| Rabu, 07 September 2005 | SEMARANG |
Minyak Tanah Langka, Home Industry TergangguUNGARAN - Para pelaku usaha home industri kecil di Ungaran yang menggunakan bahan bakar minyak tanah dalam proses produksinya, belakangan ini mengeluhkan langkanya BBM tersebut di pasaran. Hal itu dirasakan pengusaha kecil yang memproduksi rempeyek kacang hijau, kacang tanah, rempeyek bayem, dan keripik tempe di Karangbolo Desa Lerep, Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang. Dengan adanya kelangkaan minyak tanah, produksi mereka terganggu. ''Karena minyak tanah langka, saya merasa kesulitan untuk menggoreng tumpi dalam jumlah besar,'' keluh Muhammad Mutaalim yang akrab disapa Alim (35), pembuat tumpi kacang dan keripik tempe di Karangbolo Lerep. Karena kelangkaan minyak itu, Alim rela membeli dengan harga berapa saja. Menurut dia, bila memang terpaksa harga minyak akan dinaikkan, hal itu tidak menjadi masalah. Dalam sehari, Alim menghabiskan 10 liter hingga 14 liter minyak tanah. Kebutuhan minyak tanah dalam sehari itu kadang sulit terpenuhi. ''Sebab dari agen, kami membeli dua kali seminggu, sehingga perlu menyetok minyak tanah. Sekarang, pembelian sudah dibatasi dari 40 liter menjadi 20 liter karena banyaknya pembeli,'' ujarnya. Dia bisa menghasilkan 300 - 400 bungkus keripik, dengan kebutuhan 10 liter-14 liter. Beralih Gas Elpiji Dengan adanya kelangkaan tersebut, sempat muncul keinginan Alim untuk menggunakan gas elpiji. ''Bila selisihnya hanya Rp 10.000-Rp 20.000 dari penggunaan minyak tanah, lebih baik menggunakan gas. Selain cepat juga tidak bising,'' kata dia. Alim mengaku telah dua tahun menggunakan minyak tanah. Sebelumnya, dia dibantu istrinya menggunakan bahan bakar kayu. Omzet Alim dalam sebulan mencapai Rp 7 juta. ''Biaya produksi sekitar Rp 5 juta dan pendapatan Rp 2 juta per bulan,'' ujarnya. Hal sama dialami Sumiah atau Bu Mi'ah (50), pengusaha tumpi dan keripik tempe di Karangbolo. Alim dan Sumiah merupakan dua dari belasan pelaku usaha di desa tersebut yang menggunakan minyak tanah. (H14-51d) |