| Rabu, 07 September 2005 | SEMARANG |
Sudah Minta Ampun, Novi Tetap DibunuhRINTIHAN tangis dan kata-kata meminta ampun yang terucap dari mulut seorang gadis tanpa daya, rupanya tak cukup membuat luluh hati tiga pemuda berandalan. Slamet alias Gendon (18), adiknya, San (13), dan Nan (13), tetap menghardik, membekap, mencabuli, dan akhirnya mencekik Novi Dwi Kurniasih (26) hingga tewas. Guru SMK yang sedang berpuasa itu meninggal dalam keadaan telentang di dalam angkota. Mayat korban yang nyaris tanpa busana, dibuang begitu saja di sebuah parit kering, di tengah kebun kosong yang jauh dari keramaian. Handphone-nya dirampas, dan uang diambil tanpa sisa. Adegan-adegan nggegirisi itu tergambar dalam reka ulang pembunuhan Novi, warga Jl Karanganyar Gunung 419-C, Candisari, kemarin. Rekonstruksi oleh penyidik Unit Bunuh Culik Polwiltabes yang dimaksudkan untuk melengkapi berita acara pemeriksaan tersangka itu, digelar di beberapa tempat secara berurutan. Adegan di tiap lokasi berlangsung sangat cepat, bahkan ada yang hanya berlangsung satu menit, tanpa mengurangi tujuan reka ulang. Hal ini dilakukan terutama atas dasar pertimbangan keamanan. Banyak warga yang berkerumun ingin melihat jalannya rekonstruksi. Selain itu juga untuk mengurangi kemacetan lalu lintas, karena semua adegan dilakukan di tepi jalan. Meski demikian, ketersendatan arus kendaraan tetap tak terhindarkan, sebab warga dan pemakai jalan amat berminat menonton adegan rekonstruksi. Adegan pertama di Jl MH Thamrin (samping Pertamina), menggambarkan Novi saat mencegat angkota yang dikemudikan Slamet (sudah ditembak mati). Korban diperankan secara bergantian oleh Ian, staf administrasi Polwiltabes dan Briptu Dwi Susanto, anggota Unit Bunuh Culik. Novi adalah satu-satunya penumpang. Sesampai di Jl DI Panjaitan (Kampung Kali), Slamet yang diperankan Briptu Murdiyanto menyerahkan kemudi ke San. Di Jl Pahlawan (sebelah Ramayana), Slamet pindah ke belakang. Ia bersama Nan mulai mengamati Novi dan memikirkan cara merampok korban. Angkot terus melaju ke Jl Sriwijaya. Sampai di depan Wonderia, Slamet menutup pintu lalu membekap mulut Novi. Penyidikan Dipercepat Wanita itu berontak dan mulai menangis. San terus membawa angkot memasuki Jl Singosari dan berhenti di tepi Jl Atmodirono. Di situlah, dia dinodai bergantian oleh Slamet dan Nan. ''Slamet menyuruh saya memperkosa korban. Saya nggak mau, Slamet lalu marah dan menampar saya,'' ujar Nan yang akhirnya menuruti perintah Slamet. Nan juga disuruh mencekik Novi. Di tempat itu pula, Slamet merampas dompet dan handphone milik korban. Menurut Nan, sepanjang perjalanan, Novi terus menangis dan mengiba. "Dia bilang, 'ampun mas, ampun' sambil menangis,'' tutur Nan yang sehari-hari mengamen di perempatan Metro, Peterongan. Sementara itu, San juga diperintah Slamet mencabuli Novi, namun dia tidak mau. Kasat Reskrim Polwiltabes AKBP Drs Wagisan didampingi Kanit Bunuh Culik AKP Sunardi menjelaskan, penyidikan terhadap kedua tersangka yang masih di bawah umur itu dipercepat. Sesuai dengan aturan, dalam waktu 20 hari, berita acara pemeriksaan sudah harus diserahkan ke kejaksaan. Konsekuensinya, reka ulang pun digelar lebih cepat dibandingkan dengan kasus pembunuhan yang dilakukan orang dewasa. (P Heru Subono-37d) |