logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 07 September 2005 WACANA
Line

Surat Pembaca

Jawaban Sony Ericsson

Menanggapi surat Sdr Nurmiyanto di Surat Pembaca 31 Agustus 2005 tentang HP Sony Ericsson T610, setelah dcek, ternyata kami tidak menemukan nama Nurmiyanto di data kami. Akibatnya kesulitan menghubungi Sdr karena alamatnya tidak lengkap.

Mohon Sdr segera hubungi kami di 024-8453535/8415124 untuk menyelesaikan masalah tersebut. Komitmen kami kepada pelanggan, tetap memberikan yang terbaik. Kami juga selalu meningkatkan kualitas pelayanan, dengan training dan workshop secara berkala.

Drs Herry Hernawan
Sony Ericsson Certified Service Centre Jl Pandanaran 62 Semarang

-Alamat penulis sesuai KTP jelas, Murmiyanto Jl Pandean Lamper IV Rt 8/Rw 6, Semarang-Red

***

Catatan dari Karnaval

Di beberapa daerah. karnaval merupakan satah satu agenda memperingati hari kemerdekaan RI. Merdeka? Apakah itu berarti setiap orang bisa bebas melakukan semua yang diinginkan karena setiap orang punya hak.

Soal hak. saya ingat pelajaran dari guru PPKn di SMP (dulu namanya masih PMP). Bahwa kebebasan melakukan hak selalu dibatasi oleh hak orang lain. Beliau memberi contoh hak mendengarkan musik dengan suara keras. dibatasi oleh hak orang lain yang ingin beristirahat tenang tanpa suara berisik atau sedang sakit gigi.

Kesirripulan dari pelajaran beliau yang saya tangkap, kebebasan tanpa batas tidak ada, yang ada kebebasan yang bertanggung jawab. Dalam gegap gempita tujuh belasan tahun ini, saya menyaksikan karnaval di Muntilan. Aneka kreativitas dipertontonkan dan sangat menghibur masyarakat, terutama kalangan bawah.

Drumband, kesenian tradisional, pawai anak-anak sekolah, sepeda hias, berbagai atraksi, menjadi tontonan menarik, Masyarakat tumpah-ruah memadati jalan. Semua terlihat indah, sebelum saya melihat serombongan beberapa puluh anak laki-laki bertelanjang dada.

Bukan karena tubuh mereka dikotori jelaga yang membuat hati saya tidak nyaman. Tetapi karena di tangan mereka ada penthungan dan kertas, juga sandal jepit bekas. Sambil berteriak dan memaki, mereka mengarak sambil memukuli seorang laki-laki dewasa yang memakai kalung ''koruptor''.

Ironisnya, si koruptor memakai baju korpri warna biru. Rombongan itu membawa papan bertuliskan: ''Bila Pengadilan Rakvat Bicara''. Hati saya bertanya. itukah arti merdeka?.Jika tontonan itu merupakan happening art di tengah demo mahasrswa, tentu tidak masalah.

Hal ini karena pelaku dan penonton merupakan pribadi dewasa, yang telah memahami bahasa simbol. Tetapi akan menjadi pemandangan yang membuat miris karena rnelibatkan anak-anak, dilakukan oleh anak, ditonton oleh anak juga. Dendam, kebencian, main hakim sendiri, perlukah ditanamkan di jiwa anak-anak yang pada dasarnya rnasih bersih?

Siti Jazimah
Jagang Lor Rt 3/Rw 2 Salam, Magelang

***

Sekadar Imbauan

Kepada Bapak/Ibu, melalui surat kabar kesayangan warga Jateng ini saya salah satu guru di Kota Semarang mengimbau hati-hati menaruh barang berharga, milik guru pribadi, siswa atau milik negara. Sebab akhir-akhir ini banyak sekolah jadi incaran pencuri yang kadang menyamar seperti orang tua siswa. Waspadalah

Budi Rekiyowati
Jl Bukit Agung Blok O/5 Sumurboto, Semarang

***

Susah, Cari Buku

Pemerintahan baru, berubah pula kebijakan soal pendidikan. Hal ini merepotkan tidak guru, orang tua apalagi siswa. Terkait dengan itu adalah masalah pengadaan buku pelajaran sebagai panduan pembelajaran kepada siswa.

Keresahan saya sebagai guru mata diklat Bahasa Inggris SMK (STM) yaitu susah mendapatkan buku panduan. Kalau ada buku panduan dengan basis kurikulum lama, sedangkan buku yang berbasis kompetensi sampai kini masih belum ada di pasaran.

Harap Pemerintah atau siapa saja yang mempunyai komitmen mencerdaskan anak bangsa, cepat tanggap agar tidak timbul kesan siswa SMK (STM) dalam pengadaan buku panduan khususnya untuk mata diklat Bahasa Inggris dianaktirikan. Bagaimana anak bangsa bisa cerdas, maju dan berkembang tanpa perhatian semua pihak.

Retno Wahyuningsih SPd
Tegalsari Tmr IV/32, Semarang

***

Kepada Telkomsel

Saya sekeluarga pengguna kartu simPATI Telkomsel. Senang rasanya memakai kartu tersebut, karena signyalnya lebih kuat, jaringan jarang terganggu, pelayanan ramah dan santun. Tapi sayang ketika pulang kampung di daerah saya tidak ada signyal sama sekali, karena jauh dari jangkauan BTS, di samping terhalang bukit.

Sebenarnya sudah cukup lama keluarga saya dan masyarakat sekitar berharap dibangun BTS, Karena di daerah saya dihuni ribuan warga dari beberapa dukuh di antaranya Dukuh Plosokerep, Klumpit, Telo, Ngandong, Pakem dan lainnya.

Harapan, bila Telkomsel akan survai ke tempat tersebut bisa menghubungi saya atau perangkat desa Bapak Sugiyanto Dukuh Plosokerep Desa Prawoto Sukolilo, Pati .

Sukiman
Desa Prawoto Rt 9/Rw 1 Sukolilo, Pati

***

Petugas Pos Tak Kenal Daerah Kerja

Tanggal 4 Juni 2005 saya mengirim surat untuk kelengkapan administrasi pernikahan anak di Desa Pete Kecamatan Tiga Raksa, Tangerang. Pernikahan dilaksanakan 12 Juni 2005. Surat kilat khusus saya kirim lewat kantor Pos Besar Semarang yang menuruit petugasnya akan sampai paling lambat seminggu.

Tapi sungguh mengecewakan dan membuat saya malu pada keluarga calon besan, karena sampai saya datang ke Tangerang tanggal 10 Juni 2005, surat belum sampai.

Untung resi pengiriman dan kopi surat yang saya kirimkan, saya bawa sehingga atas kebijaksanaan petugas KUA bisa dipakai untuk kelengkapan sementara.

Beruntung petugasnya masih famili besan saya, bagaimana kalau bukan, kemungkinan pernikahan anak saya akan dibatalkan. Tanggal16 Agustus 2005 pukul 12.00, amplop yang saya kirimkan dikembalikan dengan berbagai coretan/catatan. Yang saya tahu, tertulis alamat tidak dikenal.

Di amplop sudah tertera stempel pos Tiga Raksa bertanggal 12 Juni 2005. Padahal jarak dari kantor Kecamatan Tiga Raksa dengan Desa Pete tidak lebih 5 km dan mustahil kalau tidak dikenal. Lebih repot lagi kenapa surat kembali ke alamat saya lebih dari dua bulan sejak saya kirimkan.

Saryono Sudarman
Jl Lempongsari Timur V/50, Semarang

***

Terima Kasih pun Sulit Diucapkan

Tanggal 14 Agustus 2005 pukul 12.00 WIB saya mengantar anak ke Diklat Provinsi Jateng di Srondol Semarang. Ada beberapa temannya yang ikut bersama. Saat anak pulang dalam rangka liburan atau acara seremonial pasti saya sebagai orang tua mengantarnya.

Saya heran dan terkesima, ketika anak-anak yang ikut tersebut turun dari kendaraan, tidak ada satu pun yang mengucapkan terima kasih pada saya. Semua pada ngloyor pergi tanpa permisi. Saya sebetulnya tidak menuntut berlebihan, hanya ucapan terima kasih saja sudah senang.

Saya berpesan pada anak saya untuk menyampaikan pada teman-temannya, hargailah orang lain dan berterima kasihlah bila ditolong orang.

Agus Salim
Tambakaji Rt 1/Rw i Ngaliyan, Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA