| Rabu, 07 September 2005 | BUDAYA |
Panggung Realisme di Museum H WidayatSENI RUPA bercitra realis belumlah mati! Tak percaya? Datang dan lihatlah ke pameran seni rupa bertajuk "The Realistage" yang akan digelar di Museum H Widayat Jl Letnan Tukiyat 32, Kota Mungkid, Magelang, mulai Sabtu (10/9) mendatang. Pameran menampilkan 44 karya dua dimensi yang digarap 26 perupa dari Bandung, Bali, Batu, Malang, Jakarta, Padang, Yogyakarta, Lampung, Surabaya, dan Semarang. "Sejatinya, 'The Realistage' merupakan pameran berantai. Pameran di Museum H Widayat ini merupakan yang terakhir. Sebelumnya, pameran serupa digelar di Galeri Goong Bandung dan Galeri Semar Malang," ujar C Retno Yuningsih dari Matramedia Art Event Organizer yang menjadi penyelenggara pameran itu, kemarin. Dari dua penyelenggaraan sebelumnya, kata Cucu, panggilan akrab C Retno Yuningsih, respons penikmat seni rupa sangat baik. Baik apresiator di Bandung maupun Malang, cukup familiar dengan karya bercitra realistik. "Mungkin karena karya bercitra realistik lebih gampang dipahami," imbuhnya. Pameran "The Realistage" menyertakan karya-karya perupa yang cukup populer semacam Agus Suwage, Chusin Setiadikara, Koeboe Sarawan, Paul Hendro, hingga Zirwen Hazry. Dari Semarang, tampil Dul Ahmad Besari, Harmanto, dan Putut Wahyu Widodo. Putut, yang juga Koordinator Tata Wajah Harian Suara Merdeka, menghadirkan dua karya berjudul "Om'nipresent" dan "Between". Tiga Subtema Kurator pameran Mamannoor menjelaskan, karya-karya "The Realistage" berhasil dijaring dari proses riset. Dari karya-karya yang dikirim para perupa, dia memilih tiga subtema yang mendukung dasar pikiran filosofisnya. Pertama, The Personal-Realistage yang tampak pada karya-karya Agus Suwage, Dul Akhmad Besari, Harmanto, Yogi Setiawan, Putut Wahyu Widodo, dan I Wayan Sudarna Putra. Kedua, The Social-Realistage yang tampak pada karya-karya AS Kurnia, Astari Rasyid, Bagas Karunia Putra, Chusin Setiadikara, Dadang Rukmana, Zirwen Hazry, Koeboe Sarawan, Subardjo, Djoeari Subardja, Dadan Gandara, Wahyu Srikaryadi, Hadi Soesanto, dan Badri. Selain itu, ada The Symbolic-Realistage yang cenderung menampilkan objek sebagai the real yang berperan untuk menuturkan pikiran secara simbolik dan metaforik. Hal itu terlihat pada karya-karya Ari Susiwa Manangisi, Agung "Tato" Suryanto, Andri Suhelmi, Ichlas Taufik, Rosid, Paul Hendro, dan Tatang BSP. "Setiap perupa menampilkan rata-rata dua karya, hasil seleksi beberapa karya yang mereka kirim. Dari latar para perupa, terlihat bahwa kekuatan seni rupa mulai merata, tidak memusat di satu atau dua kota saja," kata Mamannoor. (Achyar MP-45) |