| Rabu, 07 September 2005 | SEMARANG |
"Mrema" Premium, Sehari Untung Rp 100.000KELANGKAAN BBM, terutama jenis premium di sejumlah SPBU di Kabupaten Demak yang terjadi belakangan ini, dimanfaatkan masyarakat untuk mrema premium. Mereka menjual premium dalam botol bekas air mineral yang dipajang di tepi jalan raya. Pedagang ini mendapat keuntungan cukup besar, seperti pengakuan Sunarti (32) yang mrema di tepi Jalan Bolo, Demak Kota. Sebelumnya, dia hanyalah ibu rumah tangga yang kesehariannya mengurus kedua anaknya dan mengerjakan pekerjaan rumah. Namun ketika beberapa tetangga berjualan premium eceran, dia pun ikut berjualan. Dengan hanya memakai kursi kayu untuk memajangkan premium dalam puluhan botol bekas air mineral ukuran 500 ml, dia mengaku setiap harinya dapat meraup keuntungan Rp 50.000. Jika terjual habis, keuntungannya bisa sampai Rp 100.000. Untuk mendapat keuntungan itu, dirinya hanya bermodal Rp 150.000. ''Keuntungannya memang lumayan. Sebab, harga jual per liter lebih mahal daripada harga di SPBU. Rata-rata saya menjual Rp 3.500 per liter,'' ujarnya. Penjual premium di sekitar jalan Semarang-Kudus, tepatnya di Desa Trengguli, Wonosalam memiliki cara tersendiri untuk mendapat keuntungan. Mereka menjual Rp 3.000 per liter, namun mengurangi takarannya. Dalam botol bekas air mineral ukuran 500 ml itu, tidak diisi penuh. Kendati demikian, dia menjualnya dengan harga setengah liter. ''Setiap dua botol kami menjual Rp 3.000, tetapi kalau hanya setengah liter atau satu botol Rp 2.000,'' tutur seorang pedagang. Para pengecer BBM di sepanjang jalan tersebut menjajakan premium botolnya di dekat SPBU Trengguli. Ada lebih dari delapan penjual bahan bakar minyak eceran di tempat itu. Kebanyakan dari mereka adalah pedagang baru dan sebagian lainnya sebatas sambilan selain menjual jajanan. Ada di antara mereka yang sambil jual buah-buahan juga menjual premium botolan. Seorang pedagang yang tepat berada di tepi SPBU Trengguli, Dwi (26) mengatakan, sebelumnya dia berprofesi sebagai pekerja serabutan. Setelah beberapa kali terjadi kelangkaan BBM, dia bersama istrinya mencoba berjualan premium. Ternyata hasilnya cukup lumayan, dalam waktu beberapa hari mampu meraup keuntungan seperti bekerja selama satu bulan sebagai kuli serabutan. ''Namun saya rasa ini tidak lama. Kalau pasokan BBM untuk SPBU datang, kami langsung membawa pulang dagangan ini. Sebab, pasti tidak laku. Saya memang diuntungkan oleh keterlambatan pasokan BBM ,'' katanya. (Hasan Hamid-51d) |