logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 06 September 2005 PANTURA
Line

Tungku Api Atasi Kelangkaan Minyak

HAMPIR satu bulan ini, masyarakat di Kota Pekalongan kebingungan mencari minyak tanah. Meski sudah mencari di beberapa tempat, tetap saja tidak mendapatkan barang tersebut.

Menyikapi hal itu, Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Teposliro di Kelurahan Sokorejo, Kecamatan Pekalongan Timur membuat tungku api atau kompor tradisional dari batu bata, tanah liat, dan sekam. Sementara itu, grajen atau serbuk kayu untuk bahan bakarnya.

''Kompor tradisional sebenarnya sudah lama digunakan. Mengingat minyak tanah langka lalu kami menggunakan alat ini kembali agar masyarakat, khususnya kaum ibu, tidak kebingungan saat mengerjakan pekerjaannya di dapur,'' papar Ketua PSM Teposliro, Antarikso, kemarin.

Menurut keterangan dia, selain mengatasi dampak kelangkaan minyak, tungku api itu juga efektif untuk memasak. Misalnya alat ini bisa mematangkan setengah kuintal kedelai dalam waktu lebih kurang empat jam. Padahal, ujar dia, jika dibandingkan dengan beras, biji kedelai lebih keras sehingga waktu untuk memasak beras akan lebih singkat.

Tidak Sulit

Dia mengemukakan, cara membuat tungku api tidak sulit. Batu bata ditata hingga membentuk segi empat atau sesuai dengan selera pembuat. Selanjutnya, tumpukan batu bata itu ditutup dengan tanah liat yang sebelumnya sudah dicampur dengan sekam atau sisa panen padi kemudian dipadatkan.

Sebelumnya, lanjut Antarikso, di sela-sela tumpukan batu bata diberi bambu untuk membuat cerobong agar api bisa keluar dari alat tersebut.

''Setelah alat itu kering, masyarakat bisa menggunakannya dengan bantuan grajen atau serbuk kayu yang dipakai sebagai bahan bakar,'' papar dia sambil menyebutkan, dalam hal ini minyak tanah hanya untuk membantu menghidupkan api.

Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Pekalongan Ny Balgis Basyir Ahmad didampingi Kakankessos Totok Parwoto SSos, saat meninjau sosialisasi penggunaan tungku api tersebut menyatakan dirinya sangat bangga atas kreativitas PSM Teposliro. Dia memberikan apresiasi yang tinggi karena dalam situasi masyarakat yang kebingungan mencari minyak tanah ternyata masih ada warga yang berusaha memecahkan permasalahan tersebut.

Untuk itu, dia akan memanggil PSM Teposliro untuk menyosialisasikan penggunakan kompor tradisional itu.

''Kebetulan dua hari lagi kami akan mengadakan pertemuan dengan ibu-ibu PKK se-Kota Pekalongan sehingga pada kesempatan itu saya mau menyosialisasikan alat tersebut,'' ujar dia.

Istri Wali Kota Pekalongan itu menandaskan, seandainya kaum ibu sudah mengetahui fungsi dari alat tersebut, diharapkan mereka tidak lagi repot-repot mencari minyak tanah. (Moch Achid Nugroho-52j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA