| Rabu, 07 September 2005 | SEMARANG |
Nelayan Tambaklorok Pilih TiduranTAK seperti biasanya, beberapa nelayan Tambaklorok, Semarang, Selasa (6/9) siang terlihat bercengkerama di serambi rumah seorang warga. Tak jelas apa yang diperbincangkan. Beberapa di antara mereka, ada yang sedang melakukan kiteng atau menjahit jala. Ada pula yang tiduran di atas bangku panjang yang terbuat dari bambu. Dari balik cerita mereka, terbersit keresahan yang tiada tara. Rata-rata raut muka mereka terlihat gusar, saat disinggung tentang kelangkaan minyak tanah yang sejak beberapa bulan lalu mendera wilayah tersebut. Darijan, seorang nelayan menuturkan, sudah beberapa hari ini kapal miliknya terpaksa tak bisa melaut. Pasalnya, warga Gang Melati RT 09 RW XV Tambaklorok, Kelurahan Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utara, itu harus mengirit bahan baku guna kelangsungan kerja pada esok harinya. Maklum, kapal satu-satunya yang dimilikinya biasa digunakan melaut mulai pukul 05.30 sampai 15.00. Jika hasil tangkapan ramai, tak jarang dia melaut lebih lama daripada biasa. Mengoplos "Tak jarang kami harus mengoplos minyak tanah dengan oli bekas. Semua itu, karena harga minyak tanah mahal, ditambah lagi adanya kelangkaan," tukas Darijan. Di saat terjadi kelangkaan seperti sekarang, sebagian besar nelayan Tambaklorok mengurangi kegiatan melaut. Sebagian besar dari mereka memilih tidur di rumah daripada pergi melaut. Hal itu dilakukan karena minimnya persedian minyak tanah yang digunakan untuk bahan bakar kapal. Menurut Makmun (48), dirinya mendapat jatah pembelian minyak tanah 10 liter untuk tiga hari. Padahal, dalam sehari melaut biasanya bisa menghabiskan 15 liter. Tak jarang dia terpaksa berdiam diri di rumah, jika tak ada persediaan minyak. Para nelayan mengaku akan menangkap ikan, jika mendapat pasokan minyak tanah dari warung terdekat. Padahal, warung yang diandalkan nelayan Tambaklorok di Gang Melati itu pun dijatah pengirimannya. Pemilik warung, Bonisih mengatakan, dirinya saat ini hanya dijatah satu drum untuk persediaan selama tiga minggu. Sementara itu, minyak tanah tersebut harus dibagi dengan 26 nelayan di wilayah tersebut. Jelas saja, pasokan itu tak mampu mencukupi kebutuhan nelayan. Di wilayah itu, harga per liter minyak tanah Rp 1.500. Berat beban atas kelangkaan minyak tanah, juga dirasakan Kholipah (28). Bersama beberapa istri nelayan lainnya, dia harus berjalan puluhan kilometer hanya untuk mendapatkan beberapa liter minyak tanah. "Kalau tidak dapat, gimana suami saya bisa melaut? Padahal, hasil dari melaut itu satu-satunya gantungan hidup keluarga kami," ujar istri Supandi itu. Para nelayan berharap, dalam waktu dekat ini pasokan minyak tanah tidak lagi dibatasi. Mereka juga berharap kelangkaan tak berlangsung lama, supaya kehidupan keluarga mereka bisa berjalan seperti sedia kala. Semoga!(Fahmi Z Mardizansyah-37a) |