logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 06 September 2005 PANTURA
Line

Banyak Ibu Rumah Tangga Beralih ke Kayu

TEGAL - Banyak ibu rumah tangga di beberapa kelurahan kota Tegal belakangan ini menggunakan kayu untuk memasak. Pasalnya, jatah minyak tanah untuk mereka - yang sudah dibatasi menyusul kelangkaan sebulan terakhir - makin dikurangi.

Nyonya Parni (54), warga Kelurahan Panggung, Kecamatan Tegal Timur, mengaku dia kali terakhir mendapat jatah lima liter untuk satu pekan. Minyak tanah itu diperolehnya dari kios Darkim.

''Biasanya setiap hari Rabu minyak tanah datang,'' kata dia. Jatah lima liter satu pekan itu dia rasakan sangat kurang, mengingat anggota keluarganya ada enam orang.

Sialnya lagi, dalam seminggu terakhir jatah minyak untuknya dikurangi lagi. Sekarang dia hanya mendapat tiga liter untuk seminggu. ''Tiga liter cuma cukup untuk tiga hari,'' keluhnya.

Karena kebutuhan memasak tidak dapat ditunda, dia pun mencari akal dan akhirnya memutuskan untuk menggunakan bahan bakar kayu.

Hal sama dikemukakan Jasmiah (40), warga Kelurahah Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat. Menurutnya, dia kini hanya mendapat jatah dua liter dari kios Abdurozak. Harganya Rp 1.200 per liter.

Sebelumnya dia juga mendapat jatah lima liter. Untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak tanah, dia terpaksa nempil ke warung tetangga dengan harga Rp 2.000 seliter.

Nyonya Rahmat di Kelurahan Debong Kidul, Kecamatan Tegal Selatan, mengatakan sekarang dia paling banyak hanya mendapatkan jatah minyak tanah tiga liter per pekan.''Itu saja kalau tidak kehabisan,'' katanya. Seperti Nyonya Parni, dia juga mulai beralih ke bahan bakar kayu untuk keperluan memasak.

Harga Bervariasi

Oji (49), seorang penjual nasi goreng di Kelurahan Randugunting, mengatakan untuk mendapatkan minyak tanah dia terpaksa ''bergerilya'' ke sejumlah warung di daerahnya.

''Harganya gak kira-kira, sampai Rp 2.000 per liter,'' kata dia. Namun karena sangat butuh, dia terpaksa membayarnya.

Sementara itu Riyanto (36), salah seorang pengecer minyak tanah di Kelurahan Debong Tengah, mengatakan dia mendapat jatah dari Trismono - seorang penyalur - sebanyak enam jeriken (30 liter) untuk dua minggu.

Biasanya stok minyak tanah diturunkan pada hari Rabu. pada awal-awal terjadi kelangkaan, dia menjatah tiap pelanggan sebanyak lima liter untuk satu pekan.

Namun karena pembeli membludak, dia kini mengurangi jatah tiap pembeli menjadi tiga liter. Itu pun hanya untuk pembeli dari RT setempat.

''Kalau yang beli dari luar RT, mereka saya suruh antre dulu untuk menunggu jatah untuk warga sekitar tercukupi,'' kata dia. Mengenai harga, Riyanto mengaku bervariasi. Jika terjadi lonjakan pembelian secara tajam, dia menaikkan harga jadi Rp 1.300 per liter. ''Kalau yang antre biasa saja, harga Rp 1.200 per liter,'' imbuhnya.(H16-58)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA