logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 07 September 2005 WACANA
Line

tajuk rencana

Mengapa Masih Ragu Menaikkan Harga BBM

- Pemerintah menyiapkan dua skenario rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri. Seperti dikatakan Menteri Energi dan Sumber Daya Alam Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro, dua skenario tersebut pertama kenaikan secara bertahap dan kedua kenaikan secara langsung menuju harga pasar. Keduanya baik, karena yang tidak baik adalah menunda-nunda kenaikan harga. Itu akan makin membebani keuangan negara. Subsidi bisa menggelembung menjadi Rp 140 triliun, kalau harga minyak dunia masih bertengger pada posisi 70 dolar AS per barel. Rasanya tidak ada pilihan lain selain itu. Bahwa ada dampak negatif dan juga reaksi masyarakat, itu tak bisa dihindari. Diperlukan dukungan politik dan sosialisasi yang gencar sebagai pengimbang.

- Pemerintah tak perlu ragu menaikkan harga BBM pada situasi seperti sekarang, karena alasannya jelas. Justru pasar akan menjadi ikut ragu dan bertanya-tanya, kalau pemerintah tetap bertahan untuk tidak tergesa-gesa menaikkan. Lihatlah apa yang terjadi di negara-negara lain. Banyak yang sudah menaikkan harga jual bahan bakarnya. Negara maju seperti Jepang menaikkan harga bensin sekitar 2 yen menjadi 130 yen atau Rp 12.300 per liter. Negara sedang berkembang Bangladesh juga tak ragu menaikkan harga minyak tanah dan minyak diesel (solar) 15 persen. Demikian juga dengan negara-negara Eropa dan banyak negara lain di dunia. Begitulah mekanisme pasar yang tak lagi harus diintervensi oleh pemerintah, termasuk dengan subsidi.

- Di Indonesia, pemberian subsidi memiliki sejarah panjang terutama sejak masa Orde Baru. Pada waktu itu sangat beralasan dan perlu dilakukan pada saat keuangan negara memungkinkan. Kita masih lebih banyak mengekspor minyak daripada mengimpor. Kenaikan harga minyak dunia selalu disambut dengan suka-cita. Sekarang kondisi berbalik, karena impor lebih besar daripada ekspor sehingga kenaikan harga minyak dunia lebih membawa masalah katimbang berkah. Dalam situasi demikian, apakah mungkin kebijakan subsidi dipertahankan. Jelas anggaran akan jebol dan kita tak kuat lagi menanggungnya, karena sudah terlalu banyak dana disedot untuk membayar bunga utang luar negeri dan bunga obligasi di dalam negeri. Tinggal sedikit yang bisa dimanfaatkan untuk stimulan ekonomi.

- Sudah saatnya melihat permasalahan dengan lebih jernih dan rasional. Tak perlu dibebani trauma masa lalu yang seakan-akan ''mensakralkan'' kenaikan harga BBM. Apalagi pemberian subsidi sudah jelas-jelas salah sasaran, karena lebih banyak dinikmati kelompok masyarakat menengah ke atas. Tak perlu lagi dibebani oleh pertimbangan politik yang rumit. Semua pihak mestinya bisa melihat dalam konteks permasalahan yang lebih luas, lebih makro, dan menyangkut kepentingan bangsa. Justru langkah menghilangkan subsidi merupakan langkah penyelamatan yang paling masuk akal dan efektif. Di sisi lain ekonomi tanpa subsidi juga akan lebih sehat dan efisien. Biarkan pasar bekerja dengan mekanisme sendiri dan naik-turun harga adalah hal yang biasa.

- Apakah kemudian pemerintah tak memperhatikan nasib si kecil. Tak melihat fakta jutaan orang menganggur dan tak berpenghasilan. Tentu tidak demikian dan pemikiran seperti itulah yang perlu diluruskan. Jangan dipertentangkan seolah-olah kenaikan harga BBM akan menyengsarakan rakyat, sementara itu kalau harga BBM tetap itu sangat membantu mereka. Kalau kita hanya melihat sesaat atau berpandangan sempit, mungkin terlihat begitu. Namun kalau kita melihat persoalan secara lebih luas dan mendasar, maka mempertahankan subsidi justru menggali lubang kubur sendiri. Ibarat menyimpan bom waktu yang suatu ketika meledak dan menimbulkan penderitaan yang lebih parah. Apakah kita rela menjerumuskan rakyat kita sendiri.

- Bila mengikuti harga pasar, tanpa subsidi, harga premium sekitar Rp 5,700 per liter dan minyak tanah Rp 5.550, sedangkan minyak diesel/solar Rp 5.450. Pada awalnya tampak sangat mengejutkan dan dampaknya akan berat dirasakan. Namun lama-lama masyarakat akan terbiasa dan menyesuaikan diri. Apakah dengan melakukan efisiensi atau mencari alternatif penggunaan energi. Bisa pula dengan mengubah kebiasaan hidup dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan. Kalaupun dorongan inflasi tak terhindarkan, semua itu wajar asalkan tetap terkendali. Harga-harga akan naik, namun kenaikan gaji pasti akan mengiringi dan seterusnya. Pendek kata kita tak perlu berputar-putar dan membuat masalah menjadi rumit. Kita perlu menjadi bangsa yang tegar dan rasional menghadapi kenyataan.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA