| Rabu, 07 September 2005 | INTERNASIONAL |
Arroyo Lolos dari ImpeachmentMANILA - Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo lolos dari impeachment. Kelompok oposisi gagal mengumpulkan tanda tangan sepertiga anggota Majelis Rendah (DPR) untuk mendukung mosi impeachment mereka, Selasa kemarin. Karena itu, Kongres menolak impeachment. Kegagalan impeachment ini langsung disambut dengan demonstrasi. Mantan presiden Corazon Aquino memimpin aksi massa menuntut Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo mundur. Ribuan orang ambil bagian dalam unjuk rasa itu. Ribuan orang bergerak menuju gedung Kongres, sambil meneriakkan yel-yel "Gloria mundur!". Cory (panggilan akrab Aquino) baru kali pertama itu turun ke jalan sejak aksi people power 2001. Pada 2001, Cory mendukung gerakan massa yang menggulingkan Joseph Estrada dan membuat Arroyo naik jabatan dari wapres menjadi presiden. Demonstrasi kemarin juga digerakkan oleh Susan Roces, janda mendiang Fernando Poe Jr (saingan kuat Arroyo dalam pemilihan presiden Mei 2004). Polisi memperkirakan unjuk rasa itu melibatkan 6.000 sampai 7.000 orang. Dominasi kubu pro-Arroyo di Kongres membuat oposisi tak berkutik. Dalam pembahasan impeachment di Komisi Hukum Majelis Rendah, oposisi melakukan walk out karena mereka pasti kalah jika keputusan diambil secara voting. Namun kubu Arroyo mengatakan kegagalan impeachment itu merupakan kemenangan rakyat. "Rakyat Filipina tengah menikmati hari kemenangan besar dalam sejarah. Mereka tetap menginginkan presidennya memegang jabatan melalui voting yang didasarkan pada demokrasi konstitusional. Mereka tidak ingin presidennya mundur," kata Arroyo. Membohongi Rakyat Namun banyak pihak menuding Arroyo mengerahkan seluruh mesin politiknya untuk menghalang-halangi penyidikan tentang kasus korupsi dan skandal rekayasa penghitungan suara pilpres 2004 yang melibatkan dirinya. Para demonstran mengacungkan spanduk besar bertuliskan "Singkirkan Gloria". Sebagian dari mereka membakar patung Arroyo yang terbuat dari bubur kertas. Sejauh ini Gereja Katolik tidak campur tangan dalam demonstrasi-demonstrasi yang digelar kelompok oposisi. Unjuk rasa oposisi juga gagal menggalang dukungan kelas menengah Filipina. Padahal, lapisan masyarakat inilah yang sangat menentukan dalam people power yang menjatuhkan diktator Ferdinand Marcos pada 1986 dan Estrada pada 2001. "Anggota Kongres telah membohongi rakyat," kata Tonette Reyes (35), wanita pengusaha yang ambil bagian dalam demonstrasi itu. "Sejak awal, kami sudah tahu bahwa mereka tidak punya iktikad baik." Aquino dan Roces diizinkan melewati barikade polisi dan masuk ke gedung Kongres bersama beberapa perwakilan demonstran. "Saya melakukan aksi ini untuk memperjuangkan kebenaran," kata Roces. Dia pertama kali ikut demonstrasi sejak suaminya meninggal karena stroke pada Desember 2004. Hanya 51 anggota DPR mendukung impeachment terhadap Arroyo dalam suatu sidang paripurna yang digelar sejak Senin sampai Selasa kemarin. Padahal, mereka membutuhkan 79 tanda tangan untuk bisa membawa dakwaan pelengseran Arroyo itu ke Senat. Kubu oposisi menuduh Arroyo telah menyuap banyak wakil rakyat untuk menggagalkan upaya impeachment itu. Oposisi akan meminta Mahkamah Agung menyelidiki proses impeachment yang berlangsung di Kongres.(rtr-ben-25) |