logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 07 September 2005 SEMARANG
Line

Menulis di Luar Kelas, Siapa Takut ?

Oleh: Supriyono SPd

PELAJARAN menulis? Wah sulit, Pak! Bosan, Pak! Demikian kira-kira, reaksi sebagian besar siswa ketika guru bahasa Indonesia berdiri di depan kelas untuk menyampaikan rencana pembelajaran hari itu. Memang, jika dibandingkan dengan keterampilan berbahasa yang lain (berbicara, menyimak, dan membaca), menulis masih dianggap ''momok'' dalam pelajaran bahasa Indonesia.

Tak heran, bila proses kegiatan belajar mengajar (KBM) menjadi kering dan monoton, karena kegiatan menulis yang pada hakikatnya merupakan kegiatan kreatif dan produktif berubah menjadi sebaliknya. Akibatnya, kemampuan menulis siswa tidak berkembang seperti yang diharapkan.

Pertanyaannya, bagaimana mengupayakan model pembelajaran menulis yang menarik, hidup, dan kreatif, sehingga siswa mampu mengekspresikan berbagai pikiran, gagasan, pendapat, dan perasaan dalam berbagai ragam tulisan (Kurikulum 2004: 21).

Dalam konteks itu, pembelajaran menulis di luar kelas barangkali dapat dijadikan alternatif mengatasi hambatan pelajaran itu. Tentu saja, guru telah mempersiapkan siswa dengan skenario pembelajarannya. Jangan sampai pembelajaran di luar kelas itu berubah menjadi KBM yang kacau dan malah mengganggu pelajaran kelas lain. Berikut ini alternatif skenario pembelajarannya. Pertama, guru menyampaikan bahwa pembelajaran menulis kali ini akan dilakukan di luar kelas. Lalu ditentukan topik tulisan, misalnya mendeskripsikan lingkungan di sekitar kelas.

Kedua, guru menjelaskan langkah menulis deskripsi. Tujuannya agar siswa benar-benar memiliki ''modal'' menulis di luar kelas. Ketiga, setelah siswa paham, guru membawa siswanya ke luar.

Keempat, selama siswa menulis di luar kelas, guru harus aktif memantau aktivitas siswanya. Bila diperlukan, guru bisa memberi bantuan kepada siswa yang menemui kesulitan. Dalam tahap itu, guru benar-benar membiarkan siswa untuk bebas menulis apa saja yang dapat dideskripsikannya.

Dalam tataran itu, peran guru sebagai ''sutradara kelas'' agaknya telah ditampakkan. Selanjutnya, penguatan hasil pelajaran menulis hari itu, guru dapat memberikan tugas sejenis. Misalnya, siswa diminta mendeskripsikan lingkungan di sekitar rumahnya. Hal itu untuk mengevaluasi hasil belajar mereka, bila tanpa didampingi guru dalam proses menulis. Bukankah kurikulum berbasis kompetensi (KBK) mengedepankan pendekatan proses. Mereka tidak lagi menganggap menulis sebagai pelajaran membosankan dan monoton. Bila kondisi demikian, tujuan pembelajaran bahasa Indonesia agar siswa mampu memiliki keterampilan berbahasa yang sesungguhnya, baik lisan maupun tulisan, benar-benar dapat terwujud seperti yang diharapkan. Nah, selamat mencoba! (56a)

- Penulis adalah guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 17 Semarang.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA