batik Pekalongan. Berbagai koleksi batik antik dipamerkan di museum-museum tekstil di Eropa dan Amerika, sementara museum batik di Pekalongan, he... he... (mau bilang gimana ya?)

Ide Sinting Ridaka

Romi, Dudung beserta kawan generasi baru yang berusaha menghidupkan kembali pamor aneka kerajinan di Pekalongan, tergolong beruntung. Ibarat kata, begitu lahir jebrol, mereka berdarah chemical batik. Seperti kata Romi, hanya cukup melirik selembar kain batik, mereka bisa bikin batik.

Ilmu diserap memang bukan cuma dari buku. Dia punya kaki dan mendatangi banyak orang lewat berbagai pintu aktivitas. Apalagi, jika disebarkan lewat pendidikan, misalnya. Di sinilah relevansinya ilmu batik dimasukkan dalam kurikulum sekolah.

Kedengarannya seperti slogan bahwa batik bukan semata komoditas, tetapi - meminjam ungkapan Einstein - juga "ilmu yang menyejahterakan" (baca Ilmu dalam "Perspektif", Yayasan Obor, 2001). Ilmu selalu terbuka untuk dikembangkan oleh siapa saja. Ilmu kerajinan batik Pekalongan akan terus berkembang dan suatu saat punya gengsi tinggi seperti fashion atau parfum di Eropa atau Amerika.

Memang, perlu pemahaman mendasar tentang ilmu itu. Ridaka, yang memiliki pengalaman internasional dan di Pekalongan dikenal sebagai simbahnya para perajin, menilai ilmu sebagai anugerah, rezeki, rahmat Tuhan yang wajib disyukuri. Salah satu bentuk syukur adalah merawat, mengembangkan, dan mengamalkannya.

Berbagai (mengamalkan) ilmu kerajinan tersebut dianggap ide sinting oleh para pengusaha kerajinan lain. Paradigma hukum dagang para juragan menyatakan kalau perlu cuma mereka yang bisa memproduksi barang. Memberikan ilmu kepada orang lain sama artinya mengundang bencana.

Namun, itulah yang tidak dilakukan Ridaka. Dia menempuh jalan yang oleh kitab suci disebut ahsanu 'amalan (sebaik-baik perbuatan, menurut agama). Sesepuh yang sejak tahun1950-an menekuni usaha berbagai kerajinan itu mendatangi para penenun, mengajari bahkan memberi modal untuk mengembangkan kerajinan.

Jika para penemu lain berusaha mendapatkan hak paten atas karyanya, Ridaka malah membagi-bagikan temuannya kepada banyak orang. Lahirlah ratusan perajin tenun handuk berleter, bambu, akar wangi, eceng gondok, yang semula hanya dibuat oleh Ridaka.

Desa Pakumbulan di selatan Pekalongan, misalnya, tumbuh sebagai desa kerajinan yang di antara produk-produknya di ekspor ke berbagai negara. Industri kerajinan tumbuh dan menyebar ke mana-mana. Rumah-rumah kerajinan menjadi hidup, mengalirkan kesejahteraan kepada banyak orang.

Sementara, para pemegang intellectual properly right repot menjaga karya yang diklaim sebagai milik mereka agar tidak dicuri orang lain. Adapun para pengamal ilmu, memperoleh pahala jariyah yang terus mengalir tiada henti sampai di surga kelak. Ilmu yang berasal dari Sang Pencipta kembali kepada Pemilik Yang Mahatinggi.

Penulis adalah pekerja media, tinggal di Pekalongan(19s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA