| Rabu, 07 September 2005 | SEMARANG |
Serba Tenun dan Eceng GondokTENUN kain adalah salah satu kekayaan budaya yang dimiliki masyarakat Indonesia. Dari daerah mana pun tenun tersebut berasal, kualitas, keindahan dan kehalusannya, tidak perlu disangsikan lagi. Bagaimana bila tenun tersebut dipadu dengan bahan dari eceng gondok, tanaman yang biasanya banyak tumbuh di rawa-rawa ini. Jawabannya dapat ditemukan di stan Awa Bali Craft, di Balai Merapi Jateng Expo 2005. Di stan ini, keindahan perpaduan tersebut hadir lewat berbagai produk, seperti gorden, sarung bantal, taplak meja, dan kotak tisu. "Semua produk itu menggunakan tenun ATBM (alat tenun bukan mesin-Red) yang dipadukan dengan eceng gondok," ujar Romli, karyawan stan. Walaupun dari segi kuantitas belum terlalu banyak, namun dari segi kualitas, produk-produk tersebut sudah mampu berbicara di tingkat internasional dengan diekspor ke berbagai negara antara lain Italia, Filipina, dan Thailand. "Dalam satu bulan yang diekspor dapat mencapai satu kontainer berukuran 20 feet," tambahnya. Bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat produk-produk di atas adalah benang nilon, eceng gondok, dan akar wangi. Eceng gondok biasanya diperoleh dari Demak dan Tuntang (Bawen), dengan harga Rp 20.000/kg, sedangkan akar wangi dibeli dari Pekalongan dan Garut seharga Rp 25.000/kg. Bagaimana proses pengerjaannya? Romli menjawab, "Eceng gondok dikeringkan terlebih dulu. Selanjutnya, diulir seperti tambang (dibuat kecil-kecil) hingga dapat dianyam ke rotan/kayu. Setelah itu, baru dilakukan finishing berupa pemberian warna". (Hernandhono-18d) |