| Rabu, 07 September 2005 | INTERNASIONAL |
Singapura-Malaysia Bahas Sengketa JembatanKUALA LUMPUR - Singapura dan Malaysia memulai perundingan di Kuala Lumpur Selasa kemarin untuk membahas rencana pembangunan jembatan lintas-perbatasan. Pembangunan jembatan itu oleh Malaysia menimbulkan protes dari negara tetangganya. Hubungan diplomatik antara kedua negara mulai menghangat sejak kepemimpinan Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi menggantikan Mahathir Mohamad pada 2003. Hubungan yang mulai membaik itu membangkitkan kembali upaya-upaya untuk menyelesaikan beberapa isu sengketa, antara lain pembangunan jembatan di perbatasan. Delegasi dari kedua negara mulai berunding Selasa kemarin, demikian dikatakan Menteri Luar Negeri Singapura George Yeo. "Tim dari Singapura datang untuk berbicara dengan mitra Malaysia mengenai masalah ini," kata Yeo di hadapan para pengusaha. "Namun sudah tentu, perundingan ini harus sama-sama memberi manfaat kepada kedua belah pihak," kata dia. "Kami akan membahas kebutuhan dan hambatan kedua belah pihak." Perekonomian Terancam Singapura memisahkan diri dari Malaysia pada 1965. Meski kedua negara menjalin hubungan ekonomi yang erat, kadang kala hubungan itu mengalami pasang-surut. Eks perdana menteri Mahathir pada 2003 berencana membangun jembatan itu untuk mengganti separuh jembatan sepanjang 500 meter, karena Singapura menolak bergabung dalam proyek bersama untuk mengganti seluruh jembatan. Menurut Malaysia, jembatan itu akan memperlancar arus lalu lintas dan mengurangi kemacetan di wilayahnya. Jembatan itu disebut "jembatan lengkung" karena didesain melengkung. Dengan desain seperti itu, kapal-kapal akan bisa lewat di bawahnya dan kualitas air membaik dengan terbukanya selat. Singapura menentang rencana itu atas dasar pertimbangan biaya. Singapura juga keberatan dengan dampak lingkungan yang ditimbulkan jembatan lengkung itu. Jembatan itu akan menyambung separuhnya ke dalam wilayah negeri itu. Di Singapura, para analis mengatakan jembatan itu bisa mengancam perekonomian negara pulau itu. "Pelabuhan Singapura sudah harus bersaing ketat dengan Pelabuhan Tanjung Pelepas," kata Ho Khai Leong, peneliti pada Institute of Southeast Asian Studies Singapura. "Jika Malaysia tetap membangun jembatan itu, maka pelabuhan Singapura akan mengalami kerugian lebih besar lagi," tambahnya. Pada 2002, Otoritas Pelabuhan Singapura kehilangan dua klien utama mereka, yakni Evergreen Marine dan Maersk Sealand, perusahaan kontainer terbesar di dunia. Kedua perusahaan itu beralih menggunakan jasa Pelabuhan Tanjung Pelepas.(rtr-gn-25) |