logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 13 September 2005 KEDU & DIY
Line

Pemimpin Informal Lebih Membudaya

BOROBUDUR - Budayawan Borobdur, Ariswara Sutomo, mengatakan, pemimpin informal yang ada di desa-desa lebih dipatuhi dibanding pemimpin formal karena lebih membudaya sehingga bisa memberi motivasi.

''Pemimpin informal tahu persis aspirasi yang dihadapi masyarakat,'' katanya dalam diskusi terbuka tentang kepemimpinan masa depan dalam perspektif budaya desa di Warung Info Jagad Cleguk Borobudur, Magelang, kemarin.

Atas dasar realitas kepemimpinan di Indonesia saat ini, Ariswara cenderung mengharapkan keberadaaan para pemimpin informal itu dikaji lebih lanjut agar suatu saat, 5-20 tahun mendatang, bisa mengganti kepemimpinan formal. ''Agar kehidupan lebih mengakar antara pemimpin dan yang dipimpin,'' ujarnya.

Menurut dia, seorang pemimpin itu muncul karena sebuah sistem, dan sistem di Indonesia itu sistem kolonial karena mengatur teritorial. Sementara itu sistem yang hidup di masyarakat disebutnya informal. Adapun yang dimaksud formal adalah jajaran presiden sampai kepala desa (kades).

Menara Gading

Dia mengatakan, setiap pemimpin desa dan kota itu memiliki karakteristik. Sistem pemimpin kota dan desa seharusnya tidak seragam. Pada masa lalu, inpres dari Sabang sampai Merauke sama, walau secara demografis dan sosialogis harus dibedakan.

''Oleh karena itu, mecari pemimpin harus jelas, akar budayanya bagaimana. Saya cenderung menggunakan sistem kita, yakni mengacu pada aspirasi yang tumbuh di wilayah Indonesia,'' katanya.

Dia menilai, sistem di negeri ini mengambang tak mengakar sehingga kebijakan tak menancap, tidak tumbuh. Sebab, selalu diciptakan seperti itu. Padahal sumber-sumber yang diciptakan tak sesuai dengan sumber-sumber yang jelas akan melahirkan sebuah sistem menara gading yang sulit diraih oleh massa.

''Menggabungkan pemimpin kultural dengan pemimpin kontemporer menjadi relevan dalam konteks masa kini. Saya khawatir, yang baik, disebut formal ataupun informal, masih dikuasai oleh kepimpinan industrial kapital,'' kata seniman Sutanto Mendut.

Dia menjelaskan, pemimpin adalah orang yang dianut masyarakat baik nilai-nilai isu, wacana, tekstual, ataupun yang langsung berkaitan dengan ekonomi yang bisa menyelesaikan persoalan perut.

Ikut berbicara dalam diskusi yang dipandu Kholil Abufathan, reporter Radio Fast FM Magelang itu, Sucoro (Direktur Warung Info Jagad Cleguk) dan Riyadi (Kepala Desa Banyusidi). (pr-55n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA