logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 13 September 2005 PANTURA
Line

12 Jam Pentas Monolog, Stamina Apito Lahire Tetap Prima

STAMINA aktor Apito Lahire terlihat tetap prima, setelah berpentas monolog selama 12 jam di Gedung Kesenian Tegal. Kehebatannya itu membuat kagum para pemerhati seni dan penonton pentas tersebut.

Selama pentas dari pukul 10.00 hingga 22.00 Minggu (11/9) malam lalu itu, Apito menampilkan delapan naskah dengan cukup sempurna. Naskah "Potong Bebek Angsa" ditampilkannya pada pertengahan pertunjukan, yakni pukul 16.00 hingga 18.00.

Dalam monolognya, dia menggambarkan bagaimana susahnya menjadi seorang aktor yang harus mengikuti kemauan sutradara. Dia mengharapkan adanya kebebasan berekspresi bagi seorang seniman. Dan, dalam penggambarannya sebagai seniman, dia ingin berekspresi meskipun kakinya buntung.

Untuk menyampaikan pesan kepada penonton, dia menggambarkan pula seekor angsa yang dapat melakukan hal apa pun dengan satu kaki sebagai tumpuannya. Namun, dia ragu pada kemampuan dirinya yang cacat itu, apakah juga dapat tetap berkarya seperti angsa yang digambarkannya itu.

Naskah tersebut, kata Apito hampir serupa dengan naskah "Nyanyian Angsa" dramawan asal Rusia, Anton Chekov.

Pada penampilan menjelang akhir pertunjukan, dia membawakan naskahnya yang berjudul "Kembang Putih". Dalam monolognya, dia menggambarkan seorang samurai memburu gadis pujaannya.

Namun, dalam pencariannya itu, dia tidak pernah menemukan gadis yang dicarinya, kecuali dalam mimpi. "Nah, karena keinginan dia untuk bertemu gadis tersebut begitu kuat, dia pergi ke mana pun menuruti kata hatinya, demi bertemu dengan gadis itu. Dalam perjalanan itu, dia menjumpai musuh-musuh dan melakukan pertarungan," ujar Apito, menjelaskan pementasannya.

Akhir dari kisah "Kembang Putih", sang samurai berhalusinasi dijumpai gadis pujaannya. "Gadis itu mendekati dia, mengajak bertarung. Namun, sebelum bertarung, dia memohon untuk diberi kesempatan mengungkapkan bahwa dia sangat mencintai gadis itu," ujar Apito.

Dan, pada akhir kisah, pertarungan terus berlangsung tanpa ada yang kalah dan tak ada yang menang.

Andi Kustomo, seorang pemerhati seni, dalam dialog yang digelar setelah pementasan usai, menyatakan salut karena stamina Apito tetap terjaga dengan baik.

Rudi Iteng, pemerhati yang lain, melontarkan sedikit kritik. Kata dia, monolog 12 jam yang digelar Apito belum dapat memuaskan penonton. Pasalnya, eksistensi dan konsistensi aktor dalam pertunjukan tersebut tidak terjaga.

"Kalau dia ingin menampilkan monolog 12 jam, ya jangan memotong pertunjukan dengan menutup layar hanya karena aktor makan, minum, dan sebagainya," ujar dia.

Menurutnya, Apito sebaiknya menampilkan keseluruhan naskah tanpa jeda.

"Makan, minum, atau keperluan lain dapat dilakukan tanpa menutup layar. Apito bisa melakukan itu dengan konsep atau tanpa konsep."

Menanggapi hali itu, Apito mengatakan konsep dia bermonolog adalah monolog itu sendiri. "Artinya, jika makan, minum, dan kebutuhan laina juga ditampilkan, suasana pertunjukan akan rusak," katanya.(Siti Kholidah-58)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA